Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 144


__ADS_3

Nisa dan Erwin baru saja tiba di rumah, saat masuk ke dalam rumah, Nisa di kejutkan ternyata ada nenek Dira di dalam rumah Erwin.


“Nenek. Nenek disini juga?” ujar Nisa langsung mencium tangan neneknya lalu memeluknya sejenak.


“Huh, pengantin baru!” ejek Dion yang juga berada di ruang tengah berkumpul bersama.


Nisa dan Erwin bergantian mencium tangan nenek dan kedua orang tua Erwin.


Terakhir Reyhan, Erwin menggendong putranya tersebut lalu menciumnya berulang kali.


“Papa kangen, tahu. Apa Reyhan tidak merindukan Papa dan Mama?”


Reyhan mengangguk. Namun, saat ini ada mainan yang opa belikan lebih menarik baginya.


“Sayang, Mama. Kok Mama di cuekin sih,” ujar Nisa berpura-pura sedih.


Reyhan yang kala itu sibuk dengan mainannya, langsung menghampiri Nisa dan memeluknya.


“Sudah, mainan lagi sayang.”


Melepaskan pelukannya dan membiarkan putranya bermain.


“Mi, katanya ada kabar bahagia. Kabar bahagia apa itu? Erwin tidak sabar ingin mendengarnya.”


“Hm, itu. Biar Dion yang menjelaskan,” sahut Bu Anita melihat Dion agar menjelaskannya.


“Ada apa sih?” tanya Erwin menatap Dion dengan serius.


“Kabar bahagianya adalah, kamu akan menjadi paman lagi.”


“Maksudnya?” tanya Erwin masih kurang mengerti.


“Nadia hamil?” tanya Nisa menyela ucapan suaminya.


“Iya,” sahut Dion sambil tersenyum tipis.


“Wah, selamat ya.”


Nisa menghampiri Nadia lalu memeluknya dan mengelus perutnya yang masih rata.


“Sehat terus ya, sayang. Nadia, jaga kesehatannya ya.”


“Iya, kak.”


“Selamat ya Dion, kau sebentar lagi menjadi Ayah,” ucap Erwin.


“Iya, terima kasih.”


“Alhamdullilah, sekarang kita semua bisa berkumpul disini. Besok- besok kita tidak tahu apakah bisa berkumpul kembali, seperti ini!” tutur Ayahnya Erwin.


“Ayah kok bicara seperti itu?” pungkas Erwin.


“Iya nih, bicaranya kok aneh begitu! Seperti tanda-tanda orang yang meninggal saja!” protes istrinya.


“Ayah hanya bicara saja. Ayo kita ke halaman belakang, kita makan bersama,” ajak Ayahnya Erwin.


Semua orang beranjak dari tempat duduk, Nisa menggandeng tangan neneknya melangkah menuju halaman belakang.


Sedangkan Erwin menggendong putranya.


Di halaman belakang yang begitu luas, ada beberapa tanaman sayuran, dan juga bunga yang sedang bermekaran, hawanya lumayan sejuk di tambah cuacanya juga sangat mendukung tidak terlalu terik.


Terdapat kolam renang yang besar disana dan beberapa gazebo juga untuk bersantai.


“Ma, Reyhan mau berenang ya?” tanya Reyhan melihat kolam renang tersebut.


“Iya, berenang sama Papa ya,” sela Erwin.


Nisa mengangguk.


“Aku juga mau berenang, lama sekali gak berenang,” ujar Dion.


“Ah, ayah juga,” sela ayahnya Erwin.


Keempat perempuan tersebut tertawa bersama, mendengar semuanya ingin berenang.


Erwin mengganti pakaiannya dan putranya, begitupun Dion dan Ayahnya. Setelah berganti pakaian, mereka semua masuk ke dalam kolam.


Erwin dengan telaten mengajarkan putranya agar pandai berenang.


Saat ini Nisa duduk menatap orang yang ada di situ secara bergantian, tiada lagi yang membuatnya bahagia selain melihat dua keluarga berkumpul bersama.


“Nisa, kok melamun!”


Ibu mertuanya menghampirinya.


“Sedang memikirkan apa, sayang?” tanya Bu Anita mengelus bahunya.


“Tidak ada mi.”


“Nisa, maaf jika anak Mami banyak kekurangan. Seandainya, anak Mami melakukan kesalahan, Nisa bisa langsung beritahu Mami atau bicara langsung kepadanya dengan cara baik-baik. Jangan tinggalkan dia nak!”


Nisa tersenyum.


“Enggak Mi. Erwin itu sangat sempurna untuk Nisa, maaf jika Nisa sering menolak Erwin dan berusaha menghindarinya dulu. Karena Nisa merasa tidak pantas untuknya,” Ujar Nisa menatap ibu mertuanya merasa bersalah.


“Iya. Namanya juga manusia, tidak lepas dari kekhilafan,” imbuh Bu Anita.


“Apa Nisa tahu? Saat Nisa menolak kembali putraku waktu itu. Erwin sangat terpukul, ia bahkan tidak ingin tinggal disini lagi.”


“Iya, Mi. Maaf, saat itu memang Nisa keras kepala. Bahkan Nisa tidak memikirkan perasaan Erwin. Maafkan Nisa Mi,” ujar Nisa merasa bersalah.


Bu Anita memeluk menantunya tersebut.


“Sudah sayang. Jangan meminta maaf, lupakan yang lalu. Sekarang tata kehidupan kalian, Mami sudah bahagia saat melihat kalian bahagia seperti ini dan berikan Mami dan Papi cucu yang banyak,” ujar Bu Anita.


Nisa tersenyum, lalu mengangguk.


“Kalian sedang apa? Pasti menggosipku kan! Dasar para wanita selalu saja bergosip!” celetuk Erwin yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Plak!


Pukulan mendarat di bahu putranya, membuat Erwin mengaduh kesakitan.


“Aw, Mami! Kebiasaan deh, selalu bahuku menjadi sasaran!” kesal Erwin mengusap bahunya sedikit panas.


“Coba katakan lagi, kalau wanita selalu bergosip! Cepat, katakan!” ketus Bu Anita siap hendak memberi pukulan lagi di bahu putranya tersebut.


“Ampun Mi, enggak lagi. Sudah Mi jangan mukul lagi, sakit! Tangan Mami ada Bara apinya Mi,” ucap nyengir kuda.


“Rasakan!” ketus Maminya.


Nisa dan yang lainnya terkekeh melihat Erwin dan Maminya.


“Sayang tolong aku,” Ujar Erwin memeluk tubuh istrinya.


“Sayang, basah loh! Aku sudah mandi.”

__ADS_1


Berusaha melepaskan pelukan suaminya. Melihat penolakan Nisa, Erwin malah menggendong istrinya.


“Mami, Nenek! Tolong aku...” teriak Nisa.


Sedikit memberontak, karena Erwin menggendongnya menuju kolam.


Melihat Erwin menggendong Nisa, Bu Anita menghampirinya sambil berlari kecil, siap-siap hendak memukul kembali bahu putranya tersebut.


“Hei, lepaskan menantuku!” teriak Bu Anita.


Namun, belum sempat memukul putranya, Erwin langsung melompat ke kolam bersama sang istri. Akibat kurang seimbang, Bu Anita pun tak sengaja tercebur ke kolam.


Byuurr!


Karena tidak bisa berenang, Bu Anita gelagapan di dalam air. Beruntung Dion dan Ayahnya sigap menangkapnya dan membawa naik ke pinggir.


“Mami baik-baik saja?” tanya Erwin terlihat khawatir.


“Anak tidak tahu diri. Mami hampir saja mati tenggelam! kalau Mami tenggelam, kolam ini akan menjadi kolam angker sepanjang sejarah,” celetuk Bu Anita dengan napas yang naik turun.


“Kok, Erwin yang di salahkan!?” protes Erwin.


“Sudah, sudah! Kalian ini selalu saja ribut! Karena Mami sudah basah, sekalian berenang bersama kita,” ajak suaminya.


Bu Anita berpikir sejenak, lalu mengangguk.


“Nyonya Dira. Maaf, saya di paksa oleh tiga pria ini untuk mandi,” ujar Bu Anita meminta ijin kepada nenek Dira yang duduk di gazebo.


“Hahaha... tidak perlu meminta izin Bu Anita,” sahut nenek sembari tertawa kecil.


“Ah iya,” ujar Bu Anita tersenyum malu.


Nadia dan nenek masih setia menunggu mereka berenang di kolam, sambil berbincang hangat.


Sedangkan di kolam renang, Erwin mengajar istrinya untuk berenang. Begitupun dengan orang tuanya, Dion pun mengajari Reyhan untuk berenang.


Cukup lama mereka mandi, akhirnya menyudahinya. Karena perut mereka minta di isi, apalagi Reyhan yang sejak tadi meminta makan.


Reyhan lebih dulu berganti pakaian bersama nenek Dira, karena sudah tidak tahan menahan lapar, Reyhan meminta eyang putrinya untuk menyuapinya.


Nisa dan Erwin masuk ke kamar mereka untuk mengganti pakaiannya mereka selepas berenang.


Setelah usai berpakaian, Nisa hendak melangkah keluar. Namun, tangannya di tahan oleh suaminya.


“Ada apa?” tanya Nisa.


“Tunggu sebentar, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu,” ujar Erwin sembari menarik pelan tangan istrinya.


Nisa mengerutkan keningnya, ia masih belum mengerti kemana suaminya membawanya.


Tampak Erwin memutar kenop pintu kamar kecil di dalam kamar miliknya. Nisa tak terlihat terkejut, karena sebelumnya ia pernah membuka kamar tersebut tanpa sepengetahuan Erwin.


“Lihatlah,” ujar Erwin memperlihatkan kamar tersebut.


Nisa tersenyum.


“Kenapa tersenyum seperti itu?”


“Sebenarnya... aku pernah membuka kamar ini, maaf!” lirih Nisa.


Erwin menatapnya dengan wajah serius.


“Kapan?” tanyanya.


Melihat wajah datar Erwin, Nisa sedikit takut.


“Jadi... kau sudah mengetahui ini.”


“Hubby, marah? Maaf ya, aku sudah lancang membukanya,” ujar Nisa langsung memeluk suaminya.


Erwin terdiam sejenak, lalu membalas pelukan istrinya.


“Aku gak marah sayang, justru aku bahagia kau sudah mengetahui ini,” sahut Erwin memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya.


“Benarkah?” tanya Nisa.


“Iya sayang,” sahut Erwin memeluk istrinya kembali.


Erwin melepas pelukannya, Erwin menunjuk sebuah foto Reyhan yang baru lahir dan ada juga foto Nisa yang memegang perut besarnya karena Erwin diam-diam memotretnya.


“Sayang, maafkan aku. Dulu menolak semua barang yang kau berikan. Aku menyesal, sungguh!” lirih Nisa lagi, matanya berkaca-kaca.


“Jangan mengingat masa lalu, aku berjanji akan membahagiakan mu dan Reyhan dan juga calon anak kita nanti. Semoga dia cepat hadir disini sayang,” ucap Erwin mengusap perut rata istrinya.


“Tapi... bagaimana, kalau dia belum hadir? Apa kau akan meninggalkanku?” lontar Nisa.


“Aku sudah bersusah payah mendapatkan mu. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu? Jika dia belum hadir, kita harus lebih giat membuatnya. Hehehe.... tapi, jika tuhan tidak mengizinkan dia tumbuh di rahim mu, tidak perlu bersedih. Ada dirimu dan Reyhan saja sudah cukup sayang!”


“Terima kasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku.”


Mereka saling berpelukan, entah sejak kapan bibir mereka menyatu.


Aktivitas mereka terhenti, ketika ada yang mengetuk kamar.


“Astaga, sayang. Kita harus ke halaman belakang! Pasti Mami marah, karena kita terlalu lama di kamar,” Ujar Nisa membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya.


“Ayo, cepat!” ajak Nisa menarik tangan suaminya untuk keluar.


Dengan terpaksa Erwin melangkah, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ceklek!


Nisa membuka pintu, terlihat wajah Maminya yang menatap mereka.


“Huh, pengantin baru. Cepatlah turun, semua orang sedang menunggu kalian!” Ujar Bu Anita.


“Maaf Mi, Erwin mengajakku mengobrol tadi.”


“Huft... Iya Mami mengerti. Ayo, Mami sudah sangat lapar!”


Mereka melangkah bersama menuju halaman belakang.


Saat tiba di sana, semua orang menatap mereka.


“Lama banget sih Mi? Papi sudah lapar!” protes ayahnya Erwin dengan wajah lesu.


“Jangan salahkan Mami! Salahkan anak papi yang tampan itu!” celetuk Bu Anita.


“Kok Erwin lagi Mi!” protes Erwin.


“Haduh... di pending saja berantemnya, Papi sangat lapar!” Celetuk ayahnya lagi.


Semua orang terkekeh melihat ayahnya Erwin yang sejak tadi menahan lapar.


Mereka mulai makan siang bersama, terselip canda dan tawa mereka. Apalagi melihat tingkah Reyhan yang menurut mereka sangat lucu.


Sedang asyik menikmati makan, Erwin menghampiri ibunya.

__ADS_1


“Mi,” panggil pelan Erwin duduk di samping ibunya.


“Ada apa? Mami lagi makan, jangan ganggu!”


“Mi, suapi Erwin dong. Sudah sangat lama ingin makan dari tangan Mami,” ujar Erwin dengan wajah yang di buat-buatnya.


Mendengar itu, Bu Anita merasa sedih dan mulai berkaca-kaca.


“Kemari sayang,” ujar Bu Anita lembut.


Erwin mendekatkan wajahnya, ia makan makanan dari tangan Bu Anita, tanpa sadar Bu Anita malah menitikkan air matanya.


“Mami kok nangis? Maaf kalau Erwin membuat Mami sedih.”


Erwin langsung memeluk Bu Anita yang terlihat menghapus air matanya.


“Tidak sayang. Ini tangis bahagia.”


Bu Anita kembali menyuapi putranya hingga berulang kali.


Semua orang ikut terharu melihat kebersamaan Erwin dan Bu Anita. Tak terkecuali nenek Dira, bahkan sempat meneteskan air mata karena teringat putrinya yang sudah tiada. Nisa melihat jelas ketika neneknya menghapus air matanya, ia sangat mengerti jika neneknya juga pasti merindukan putrinya yaitu ibunya yang sudah tiada.


Sedang menikmati makan siang, tanpa mereka sadari seorang gadis yang menyelinap masuk dan melangkah menghampiri mereka.


“Selamat siang. Apa tidak ada yang merindukan aku?” tanyanya dengan senyum tipis di bibirnya.


Semua orang menoleh ke arah sumber suara tersebut.


“Sifa,” ucap Erwin dan Dion bersamaan.


“Iya,” sahutnya.


Erwin dan Dion melangkah menghampiri Sifa yang masih mematung di tempatnya. Tak terkecuali kedua orang tuanya, mereka dikejutkan dengan putri bungsunya tersebut.


“Sifa menyusul kemari, Pi.”


“Iya, Mi. Kok gak mengabari kita terlebih dahulu?”


“Kakak, Sifa sangat merindukan kalian,” ujar Sifa memeluk secara bergantian kedua kakaknya.


Setelah itu, Sifa menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangan mereka bergantian dengan nenek Dira.


“Sayang, kok gak kasih tahu Mami sih? Kamu sama siapa kemari?”


“Sengaja, Sifa kasih kejutan untuk kalian. Tenang saja Mi, Sifa gak sendirian kok.”


“Oh syukurlah. Mami khawatir, jika Sifa pergi sendiri kemari,” sahut maminya.


Sifa menghampiri Nadia yang tengah duduk memperhatikan dirinya.


“Hai kak, apa kabar?” tanya Sifa.


“Alhamdullilah, baik sayang.”


Ia beralih ke Nisa yang duduk di samping Erwin.


“Ini pasti kak Nisa, iya kan?” tebak Sifa.


Nisa tersenyum, lalu mengangguk.


“Apa kabar kak? Maaf, Sifa terlambat datang ke acara resepsi pernikahan kakak,” tutur Sifa.


“Tidak apa-apa sayang.”


“Dimana dia?” tanya Sifa.


Nisa mengernyitkan kening bingung, ia tidak mengerti siapa dia yang di maksud oleh Sifa.


“Siapa?” tanya Erwin.


“Itu, Reyhan. Dimana dia, aku tidak melihatnya,” ujarnya melihat sekelilingnya.


“Oh Reyhan. Itu,” sahut Erwin menunjuk Reyhan yang sedang bermain dengan mobilnya.


“Reyhan,” panggil Sifa yang melangkah menghampiri Reyhan.


“Kakak siapa?” tanya Reyhan heran.


Karena baru pertama kali melihat Sifa secara langsung.


“Tebak aku siapa?” Sifa malah balik memberi pertanyaan.


Reyhan menggelengkan kepalanya.


“Bukankah, Reyhan yang menghubungi aunty kemarin malam, melalui panggilan video. Lupa ya!”


“Oh, aunty Sifa?” tebak Reyhan.


Sifa mengangguk.


“Ayo aunty, kita bermain mobil ini,” ajak Reyhan.


Sifa mengangguk, ia malah ikut masuk bersama Reyhan ke dalam mobil kecil tersebut.


Semua orang tersenyum, melihat Sifa dan Reyhan yang langsung akrab bermain bersama. Walaupun usia Sifa sudah beranjak dewasa, ia tidak pernah malu bermain dengan anak-anak di bawahnya. Karena ia sangat menyukai anak kecil.


***


Di malam hari, Nisa baru saja mengantar neneknya ke teras rumah.


Berulang kali Nisa membujuk neneknya agar menginap dirumah Erwin, akan tetapi nenek menolak. Karena nenek tidak bisa tidur, jika tidak di kamarnya sendiri.


“Kak,” panggil Sifa.


Ia baru saja menuruni tangga.


“iya,” sahut Nisa.


“Kakak sibuk gak? Aku pengen cerita deh sama kakak.”


“Enggak sibuk sih. Mau cerita apa?”


“Kita ke kamar Sifa saja yuk,” ajak Sifa menarik pelan tangan kakak iparnya.


“Iya. Tapi, Kakak harus memberitahu kakak Erwin dulu, ya.”


“Gak perlu kak, aku sudah memberitahu kak Erwin tadi.”


“Oh, benarkah?”


“Iya, kak!” sahut Sifa.


Nisa mengangguk, ia mengikuti langkah Sifa yang menggandeng tangannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2