Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 29


__ADS_3

Melihat kepergian Nisa, Bara mendorong pelan piring nya, seakan enggan untuk makan lalu membuang nafas kasar.


Di kamar, Nisa merebahkan tubuh nya di kasur. Mendengar ucapan Bara, hati begitu kacau.


“Ada apa dengan ku?” menarik selimut menutupi seluruh tubuh nya.


“Kenapa hati ku terasa sakit mendengar ini, seharusnya aku senang, bukan?” gumam Nisa di balik selimut. Nisa bangkit dari tidur nya, menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Ketika hendak keluar, tak sengaja kaki nya tersandung hingga terjatuh.


Brughh.., “Aduh...”teriak Nisa sambil memegang kaki nya yang terasa amat sakit.


“Ya ampun, kenapa bisa jatuh sih!” gerutu Nisa melihat kaki nya mengeluarkan darah di perban nya.


Perlahan ia berjalan duduk di kasur, membuka perban tersebut dengan menggantikan nya dengan yang baru.


Seharian, Nisa hanya terbaring di kasur. Perlahan membuka mata nya.


“Kepala ku sangat pusing,” gumam nya.


Bahkan untuk duduk mengambil air minum yang ada di meja, Nisa tak sanggup berdiri.


Bara keluar dari kamar nya, merasakan tenggorokan nya sangat kering. Ia ke dapur hendak membuka kulkas. Namun, teralih kan ia melihat sarapan mereka tadi pagi masih tergeletak di meja.


“Apa dia tidak turun? Apa mungkin dia sudah pergi?” merasa heran.


“Aku akan memeriksa nya,” ujar nya. Kembali naik menuju kamar Nisa.


Tok..., tok..., “Nisa,” panggil Bara.


Entah berapa kali Bara mengetuk pintu, akan tetapi tidak ada tanda-tanda Nisa untuk yang membuka nya.


Dengan sekuat tenaga Bara memutar kenop pintu, pintu kamar terbuka dengan mudah.


“Astaga, tidak di kunci!” gumam nya.


“Nisa, apa kamu baik-baik saja?” melihat Nisa meringkuk di kasur.


Perlahan Bara mendekati nya, ingin membuka selimut nya. Ia merasakan hawa panas dari tubuh Nisa.


“Astaga, Badan mu panas sekali,” ucap Bara panik. Ia meletakkan kembali tangannya di kening Nisa.


Lalu bergegas mengambil alat pengukur suhu yang terletak di laci meja nya di kamar.


“Nisa, apa kamu bisa bangun?” menggoyang tubuh Nisa, perlahan ia membuka selimut dan meletakkan alat tersebut di ketiak Nisa.


“Kenapa kamu tiba-tiba sakit? Kamu minum dulu,” ucap Bara memberikan segelas air putih.


Terlihat tampak jelas ke khawatiran Bara. Tak lama, alat pengukur tersebut berbunyi.


“Tinggi sekali.” Bara mengangkat tubuh Nisa.


“Kita akan ke rumah sakit,” ucap nya.


Sambil berjalan menuruni tangga, Nisa masih belum membuka matanya.

__ADS_1


“Apa kepala mu terasa pusing?” tanya nya, melihat Nisa memejam kan matanya.


Nisa hanya mengangguk sambil mengalungkan tangan nya di leher Bara.


Saat tiba di mobil, Bara meletakkan istrinya di kursi Bara melihat kaki Nisa terlihat sangat bengkak, timbul rasa bersalah kepada istri nya dan segera membawa istri nya ke rumah sakit.


Setiba nya di rumah sakit, Bara menggendong Nisa masuk ke rumah sakit.


“Suster, tolong istri saya!” teriak Bara. Melihat perawat yang melintas.


Para perawat membantu nya, dan langsung ke ruang UGD. Bara begitu cemas melihat dengan keadaan Nisa di dalam sana.


“Bagaimana dengan keadaan istri saya sus?” melihat salah satu perawat keluar.


“Istri anda baik-baik saja, tekanan darah kurang dan di tambah luka kaki nya infeksi. Itu membuat istri bapak demam.”


“Baik, terima kasih. Apa boleh saya masuk?”


“Silahkan pak, kami masih akan menyiapkan kamar untuk pasien.” Bara bergegas masuk, melihat ada beberapa perawat memasang jarum infus di tangan nya.


“Permisi pak,” pamit perawat ketika sudah selesai.


“Apa ini sangat sakit?” tanya Bara. Nisa perlahan membuka mata nya.


“Tidak,” jawab nya sambil tersenyum.


“Maaf kan aku,” ucap nya merasa bersalah.


“Berhenti minta maaf Tuan.”


“Ak—aku...,” terpotong ketika salah satu perawatan datang.


“Baik,” sahut Bara singkat.


Bara mengikuti para perawat dari belakang yang membawa Nisa pindah ke ruangan perawatan.


“Baik pak, kami permisi. Dokter akan datang sekitar pukul 8 nanti malam untuk memeriksa.”


“Iya terima kasih.”


Setelah semua keluar, Bara menutup pintu ruangan dan hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut.


“Apa kamu ingin memakan sesuatu?”


Nisa menggelengkan kepalanya.


“Apa masih demam?” meletakkan tangan nya di dahi istri nya.


“Demam nya sudah turun, istirahat lah,” ujar nya menarik selimut menutupi sebagian tubuh istrinya.


“Tuan mau kemana?”


“Aku duduk disini, tidak akan kemana-mana, tidur lah.”


Nisa mengangguk, lalu perlahan memejam kan mata nya akibat pengaruh obat tak butuh lama untuk tertidur.

__ADS_1


Bara menatap istrinya, masih terlihat sedikit pucat. Beberapa jam kemudian, terlihat Dokter dan satu perawat masuk ke ruangan untuk memeriksa istrinya.


“Bagaimana keadaan istri saya Dok?”


“Sudah stabil, tekanan darah nya juga sudah normal. Besok bisa boleh pulang.”


“Terima kasih banyak Dok.”


“Sama-sama, saya permisi," pamit Dokter dan berlalu pergi.


Terlihat Nisa perlahan membuka mata nya.


“Kau sudah bangun?” tanya Bara. Lalu duduk di kursi.


“Apa dia pikir aku akan tidur selama nya?” gumam batin Nisa.


“Ayo duduk, aku akan menyuapi mu.”


“Aku bisa makan sendiri,” tolak Nisa. Bukan tidak mau, hanya saja dirinya sangat malu.


“Sudah, jangan membantah!”


Bara membantu Nisa untuk duduk, lalu menyendok kan makanan ke mulut istri nya.


“Buka mulut nya! Aaa.”


“Aku bukan anak kecil Tuan!” protes Nisa.


“Banyak bicara! Cepat buka mulut mu, jangan sampai ku paksa.”


Nisa langsung membuka mulut, mendengar ancaman dari Bara. Nisa makan dengan lahap, karena dirinya memang sangat lapar.


Tok..., tok..., terdengar ketukan dari luar ruangan. Terlihat seorang perawat datang membawa kertas kecil di tangan nya.


“Permisi pak, saya mengantar resep obat dan mohon melakukan pembayaran adminitrasi nya di kasir depan.”


“Terima kasih,” ucap Bara.


“Aku tinggal dulu ya,” pamit Bara. Nisa mengangguk kepala nya, setelah melihat Bara keluar ia kembali merebahkan tubuh nya, ia masih merasakan sedikit pusing.


Saat di apotek, Bara menunggu para pekerja meracik obat. Selang beberapa menit, nama nya di panggil dan untuk melalukan pembayaran. Ia mengeluarkan kartu di dompet nya dan memberikan nya kepada petugas.


“Maaf pak, kartu ini sudah tidak bisa digunakan.” Bara mengerutkan kening nya.


“Sialan, sudah di blokir,” umpat nya.


“Bisa minta waktu nya? saya akan kembali.” Petugas mengiyakan ucapan Bara. Sebelum keluar, Bara terlebih dahulu pamit kepada istri nya untuk pulang, dengan alasan kartu nya tertinggal.


“Ponsel ku tertinggal di rumah ternyata,” gumam nya. Bara menghidupkan mobil dan keluar dari parkiran. Saat di perjalanan, tiba-tiba roda mobil nya kempes.


“Sialan!” umpat Bara menendang roda mobil nya.


“Benar-benar sial!" umpat nya lagi.


Tin.., tin. Seseorang membunyikan klakson mobil, Berhenti tepat di belakang mobil nya. Bara tidak dapat melihat siapa pemilik mobil tersebut, karena cahaya lampu sorot mobil menghalangi pandangan nya.

__ADS_1


Siapakah pemilik mobil tersebut??


Bersambung...


__ADS_2