
Sembilan bulan sudah berlalu.
Hari ini adalah hari bahagia sekaligus menenggangkan, hari dimana Nadia berjuang di meja operasi.
Dokter menyarankan Nadia harus segera di operasi, karena air ketuban sudah pecah dan hampir habis, karena berbahaya bagi bayi yang ada di dalam perut, jika tidak segera di keluarkan.
Akhirnya Ayah dan suaminya setuju, karena tidak ingin membahayakan nyawa keduanya. Walaupun harus berdebat dengan Nadia, karena ia ingin melahirkan secara normal.
Dion memberi pengertian kepada istrinya dengan lembut, akhirnya Nadia menyetujuinya.
Oek! Oek! Oek!
Suara tangis bayi begitu nyaring hingga terdengar keluar.
Semua orang bernapas lega, setelah mendengar tangis bayi tersebut.
“Alhamdullilah,” Ucap semua orang.
Orang tuanya Nadia berkumpul di depan ruang operasi, begitupun dengan kedua orang tua Erwin.
“Selamat ya, kalian sudah menjadi Kakek dan Nenek,” ujar ayahnya Erwin memberi selamat kepada adiknya tersebut.
Mereka berpelukan sejenak, begitupun dengan Bu Anita. Ia juga memberi selamat kepada istri dari adik iparnya tersebut.
“Selamat ya, aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah bayinya. Apakah dia mirip Nadia atau Dion ya?” ujar Bu Anita penasaran.
“Kakak juga, sebentar lagi akan mempunyai cucu, kembar lagi.”
“Alhamdullilah,” ujar Bu Anita.
Setelah usia kandungan Nadia menginjak tiga bulan, Nisa dinyatakan positif hamil.
Keluarga yang mendengarnya sangat berbahagia, tak terkecuali nenek sendiri.
Bu Anita menetap di Indonesia, setelah mendengar kabar jika menantunya positif hamil, karena Sifa juga sudah lulus kuliah dan juga ikut Maminya tinggal di tanah air.
Hanya tinggal Suaminya yang bolak balik, karena ia juga mengurus bisnis yang ia bangun di luar negeri.
Erwin yang kala itu bolak balik ke luar kota, akhirnya ia memindahkan salah satu orang kantor yang ia percayai untuk menetap di luar kota mengurus proyek disana.
Sedangkan dirinya harus tetap berada di dekat istrinya, apalagi mendengar ada dua janin yang tumbuh di rahim istrinya, membuatnya harus ekstra menjaga istrinya tersebut.
Di dalam ruang operasi, Nadia baru saja di pindah kan ke ruang rawat inap. Karena rumah sakit tersebut adalah milik ayahnya, tentu saja diberikan pelayanan yang khusus.
Sedangkan sang bayi masih di bersihkan oleh perawat dan segera di antar jika sudah selesai.
Semua orang ikut masuk ke dalam ruangan tersebut, memberi selamat kepada Nadia.
“Selamat ya Dion. Maaf, Ayah dulu meragukanmu dan terima kasih sudah menjaga putri Ayah dengan baik.”
Mertuanya menepuk bahu Dion pelan, bahwa ia bangga terhadap Dion yang sudah menjaga putrinya dengan baik.
“Iya, Ayah. Lupakan masa lalu, untuk menjaga Nadia adalah tugasku, Ayah.”
“Papi bangga denganmu,” sela ayahnya Erwin.
“Terima kasih Pi,” sahut Dion.
__ADS_1
“Dalam beberapa bulan saja, kau sudah bisa membangun bisnis sendiri. Ini baru namanya anak Papi, berusaha dengan keringat sendiri.”
Dion tersenyum mendengar Pujian dari pria yang menganggap dirinya seperti anaknya sendiri.
Cukup lama menunggu, akan tetapi bayi tersebut tak kunjung datang.
Bu Anita berdecap kesal, karena cukup lama menunggu kedatangan bayi Dion, karena sudah tidak sabar menunggu ke datangannya.
"Lama sekali, Dion! Mami tidak sabar ingin melihat bayinya," gerutu Bu Anita.
"Sabar, Mi!" sahut Dion dengan lembut.
Tak lama pintu terbuka. Tampak perawat menggendong bayi tersebut masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut, dan memberikan kepada ibunya agar di beri asi.
Nadia perlahan duduk, di bantu oleh suaminya. Ia menyambut bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki tersebut, memberi asinya. Tampak jelas jika bayi tersebut sangat kelaparan, ia mencari sesuatu sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
“Ih, lucunya!” seru Bu Anita sangat gemas melihat bayi tersebut.
Nadia membantu putranya agar mulutnya menempel dengan pu**ing susunya tersebut, bayi tersebut langsung menyedotnya seperti orang sangat kehausan.
“Sayang, pelan-pelan dong minumnya,” ujar Dion melihat putranya tersebut.
Semua orang menatapnya tersenyum, bayi dengan berat 3,9 dan panjangnya 50 cm tersebut. Wajahnya sangat mirip dengan Nadia, Dion hanya kebagian hidung dan bibirnya saja.
“Kau beri nama siapa dia?” tanyanya ayah mertuanya kepada Dion.
“Namanya masih rahasia,” Ujar Dion terkekeh.
“Apaan sih, jelek banget namanya! Masa rahasia? Terus Mami panggilnya apa, sia... gitu!” protes Bu Anita.
“Ada apa? Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Bu Anita bingung.
“Iya, Mami sangat lucu. Nama bayinya itu, masih di rahasiakan! bukan namanya rahasia!” celetuk suaminya.
“Hahaha... Mami ternyata salah!” serunya terkekeh.
Dirasa perutnya sudah kenyang, sang bayi melepaskan pu**ng su*u ibunya, dan tidur dengan mulut sedikit terbuka.
Semua orang menggendongnya secara bergantian, bahkan mengganggunya agar bayi tersebut bangun.
Namun, nyatanya bayi tersebut tidak terbangun sama sekali.
Terakhir ayah mertua Dion yang menggendongnya, terlihat dari wajah pria tersebut sangat terharu bahkan ia meneteskan air matanya melihat cucu laki-lakinya.
Ia meletakkan kembali ke tempat tidur bayi yang sudah di sediakan oleh perawat.
***
Dirumah Erwin.
Erwin sedang bersiap untuk membawa istrinya untuk berbelanja keperluan bayi.
“Sayang, Mami baru saja menghubungiku. Bayinya Dion berjenis kelamin laki-laki, Nadia dan putranya sehat,” Ujar Dion yang menuruni tangga.
“Alhamdullilah,” sahut Nisa yang duduk di sofa.
Ia sedikit meringis menahan sakit di bagian perut bawahnya, akan tetapi ia berusaha tetap tenang di depan suaminya.
__ADS_1
“Apa kita ke rumah sakit? Aku sudah tidak sabar ingin melihat putranya,” usul Nisa.
“Jangan sayang, dirumah sakit sangat berbahaya! Apalagi kamu dalam keadaan mengandung, Kita menunggu di rumah saja, besok pagi mereka di perbolehkan untuk pulang.”
“Baiklah,” sahut Nisa.
“Anak Papa sedang apa?” tanya Erwin mengusap perut istrinya yang buncit.
“Lagi tidur Pa,” sahut Nisa dengan suara yang dibuatnya menyerupai suara anak kecil.
Erwin mencium perut istrinya berulang kali, membuat Nisa sedikit geli.
“Apa kita berangkat sekarang?” tanya Erwin membenarkan duduknya.
“Iya. Kita jemput Reyhan dulu, setelah itu kita belanja,” usul Nisa.
“Iya sayang,” sahut Erwin sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Ayo,” ajak Erwin mengulurkan tangannya.
Nisa tampak kembali meringis.
“Kenapa? Dimana yang sakit sayang?”
Wajah Erwin terlihat cemas. Erwin kembali mengusap perut bagian bawah Nisa, mengusapnya berulang kali hingga Nisa tidak merasakan sakit lagi.
“Bagaimana? Apa masih sakit?” tanyanya lagi.
“Sudah tidak. Perutku terasa sangat kencang tadi,” ujar Nisa mencoba untuk berdiri.
“Apa kau yakin kita pergi berbelanja? Bagaimana kalau kita meminta Mala saja yang membelikannya?”
“Tidak! Aku ingin memilihnya sendiri, aku bisa kok. Ini hal yang biasa bagi wanita yang sedang mengandung,” Ujar Nisa.
“Baiklah,” sahut Erwin pasrah.
Erwin menggandeng tangan istrinya, usia kandungannya baru menginjak tujuh bulan, karena di dalam perut Nisa ada dua janin sehingga perutnya terlihat sangat besar seperti usia kandungan sembilan bulan.
Mereka melangkah keluar, Erwin membuka pintu mobil untuk istrinya dan melaju menuju ke tempat Reyhan bersekolah.
Setibanya di tempat sekolah, Erwin keluar dari mobil untuk menjemput putranya, karena sudah waktunya jam pulang sekolah.
“Papa,” panggil Reyhan melihat Erwin datang menjemputnya.
“Iya sayang,” sahut Erwin menggandeng tangan putranya menuju mobil.
“Dimana Mama, Pa?”
“Mama ada di mobil,” sahut Erwin.”
Sesampainya di mobil, Erwin membuka pintu belakang mobil untuk putranya. Kemudian ia kembali masuk mengendarai mobil kembali menuju mall yang terdekat, tanpa Erwin sadari ada sebuah motor yang mengikuti mereka.
.
.
.
__ADS_1