
Setelah keluar dari ruangan Bara, pak Zaky menemui orang yang di percayainya.
“Andi,” panggilnya.
“Iya pak,” Sahutnya.
“Kamu ke ruangan saya sekarang,” ucapnya langsung berlalu pergi.
“Tumben sekali pak Zaky langsung ke ruangan ku? Biasanya melalui telepon,” batinnya merasa heran.
Andi pun bergegas ke ruangan Pak Zaky, tanpa menunggu lagi.
Tok, tok, suara ketukan jari Andi mengetuk pintu ruangan pak Zaky.
“Permisi pak,” ucap Andi yang sudah membuka pintu ruangan.
“Silahkan duduk dulu, aku ingin bicara serius denganmu,” ucap Pak Zaky.
“Iya pak.”
Dengan patuh, pak Andi duduk di kursi yang ada di depannya.
“Andi, kamu kan sudah sangat lama bekerja disini. Kamu pun juga orang yang saya percayai,” ucapnya menatap Andi sejenak.
“Iya pak. Apa ada yang bisa saya bantu,” ucap Andi dengan ada sopan.
“Tolong kamu awasi karyawan baru kita, entahlah saya kurang yakin dengannya.”
“Pak Bara yang dimaksud pak Zaky?”
“Iya,” sahutnya.
“Baik pak.”
“Kamu awasi dia dan lihat bagaimana kinerjanya selama masa percobaan ini,” perintah pak Zaky.
“Baik pak.”
“Oh iya, satu lagi. Kamu pindah ruangan, mulai besok kamu dan Bara akan menjadi satu ruangan. Karena ruangannya cukup luas, kamu juga bisa mengawasinya sambil bekerja,” perintah pak Zaky.
“Dan masalah gajihmu, akan saya naikkan mulai bulan depan beserta bonusnya dan terima kasih sebelumnya sudah membantu saya,” tambahnya lagi.
“Iya pak. Itu sudah jadi tugas saya pak, saya juga berterima kasih,” ucapnya senang, karena mendapatkan kenaikan gajih.
“Kamu boleh keluar,” ucap Zaky tersenyum.
“Baik pak, saya permisi.”
Pak Zaky mengangguk, melihat Andi yang sudah keluar dari pintu ruangannya, ia bernafas lega.
Pak Zaky, adalah orang yang di percaya mengurus perusahaan tersebut. Di karena kan sang pemilik harus bolak balik ke luar negeri mengurus bisnis yang disana.
Pemilik perusahaan tersebut tidak mempunyai anak lagi, dulu pernah mempunyai anak semata wayangnya. Namun, akibat kecelakaan tersebut hingga merenggut nyawa anak dan menantunya.
***
Di rumah mewah milik nenek Dira, hari ini hatinya sangat gembira. Ia mendapatkan kabar baik dari Toni sopirnya sekaligus orang yang ia percaya.
__ADS_1
Ia sangat tidak sabar menunggu kedatangan Toni, yang masih dalam perjalanan.
“Lama sekali,” gerutunya.
Nenek Dira, kembali duduk di sofa empuknya. Mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya, nenek Dira bergegas keluar membuka pintu.
“Toni,” panggilnya melihat Toni yang baru saja keluar dari mobil.
“Iya nyonya,” sahutnya.
“Kamu ini, lama sekali! Aku sudah tidak sabar menunggumu!” protesnya.
“Maaf Nyonya, jalanan cukup ramai.”
Toni mengikuti belakang nenek Dira, sambil memegang amplop besar di tangannya.
“Bagaimana?” tanya Nenek Dira.
“Ini nyonya, aku baru mendapatkan datanya.”
Menyerahkan amplop tersebut, lalu membacanya dengan teliti.
“Duduk dulu Ton, mau sampai kamu berdiri disitu?” ucapnya melihat Toni hanya berdiri di samping sofa.
“Iya nyonya, maaf.”
Dengan patuh, Toni duduk di sofa yang berhadapan dengan nenek Dira.
“Ini asli?” tanya nenek Dira menatap Toni.
“Harusnya asli nyonya. Saya minta data dari KUA, nama orang tua kandung Nisa nyaris sama dengan nama anak nyonya. Tapi saya mendatangi alamat rumah yang tertera di data, rumah itu tidak berpenghuni.”
“Iya nyonya, menurut tetangga sekitar. Rumah tersebut adalah milik orang tua Nisa, ayahnya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu dan ibunya masih ada, tapi tidak tahu keberadaannya.”
Ada raut wajah sedih di wajah nenek Dira.
“Tapi nyonya, mereka bukan orang tua kandung Nisa.”
Mendengar itu, ada senyum yang terukir di wajahnya.
“Benarkah, kemana orang tuanya?” tanyanya penasaran.
“Menurut informasi yang saya dapat, saat itu orang tua Nisa meninggal akibat kecelakaan. Karena Nisa tidak mempunyai keluarga, ia di angkat oleh tetangga yang menjadi orang tua Nisa sekarang.”
“Kemungkinan lima puluh persen Nisa adalah cucu kandung nenek, tapi lima puluh persen belum pasti, nyonya.”
“Jadi, bagaimana caranya agar menjadi seratus persen?” tanya nenek Dira dengan semangat.
“Tes DNA nyonya,” ucap Toni menyarankan.
“Bagaimana caranya?” tanya nenek antusias.
“Mungkin nyonya bisa meminta rambut nona Nisa.”
“Kau ini bodoh sekali! Bagaimana bisa aku meminta rambutnya, nanti malah curiga!” protesnya.
“Tapi itu jalan satu-satunya nyonya.”
__ADS_1
“Lebih tidak mungkin lagi, kalau nyonya meminta darahnya,” ucap Toni.
Nenek Dira berpikir sejenak lalu mengangguk mengerti.
“Baiklah, akan aku coba.”
“Tapi, berapa lama hasilnya akan keluar?”
“Kurang lebih tiga Minggu nyonya,” ucap Toni.
“Lama sekali, apa tidak bisa satu hari! Aku akan membayar tiga kali lipat.”
“Tidak bisa nyonya.”
“Huft. Nanti aku pikirkan bagaimana caranya, diam-diam mencuri rambutnya,” ucap nenek.
“Baiklah, kamu boleh istirahat.”
“Nyonya, lusa kita harus keluar negeri. Ada yang ingin bertemu dengan Nyonya langsung, ia akan menanda tangani surat kontraknya jika sudah bertemu dengan nyonya.”
“Lalu bagaimana dengan disini?”
“Disini sudah aman nyonya, pak Zaky sudah mengurus semuanya,” ucap Toni menjelaskannya Karana beberapa Minggu yang lalu perusahaannya mengalami kerugian, akibat ada beberapa karyawan yang menyalahgunakan uang perusahaan.
“Apa orangnya sudah di tangkap?”
“Apa mereka tidak bisa mencari uang halal? Padahal uangnya untuk menafkahi anak dan istrinya di rumah. Sungguh miris memberi menafkahi dengan uang tidak halal,” ucap nenek Dira dengan kesal.
“Sudah nyonya. Sekarang ada karyawan baru yang cukup berpengalaman, yang menggantikan karyawan yang sudah di PHK.”
“Baiklah. Katakan kepada pak Zaky, jangan sampai lengah lagi. Kalau tidak kalian semua yang akan membayar gajih ratusan karyawanku,” ancam nyonya Dira.
Toni menelan ludah kasar, mendengar ancaman dari nyonya Dira.
“Kamu dengar Toni!”
“I-iya nyonya,” sahut Toni tampak gugup.
“Oke. Aku akan kembali ke kamarku, persiapan semuanya untuk kita berangkat lusa nanti.”
“Iya nyonya,” sahut Toni.
Nenek Dira mengangguk, lalu beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya di lantai atas.
“Oh iya Toni, saya hampir lupa. Besok pagi antarkan aku ke rumah Nisa, setelah itu ke rumah sakit,” ucapnya ketika di tengah-tengah tangga.
“Iya nyonya,” sahut Toni yang sudah hendak pergi, namun terhenti ketika nenek Dira memanggilnya.
Setelah tiba di dalam kamarnya, nenek Dira memperhatikan lagi nama yang tertera di kertas putih tersebut.
“Aku berharap engkau benar-benar cucuku,” gumam nenek Dira.
Tanpa sadar air matanya menetes, membasahi kertas tersebut.
“Anakku, maafkan mama yang dulu egois,” gumamnya melihat foto dirinya dan anaknya sedang berpelukan yang tergantung di dinding kamarnya.
.
__ADS_1
.
.