Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 110


__ADS_3

Selesai acara resepsi pernikahan, mereka memutuskan untuk kembali pulang.


Masih drama yang sama, Reyhan tidak mau ikut pulang bersama ibunya. Melainkan ingin ikut bersama Erwin.


Nisa sedikit kesal, akhir-akhir ini Reyhan lebih dekat dengan Erwin ketimbang dirinya.


“Aku akan mengantarnya pulang. Biarkan dia ikut bersamaku,” ucap Erwin menatap Nisa yang hendak menggendong paksa Reyhan.


“Atau kau ingin ikut bersama kami?”


Nisa langsung menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku ada perkerjaan penting.”


“Pekerjaan penting? Bukankah hari ini libur?”


“Iya, ada klien yang ingin bertemu di dekat sini.”


“Oh begitu. Berhati-hati lah,” ucap Erwin.


“Iya,” ucap Nisa.


Melihat putranya mengoceh di dalam mobil dengan Ayah Erwin. Entah apa yang putranya bicarakan, membuatnya Reyhan tertawa lepas di dalam mobil.


“Kami pergi dulu,” pamit Erwin.


Ia harus kembali ke rumah, karena ingin berkumpul dengan orang tuanya yang sudah lama tidak bertemu.


Nisa mengangguk.


“Kenapa? Apa Reyhan tidak mau ikut bersama kita pulang?” tanya Nenek dari dalam mobil.


Nisa menggelengkan kepalanya.


“Biarkan saja dia. Percuma memaksanya untuk pulang bersama kita, pasti Reyhan tidak akan mau. Nanti pasti Erwin akan mengantarnya pulang,” tutur nenek.


“Iya Nek,” sahut Nisa pasrah.


“Cepat masuk lah! Apalagi yang kau tunggu?”


“Sebentar Nek. Nisa ke toilet dulu, aku sudah tidak tahan,” ucap Nisa meninggalkan neneknya sambil berlari kecil.


Nenek menggelengkan kepalanya.


Nisa kembali masuk, dan bertanya kepada petugas hotel dimana letak toilet.


“Permisi pak. Toilet dimana ya? Aku sudah kebelet.”


Sang petugas kebersihan menujukan letak arah toilet tersebut.


Tanpa Nisa sadari, pria yang menyamar sebagai petugas kebersihan di hotel tersebut menyeringai jahat menatap kepergiannya.


Setelah menemukan toilet tersebut, ia segera buang air kecil karena sudah menahannya sejak tadi.


Selesai buang air kecil, Nisa keluar untuk mencuci tangannya di wastafel.


Nisa merasakan ada bayangan di belakangnya, lalu menoleh ke belakang tidak ada siapa pun disana.


Hanya ada dia sendiri di dalam toilet tersebut, letaknya pun di lorong paling ujung, toilet itu sangat sepi, sepertinya lama tak terpakai. Namun masih dalam keadaan bersih.


Karena fokus mencuci tangannya, tanpa ia sadari jika ada seseorang melangkah dengan perlahan-lahan mendekatinya.


Seseorang langsung mendekapnya dan menutup hidungnya dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius, hingga membuat Nisa kesulitan bernapas.


“Hhmmpp...” Nisa bicara tidak jelas.


Nisa sempat memberontak, namun kekuatannya tidak sebanding dengan orang yang mendekapnya.


Nisa semakin lemah, sudah tidak bisa memberontak lagi dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri.


“Huft ... lumayan,” keluh suara seorang pria yang mendekapnya sambil membuang napas kasar.


Dengan cepat ia menggendong tubuh Nisa, keluar dari toilet tersebut, agar aksinya tidak di ketahui oleh orang.


Di dalam mobil, Nenek tampak cemas. Sejak tadi ia menunggu Nisa, tapi tak kunjung keluar dari hotel tersebut.


“Toni, coba kamu susul Nisa. Kok lama sekali? Aku sudah lelah, ingin cepat beristirahat di rumah.”

__ADS_1


“Iya Nyonya.”


Toni keluar dari mobil tersebut dan Kembali masuk ke hotel tersebut.


Namun, sudah berkeliling mencarinya tidak menemukan adanya Nisa di toilet tersebut.


Bahkan Toni sudah bertanya kepada petugas kebersihan dan kebetulan baru saja keluar dari toilet untuk membersihkannya, tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam toilet.


Toni kembali ke mobil. Nenek Dira mengernyit heran, melihat Toni hanya datang sendiri.


“Ada apa Toni? Dimana Nisa, apa kau tidak bertemu dengannya?”


“Nona tidak ada di toilet Nyonya. Bahkan aku sudah bertanya kepada petugas kebersihan, tidak ada seorang perempuan yang masuk ke dalam toilet tersebut.”


“Astaga! Dimana cucuku? Apa dia di culik,” tanya nenek mulai cemas.


“Mohon tenanglah Nyonya,” ucap Toni yang mencoba menghubungi seseorang dari ponselnya.


“Bagaimana aku bisa tenang! Cucuku hilang!” bentak Nenek Dira.


“Sebaiknya, Nyonya pulang terlebih dahulu. Biar aku dan beberapa rekanku untuk mencari Nona,” usul Toni.


“Tapi, bagaimana dengan cucuku?”


“Nyonya, serahkan semuanya kepadaku.”


Menatap nenek Dira dengan tatapan memohon.


“Baiklah, tolong temukan cucuku secepatnya!”


“Saya usahakan,” ucap Toni.


Toni menghubungi beberapa anak buahnya, tanpa menunggu lama mereka pun tiba.


“Antarkan Nyonya ke rumah dengan selamat dan kau tetap di rumah untuk menjaganya.”


“Iya Tuan,” sahutnya.


Setelah melihat kepergian mobil nenek Dira.


Toni berpencar untuk mencari Nisa di Area hotel dan di sekelilingnya, ada juga yang mengecek CCTV hotel.


***


Sesampainya di rumah, Reyhan tak lepas dari pangkuan Erwin, mereka duduk berkumpul di ruang tengah.


Orang tuanya sangat heran melihat bocah tersebut tidak mau jauh dari Erwin.


“Anak ini sangat tampan. Dimana ayahnya?” tanya ayah Erwin.


“Reyhan ke kamar Papa sayang. Di kamar ada mainan Reyhan, coba deh lihat.”


Karena Erwin tidak ingin jika Reyhan mendengar percakapan orang tuanya.


“Iya Pa,” sahutnya melangkah menuju kamar Erwin.


“Ayahnya sudah meninggal, saat ia masih dalam kandungan. Karena mengidap penyakit tumor otak,” tutur Erwin setelah melihat kepergian Reyhan.


“Astaga! Malangnya nasib anak itu,” sahut ayahnya.


“Sebelum kepergiannya, ia menitipkan Reyhan kepadaku, agar memberikannya kasih sayang sebagai seorang ayah.”


“Tapi yang mami lihat, kau juga menyukai ibunya?”


“Mami tahu dari mana?”


“Aku yang mengandung mu selama sembilan bulan! Jelas mami tahu, dari caramu menatapnya. Iya kan?”


Erwin hanya tersenyum menanggapinya.


“Kami sih setuju saja. Kelihatannya dia anak yang baik,” tambah maminya lagi.


“Iya sayang. Cepatlah menikah, usiamu sudah tidak muda lagi! Kapan kau akan memberikan kami cucu?”


“Atau kami akan mencarikan jodoh untukmu?”


Dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Erwin tidak mau. Cukup mendiang Shamila dan Dion menjadi korban perjodohan!” protes Erwin.


“Malangnya nasib Shamila. Aku sangat menyesal, andai saja aku tidak menyetujui perjodohan waktu itu...”


“Sudahlah... semua itu sudah berlalu,” sela maminya.”


“Tuan,” panggil sopirnya.


Sang sopir masuk ke dalam rumah, dengan membawa ponsel Erwin yang tidak berhenti berdering.


“Ada apa?”


“Ponsel Tuan tertinggal di mobil. Sejak tadi ponsel itu berbunyi.”


“Astaga, aku melupakan ponselku,” Gumam Erwin mengambil ponselnya dari yang sang sopir.


Melihat panggilan begitu banyak, dari satu orang.


“Nenek. Ada apa nenek menghubungi sebanyak ini?” tanya Erwin heran.


Erwin Kembali menghubungi Nenek, dengan perasaan yang cemas, takut terjadi sesuatu dengannya. Karena untuk pertama kalinya, nenek Dira menghubunginya hingga sebanyak 20 panggilan.


Tuuuttt !


“Halo, Nek.”


“Halo Erwin. Tolong Nenek,” sahut nenek dengan suara bergetar.


“Iya Nek ada apa? Kenapa suara Nenek begitu cemas? Apa terjadi sesuatu?”


“Ia, Nisa...”


“Ada apa dengan Nisa Nek?” sela Erwin.


“Nisa hilang. Hingga saat ini belum di temukan keberadaannya, Nenek sangat khawatir.”


“Apa! Nisa hilang?” jerit Erwin.


Orangtuanya saat itu sedang berbincang pun, ikut terkejut mendengar Nisa hilang.


“Astaga! Nenek tenangkan diri dulu. Erwin akan membantu mencari Nisa, oke.”


“Tolong Nisa. Nenek sangat takut, jika terjadi sesuatu dengannya,” tutur nenek dari dalam ponsel tersebut.


“Aku tutup dulu panggilannya Nek. Jaga kesehatan Nenek, yakinkan... Nisa pasti akan ketemu.”


“Iya Nak Erwin,” sahutnya.


“Ada apa?” tanya orang tuanya.


Melihat Erwin sudah menutup panggilannya.


“Nisa hilang!”


“Bagaimana bisa hilang?”


“Aku tidak tahu pasti. Seingatku, Nisa ingin menemui kliennya. Aku yakin, ini ada hubungannya dengan kliennya itu! Erwin pergi dulu.”


“Tunggu... Ayah ikut bersamamu. Aku akan mengarahkan semua anak buahku untuk mencarinya,” ucap ayahnya.


Erwin mengangguk.


“Mi, Erwin titip Reyhan. Pastikan Reyhan tidak mengetahui hal ini mi.”


Maminya mengangguk mengerti.


Erwin dan Ayahnya, melangkah keluar menuju mobilnya. Tampak jelas dari raut wajah Erwin yang begitu sangat khawatir.


“Aku tidak akan mengampuninya, jika aku mengetahui dalang di balik penculikan ini!” geram Erwin.


“Sabar sayang. Kita fokus saja mencari keberadaan Nisa sekarang,” tutur Ayahnya.


Erwin menyetir mobil sendiri, hanya di temani oleh ayahnya di dalam.


Mereka menuju hotel tersebut dengan kecepatan penuh, beruntung jalanan cukup sepi saat ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2