
“Syarat?” tanya Nisa lagi.
“Iya, syaratnya gampang. kau dan aku akan menikah!” ujar Erwin penuh penekanan.
Nisa tampak berpikir.
“Apa yang kau pikirkan? Cepat katakan! Kau mau menikah denganku?” tanya Erwin menatap Nisa dengan serius.
Nisa mengangguk pelan, ia menunduk agar Erwin tidak melihat wajahnya yang merah merona karena malu.
Erwin tersenyum.
Erwin mendekatinya agar lebih leluasa melihat wajah Nisa yang malu-malu. Erwin menarik pelan dagunya agar Nisa menatap dirinya.
“Sekarang!” ucap Erwin dengan penekanan.
Nisa membulatkan matanya, terkejut dengan pernyataan Erwin yang mengajaknya nikah hari itu juga.
“Hah... apa, sekarang?”
“Kau gila! Kenapa harus sekarang?”
“Berarti kau tidak mau menikah denganku?”
“Bukan begitu. Aku ingin menikah, tapi jangan sekarang juga!” protes Nisa.
“Intinya kau mau atau tidak?” tanya Erwin menatapnya dingin.
“Iya, tidak. Eh...mau. Astaga!”
Nisa seperti kebingungan.
“Kau ini bicara apa? Aku tidak mengerti. Iya atau tidak?” tanya Erwin lagi.
“Erwin, aku mau menikah denganmu. Tapi, tidak sekarang juga. Kita harus mempersiapkan semuanya,” ujar Nisa menjelaskan.
“Aku hanya minta satu jawaban dari mu. Iya atau tidak?”
Nisa membuang napas kasar, ia sudah pasrah dengan keadaannya sekarang.
“Iya,” sahutnya pelan.
Bibir tersenyum mengambang, ia langsung memeluk Nisa.
“Terimakasih sayang,” bisiknya.
Ia melepaskan pelukannya.
“Tunggu disini.”
“Mau kemana?” tanya Nisa melihat Erwin yang hendak keluar.
“Mau menikah. Kau diam dan duduk manis saja,” ujar Erwin dan berlalu meninggalkan Nisa sendiri di sofa.
Lagi-lagi Nisa membuang napas kasar.
***
Diluar, Erwin menekan bel berulang kali, karena tidak sabar ia menggedor pintu apartemen Dion.
Ceklek!
“Kau lagi!” protes Dion.
“Aku butuh bantuanmu,” ujar Erwin memegang tangan Dion.
Dion langsung menepis tangan Erwin.
“Tidak! Aku kan sudah bilang tadi, aku tidak mau membantumu!” tegasnya.
“Lupakan masalah itu. Tapi, kali ini aku memang butuh bantuanmu! Ini darurat,” ucap Erwin.
Dion tidak langsung menjawab.
“Aku akan memberimu bonus dua kali lipat!” tambah Erwin lagi.
“Hm... tiga kali lipat, bagaimana?”
“Ish... kau ini! Iya lima kali lipat,” sahut Erwin memperlihat lima jarinya.
“Nah, itu lebih baik.”
“Cepat katakan! Kau butuh bantuan apa?”
“Carikan aku Ustadz.”
“What... sebentar-sebentar. Untuk apa aku mencarikan kau Ustadz? Apa kau mau di ruqiah?” tanya Dion dengan sedikit mengejek.
“Sialan! Bukan, tapi untuk menikahkan aku!”
“Apa?” teriak Dion.
Plak! Suara pukulan tepat di bahu Dion.
“Jangan berteriak, bodoh! Kau akan membangunkan semua orang disini!” kesal Erwin.
“Kau mau menikah? Dengan siapa? Terus, kenapa harus sekarang?”
“Banyak sekali pertanyaanmu! Tentu saja dengan Nisa. Cepat cari sekarang dan bawa ke kamar ku!” perintah Erwin.
“Astaga! Apa kalian sudah melakukan itu?” Tanya Dion dengan hati-hati.
“Buang pikiran kotormu itu! Aku tidak mungkin melakukan itu sebelum menikah! Dasar kau ini,” bentak Erwin.
“Santai dong. Aku kan hanya bertanya!” protes Dion.
“Cepat! Kau harus menemukan Ustadznya, aku menunggu di kamar!” ucap Erwin berlalu meninggalkan Dion.
“Kau kira mudah mencari Ustadz disini, semudah mencari kinderjoy yang selalu ada di depan kasir swalayan. Dasar! Apalagi aku baru saja beberapa minggu tinggal di sini!” gerutu Dion.
Ia menutup pintu rumahnya, melangkah keluar menuju lift.
“Jika aku tahu begini, aku tidak mau mengambil bonus yang ia berikan! Huh... kemana mencari Ustadz terdekat sini?” gerutu Dion yang ada di dalam lift.
“Huft... ada-ada saja. Kenapa menikah mendadak sih?”
Dion tidak henti-henti menggerutu.
***
Erwin kembali ke kamar. Namun, ia datang tidak sendirian. Melainkan bersama adik sepupunya di belakang, dengan menenteng pakaian di tangannya.
Sebelum masuk ke kamarnya, setelah berbicara dengan Dion. Erwin kembali lagi masuk ke kamar, untuk memanggil adik sepupunya tersebut. Agar membantu Nisa untuk bersiap.
“Hai kak,” sapa Nadia.
Nisa langsung menoleh ke sampingnya, lalu tersenyum.
“Hai. Apa kabar?” tanya Nisa langsung berdiri memeluk adik sepupu Erwin itu.
“Aku baik. Sekarang kita tidak punya banyak waktu, ayo ke kamar ganti pakaian kakak.”
Nadia menarik tangan Nisa pelan. Nisa melirik Erwin yang sibuk dengan ponselnya, seperti sedang membalas pesan.
“Ayo sekarang ganti pakaian kakak,” ucap Nadia memberikan pakaian yang ada di tangannya.
“Nadia. Ini terlalu mendadak, bahkan aku tidak bisa berpikir sekarang!” ucapnya duduk di sofa sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
“Percayakan semuanya kepada kak Erwin. Ini jalan yang terbaik untuk kalian kak.”
Nisa mengangguk pelan, ia berulang kali menghela napas beratnya.
Nisa membawa pakaian tersebut, ia langsung masuk ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, Nisa keluar dengan pakaian yang Nadia bawa yang sudah melekat di tubuhnya.
Pakaian gamis panjang berwarna coklat tua, sangat pas di tubuh mungil Nisa.
“Wih... Kaka sangat cantik. Pakaiannya sangat pas di badan Kaka,” pujinya.
“Kamu juga cantik,” sahut Nisa.
“Sini biar aku bantu pakaian kerudungnya,” ajak Nadia.
Nisa duduk di kursi, Nadia dengan telaten memasang kerudung tersebut. Tidak lupa juga, ia memoleskan sedikit makeup di wajah calon istri dari kakak sepupunya tersebut.
Karena wajah Nisa sudah pada dasarnya sudah cantik, jadi tidak perlu terlalu banyak memakai makeup, hanya butuh polesan sedikit saja agar menjadi terlihat lebih sempurna.
“Kakak sangat cantik!”
Lagi-lagi pujian tersebut di lontarkan oleh Nadia, karena sangat mengagumi Nisa.
Nisa hanya tersenyum.
Tok! Tok! Tok!
“Itu pasti kak Erwin,” tebak Nadia.
Dengan segera membuka pintu. Erwin mematung di ambang pintu, melihat calon istrinya yang begitu cantik memakai kerudung.
“Bagaimana? Cantik kan, calon istrinya.”
“Kak...” panggil Nadia.
Melihat Erwin tanpa berkedip melihat Nisa.
“Hah, iya... sangat cantik,” ucap Erwin tanpa sadar.
“Baiklah, kalian berbicaralah. Aku akan mengganti pakaianku juga,” pamit Nadia.
Karena ada ustadz yang akan datang, oleh sebab itu Nadia harus mengganti pakaiannya agar terlihat lebih sopan.
Melihat Nadia keluar, Erwin menutup dan mengunci pintunya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Nisa.
“Calon istriku sangat cantik.”
“Hm... Terimakasih.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku?” ujar Nisa.
“Pertanyaan yang mana?”
Nisa membuang napas kasar.
“Kenapa kita harus menikah diam-diam seperti ini? Apa kau tidak Ingin memberitahu orang tuamu terlebih dahulu, bahkan nenekku pun tidak tahu!” protes Nisa.
“Ini hanya untuk mengikatmu! Aku tidak mau kau berubah pikiran nanti, aku akan meresmikan pernikahan kita dalam waktu dekat ini.”
“Aku tidak akan berubah. Kita bisa menunggu hari itu, kenapa harus terburu-buru seperti ini?”
“Keputusan ini sudah final, aku tidak mau menerima penolakan. Apa pernyataan mu sore tadi hanya dusta, bahwa kau mencintaiku!”
“Jangan berpikir yang buruk, aku bersungguh-sungguh mengatakan itu.”
Nisa sangat malu mengingat perkataannya sore tadi.
Erwin memperlihatkan panggilan video bersama dengan orang tuanya dan ada nenek juga putranya.
“Kau memberitahu mereka?”
“Iya,” sahut Erwin tersenyum.
Nisa menyapa mereka, Reyhan tampak antusias melihat Mama dan Papanya.
Nisa juga meminta izin kepada nenek untuk menikah. Walaupun untuk sementara hanya menikah siri, Erwin tetap meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya.
“Kau senang?” tanya Erwin.
Nisa mengangguk.
Tok! Tok! Tok!
“Itu pasti Dion,” gumam Erwin.
“Tunggu sebentar.”
Erwin membuka pintu kamar, melihat Dion dan istrinya di depan pintu.
“Bagaimana?”
“Beres, mereka ada di ruang tamu. Cepatlah, jangan biarkan mereka menunggu lama.”
“Ayo, Kak.”
Nadia masuk mengambil tangan Nisa dan mengajaknya keluar.
Erwin dan Dion melangkah lebih dulu. Namun langkah Erwin terhenti ketika Dion menahan lengannya.
“Ada apa?”
“Kau mau menikah, bukan?”
“Iya, terus?”
“Lihatlah pakaianmu! Apa begitu caramu berpakaian, dengan celana pendek dan baju kaos! Yang menikahkan dirimu itu Ustadz, bukan aku!” celetuk Dion kesal.
Astaga! Kenapa kau baru memberitahuku? Huh... kenapa aku bisa lupa menggantikan pakaianku,” gumamnya.
“Apa lagi yang kau tunggu? Cepat ganti!”
“Iya. Ini aku mau ganti,” sahutnya berbalik arah menuju kamarnya.
Nadia menghela napas, mendengar perdebatan antara suaminya dan kakak sepupunya tersebut.
“Entah apa yang ada di pikirannya saat ini!” gerutu Dion.
Cukup lama mereka menunggu Erwin, tak kunjung keluar dari kamarnya.
“Ck... lama sekali!” protes Dion.
Ia hendak menyusul Erwin. Namun, Erwin sudah keluar dengan pakaian rapinya.
“Lama sekali!”
“Iya maaf. Aku sedikit kesulitan mencari pakaianku, aku lupa meletakkannya dimana?”
“Kau yang mau menikah, aku yang repot!” gerutu Dion.
Erwin hanya terkekeh mendengar gerutu Dion.
Mereka datang ke ruang tamu, Ustadz tersebut masih setia duduk bersama satu temannya.
“Assalamualaikum Pak ustadz,” ucap Erwin memberi salam, lalu mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Maaf Pak ustadz, membuat Pak Ustadz lama menunggu.”
“Waalaikumsalam. Iya, tidak apa-apa.”
Bergantian Dion yang mengulurkan tangannya.
“Siapa yang mau menikah? Apakah anda?” tanya Pak ustadz kepada Dion.
“Bukan saya Pak ustadz. Tapi, teman saya,” sahutnya menunjuk Erwin.
“Kalau saya sudah menikah, tapi belum yang ketiga kalinya,” ucap Dion.
Niatnya hanya bercanda. Namun, istrinya langsung menatapnya dengan tajam, sehingga membuat nyali Dion menciut.
“Maaf Pak Ustadz, saya hanya bercanda.”
“Hahaha..., Anda bisa saja.”
Semua orang terkekeh mendengar ocehan Dion.
“Baiklah, kita mulai saja.”
Pak ustadz tersebut mengulurkan tangannya kepadanya, Erwin.
Ustadz dengan lantang mengucapnya nama Nisa dan bintinya. Karena sebelumnya Dion sudah menulis di kertas dengan lengkap nama Erwin dan Nisa.
Begitupun dengan Erwin, iya menjawab dengan lantang dan jelas.
Hingga pengucapan ijab kabul itu selesai, semua orang bernapas lega, tak terkecuali Nisa sendiri.
“Selamat kalian sudah sah menjadi suami istri. Walaupun pernikahan ini tidak tercatat, akan tetapi ini pernikahan sah secara agama. Nikah siri, menghindari kita dari perbuatan zina,” ucap pak Ustadz memberi nasehat.
“Jadilah suaminya yang bertanggung jawab. Bukan bertanggung jawab untuk menafkahinya saja. Tapi, bertanggung jawab untuk semuanya. Dan untuk istri, harus patuh terhadap suami, karena surganya istri saat ini ada pada suami,” tambahnya lagi.
“Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, ciumlah tangan suamimu,” ucap Ustadz tersebut.
Nisa mengangguk, lalu mencium tangan Erwin yang baru saja menjadi suaminya tersebut.
Pernikahan sederhana, hanya dihadiri beberapa orang saja. Dion dan istrinya berserta ustadz dan rekannya yang menjadi saksi.
Setelah selesai, mereka makan bersama. Karena sebelum ustadz datang, Erwin sudah memesan makanan untuk mereka santap setelah ijab kabul selesai.
Di sela-sela makan, terdengar suara canda dan tawa mereka dengan ustadz tersebut.
Seusai makan, pak ustadz dengan rekanya pamit untuk pulang.
“Terimakasih banyak pak Ustadz waktunya. Maaf, sudah merepotkan Pak Ustadz,” ucap Erwin.
“Iya, sama-sama. Tidak perlu meminta maaf, ini sudah tugas saya. Bimbinglah istrimu dengan baik,” pesan Ustadz tersebut.
Erwin mengangguk.
Erwin mengantar Pak Ustadz tersebut hingga ke depan pintu.
“Terimakasih atas jamuannya. Kami pamit pulang, Assalamualaikum.”
“Sama-sama Pak, Waalaikumsalam,” sahut Erwin dan Dion.
“Loh... kenapa kau tidak mengantar Pak Ustadz?” tanya Erwin heran.
“Rumah Pak Ustadz tepat di samping Apartemen ini, pak Ustadz juga menolak aku mengantarnya.”
“Oh, begitu. Terus, kenapa kau lama sekali tadi? Bukan kah rumahnya ada di dekat sini?”
“Aku menunggunya selesai Shalat isya di masjid. Kebetulan Ustadz sebagai imam, makanya lama pulangnya.”
“Oh.”
“Apa ada lagi yang perlu kau tanyakan? Aku dengan senang hati menjawabnya,” ucap Dion memainkan kedua alisnya.
“Tidak ada. Besok aku akan transfer uang bonusmu.”
“Nah begitu dong. Oh ya, apa orang tuamu mengetahui jika kau menikah?”
“Iya. Sebelum kau datang, aku sudah menghubungi mereka.”
“Oh, baiklah. Aku sangat lelah, selamat beristirahat pengantin baru,” ejek Dion sambil melambaikan tangannya dengan gaya gemulai.
“Dasar aneh!” gerutu Erwin sambil menutup pintunya.
Erwin melangkah menuju ruang tamu, ia melihat wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut membersihkan bekas mereka makan.
“Biarkan saja, bisa di lanjutkan besok. Apa kau tidak ingin istirahat?”
“Iya. Sudah hampir selesai,” sahut Nisa.
Karena tidak tega, akhirnya Erwin membantunya untuk merapikan bekas mereka.
“Kalau cape, istirahat lah.”
Nisa membawa piring kotor ke dapur, lalu mencucinya.
Grep!
Erwin memeluknya dari belakang.
“Apa kau tidak lelah?”
“Tidak. Piring kotornya hanya sedikit, sebentar lagi selesai.”
“Pergilah ke kamar, setelah ini aku akan menyusul.”
“Baiklah. Aku menunggumu di kamar,” bisik Erwin.
Nisa hanya mengangguk.
Dirasa Erwin sudah meninggalkan dapur, ia bernapas lega. Sebenarnya ia menyembunyikan kegugupannya sejak tadi.
Selesai mencuci piring, Nisa masuk ke kamar. Melihat Erwin yang sudah berganti pakaian sambil duduk berselonjor di kasur dengan memangku laptopnya.
“Kau sudah selesai?” tanya Erwin yang melihat Nisa masuk ke dalam kamar.
“Sudah.”
“Ganti pakaianmu dan beristirahat lah, sudah larut malam.”
“Iya,” sahut Nisa singkat.
Nisa ke kamar mandi, untuk mengganti pakaiannya. Tidak lupa ia mencuci wajahnya, untuk menghilangkan bekas makeup yang menempel di wajahnya tersebut.
Selesai dengan urusan di kamar mandi, Nisa keluar kamar mandi dengan pakaian yang berbeda.
Melihat istrinya keluar dari kamar mandi, Erwin menutup laptopnya dan mematikan lampu. Hanya Menyisakan satu lampu tidur saja yang terletak di nakas.
“Ayo kita tidur,” ajak Erwin.
Karena sejatinya Erwin juga merasa sangat lelah, apalagi ia menciptakan pernikahan mendadak di apartemennya.
Nisa melepaskan ikat rambutnya, lalu ikut bergabung dengan Erwin. Erwin langsung menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
“Selamat malam istriku,” bisik Erwin.
.
.
.
__ADS_1