
Di pagi hari, tampak Nisa mulai mengerjapkan kedua matanya. Setelah matanya terbuka dengan sempurna, yang pertama ia cari adalah keberadaan suaminya. Nisa melirik ke samping, terlihat jelas Bara tidur dengan posisi meringkuk di sofa panjang.
Nisa begitu kasihan melihat suaminya, yang masih terlelap dengan tangannya menjadi bantalan. Bara masih memakai pakaian yang sama dengan pakaian yang ia kenakan kemarin.
Terlihat jelas wajah lelah suaminya, sejak kemarin menemaninya, timbul rasa bersalah dalam hatinya.
Nisa berusaha untuk duduk. Namun, ia merasakan nyeri yang luar biasa di kakinya. Hingga membuat meringis kesakitan.
“Aw...!” teriak Nisa tanpa sadar.
Mendengar suara istrinya yang merasakan kesakitan, Bara membuka kelopak matanya. Melihat sang istri sudah bangun, ia melihat istrinya meringis kesakitan.
Bara dengan sigap beranjak dari sofa, menemui istrinya dan berusaha membantunya untuk duduk.
“Sayang, kau sudah bangun? Apa sangat sakit?” Tanya Bara melihat sang istri meringis.
“Iya. Sangat sakit mas,” sahut Nisa dengan suara bergetar.
“Sayang tahan ya sebentar. Kau sarapan dulu, setelah itu minum obat. Agar mengurangi rasa nyerinya.”
Bara mengambil makanan, yang sudah tersedia di meja. Rupanya saat mereka masih terlelap, petugas rumah sakit sudah mengantar sarapan untuk pasien.
Tidak lupa, Bara terlebih dahulu menyapu pelan wajah istrinya dengan tisu basah. Masih ada sedikit noda darah dan luka yang sudah mulai mengering. Setelah selesai, Bara mengambil mangkok yang berisi bubur tersebut.
“Aaa, buka mulutnya. Aku akan menyuapi mu,” ucap Bara.
Nisa yang patuh, mulai membuka mulutnya dan mengunyah makanan dengan perlahan.
“Mas juga makan,” ujar Nisa menyodorkan sendok ke arah mulut suaminya.
“Aku akan sarapan nanti. Cepat makanlah yang banyak.”
Nisa yang terdiam sejenak menatap suaminya, dengan tatapan kasihan.
“Apa yang kau lihat? Jangan mengasihani ku! Cepat makanlah!” ucap Bara meninggikan suaranya.
Nisa tertunduk sedih, ia berpikir jika suaminya sangat marah kepadanya.
__ADS_1
Terdengar ketukan dari luar ruangan, terlihat beberapa polisi yang datang menghampiri mereka.
“Selamat pagi. Maaf mengganggu waktunya, kami dari kepolisian. Kami ingin meminta keterangan dari Nona Anisa, atas kecelakaan kemarin.”
“Iya selamat pagi.”
Nisa menatap suaminya, untuk meminta persetujuan. Bara langsung mengangguk pelan, tanda ia setuju.
“Boleh. Silahkan,” sahut Bara.
“Maaf Nona. Apakah sebelumnya pergi, anda melihat ada mobil yang mengikuti anda.”
Nisa menggelengkan kepalanya.
“Saat itu, saya sedang terburu-buru. Saya hendak pergi ke kantor tempat suami saya bekerja, hanya untuk memastikan jika suami saya baik-baik saja. Karena sebelumnya, ada yang mengirim pesan.”
Bara mengernyitkan keningnya.
“Apakah sebelumnya anda ada mencurigai seseorang?”
Nisa kembali menggeleng kepalanya pelan.
“Maaf Pak, apakah anda bersedia menyusul kami ke kantor untuk diminta keterangan?”
Bara langsung mengangguk setuju, karena sebelumnya ia juga ingin melaporkan ke polisi. Karena melihat istrinya yang masih terbaring, niatnya diurungkan.
“Baik, Terimakasih atas kerjasamanya. Cepat sembuh Nona,” Ucap Polisi tersebut.
Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Bara kembali menatap istrinya dengan penuh selidik.
“Kau ingin ke kantor ku?”
“Ma-aas maafkan aku. Saat itu aku sangat khawatir, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya memastikan mas baik-baik saja.”
Dengan suara yang bergetar, Nisa menjelaskan kepada suaminya.
__ADS_1
Bukannya marah, Bara duduk di samping istrinya lalu memeluknya.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku,” bisik Bara.
“Lain kali jangan melakukan hal membahayakan nyawamu lagi!”
“Maafkan aku mas.”
Bara melepaskan pelukannya, beberapa kali meninggalkan ciuman di pipi istrinya.
“Aku tidak tahu jika ada yang mengikuti ku mas, aku...”
“Sudah, cukup! Jangan pikirkan itu lagi, sekarang minum obatmu dan istirahat.”
Bara mengambil obat di meja, lalu memberikan kepada istrinya. Setelah memastikan istrinya minum obat, Bara membantu istrinya untuk berbaring kembali.
“Aku pergi sebentar. Apa kau tidak keberatan?”
Nisa tersenyum lalu mengangguk.
“Iya mas, hati-hati di jalan.”
“Iya. Aku hanya pergi sebentar, aku akan meminta perawat untuk menjagamu disini,” ucap Bara kembali mencium istrinya.
Sebelum keluar pintu ruangan, Bara kembali melihat istrinya.
“Ada apa Mas?” tanya Nisa melihat suaminya menatap dirinya.
“Tidak, aku akan pergi dulu,” pamit Bara lagi dan akhirnya benar-benar pergi.
Nisa menggelengkan kepalanya melihat suaminya seperti enggan untuk pergi. Beberapa detik memandang ke arah pintu, Nisa mulai memejamkan matanya, mencoba untuk tidak merasakan nyeri di kakinya.
Sesampainya di parkiran, Bara mengepal kuat tangannya.
“Siapa mereka? Apa benar ini kecelakaan ini disengaja! Aku tidak akan mengampuninya!” geram Bara dengan di penuhi emosi.
.
__ADS_1
.
.