
Nisa melepaskan pelukan dari suaminya.
“Kamu kenapa? Tiba-tiba bicara seperti ini, apa itu tanda-tanda mau mati?” celetuk Nisa.
Bara terkekeh, mendengar celetukan istrinya.
“Kau sepertinya menginginkan aku cepat mati?”
“Tidak, bukan begitu. Hanya saja, kata orang tua dulu kalau orang mau meninggal ia memberi isyarat.”
“Kamu ini ada-ada saja.”
Bara mencubit pipi pelan istrinya dengan gemas, namun tidak membuat nya sakit.
“Nisa, maaf kan aku. Walaupun kau tak memberi ku kesempatan lagi, ku mohon jangan membenci ku.”
Nisa berpikir sejenak, lalu tersenyum melihat suaminya yang terlihat cemas. Ia baru menyadari sikap suami nya tiba-tiba berubah menjadi pendiam sejak ia keluar kamar tadi.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa kau masih waras?” tanya Bara meletakkan tangan di kening istrinya.
“Aku masih waras!”
“Terus kenapa senyum-senyum? tidak ada yang lucu disini!”
“Aku hanya pulang sebentar, hanya mengambil pakaian ku dan minta ijin ke untuk tidak masuk bekerja hari ini.”
“Maksudnya?” tanya Bara bingung.
“Aku memberi mu kesempatan untuk kita, untuk memulai nya dari awal.”
“Kau tidak bercanda kan? Kau serius kan? Apa aku sedang bermimpi.”
“Iya, aku serius. Kamu tidak sedang bermimpi.”
Bara langsung memeluk Nisa senang, untuk ke sekian kali nya mencium pucuk kepala istrinya.
“Sudah, sudah. Ojek nya sudah menunggu sejak tadi, kasihan.”
Bara melepaskan pelukan nya.
“Aku akan mengantar mu!”
“Tidak perlu, kamu kan masih sakit.”
“Aku sudah sembuh, coba pegang,” sahut Bara mengambil tangan istrinya, dan meletakkan tangan di dahi nya.
“Baiklah, jika kau memaksa. Tapi ojek nya bagaimana?”
__ADS_1
Bara terdiam sejenak berpikir.
“Aku akan membayar nya, dua kali lipat!”
“Sombong sekali,” seru Nisa.
“Ayo,” ajak Bara mengambil tangan istrinya berjalan keluar rumah.
“Pak maaf, istri saya tidak jadi naik ojek. Tapi saya akan tetap bayar,” ucap Bara mengambil uang di dompetnya, lalu memberikan nya kepada driver ojek.
“Iya, gak apa-apa pak.”
“Maaf banget ya pak,” ucap Nisa kepada driver ojek.
“Iya neng, gak apa-apa. Saya permisi neng.”
Nisa tersenyum mengangguk.
“Ayo,” ajak Nisa.
Mereka masuk ke dalam mobil, sebelumnya Bara tidak lupa untuk mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
Sudah separuh perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Namun, tangan Bara masih menggenggam tangan istrinya.
“Bara, tangan ku kebas, tolong lepaskan dulu!”
Terlihat Nisa mengibas-ngibas tangan nya karena sedikit kebas.
“Apa tangan mu sakit?” tanya Bara khawatir ia langsung menepi kan mobil nya. Lalu mengambil tangan istri nya dengan melakukan pijatan halus.
“Tidak sakit, hanya sedikit keram.”
“Maaf ya,” ucap Bara merasa bersalah, lalu mencium tangan istrinya. Wajah Nisa bersemu merah karena malu, sejak tadi Bara mencium nya.
“Sudah tidak keram,” ucap Nisa menarik cepat tangannya.
“Yakin?”
Nisa mengangguk, Bara tersenyum lalu kembali melaju kan mobil nya.
“Kamu kerja dimana?” tanya Bara memulai percakapan.
“Di restoran xx,”
“Berhenti lah bekerja, aku sebagai suami mu masih bisa menafkahi mu. Walaupun sekarang aku pengangguran, aku punya sedikit tabungan untuk kita bertahan beberapa bulan sebelum dapat pekerjaan.”
“Tapi, aku baru seminggu bekerja. Masa ia langsung berhenti!” seru Nisa.
__ADS_1
“Masalahnya, jarak rumah dan tempat mu bekerja cukup jauh.”
“Aku tidak mau kau kelelahan, kau harus bekerja bangun pagi dan juga melayani suami mu di rumah,” tambah Bara.
“Melayani?” lirih Nisa.
“Iya, memasak dan lain sebagainya, apa itu tidak melayani namanya?”
“Oh itu,” sahut Nisa terlihat malu.
“Kau pikir apa?” tanya Bara sambil tersenyum.
“Hah, ti-tidak!” Nisa tampak gugup.
Bara tersenyum kembali, ia tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya.
“Aku tidak memaksa jika kau belum siap.”
“Apa, ti-tidak, bu-bukan begitu,” ucap Nisa gugup.
“Jadi kau sudah siap?” goda Bara.
Sambil fokus menyetir namun masih sempat menggoda istrinya.
“Tidak!” ucap Nisa memalingkan wajah nya. Ia sangat malu jika membicarakan hal yang sensitif.
Bara terkekeh melihat istrinya yang masih malu-malu.
“Dimana rumah mu?” tanya Bara ketika sudah tiba di tempat ia bertemu Nisa kemarin.
“Di situ,” ucap Nisa menunjuk gang kecil.
Bara memarkirkan mobil nya, lalu ikut turun mengikuti belakan Nisa yang terlebih dulu berjalan.
“Masuk lah,” ajak Nisa ketika sudah membuka pintu rumahnya.
“Jadi selama ini kau tinggal disini? Aku mencari mu hingga ke luar kota saat itu.”
Bara berjalan tanpa melihat arah depan, ia menabrak Nisa yang tiba-tiba berhenti.
Bruak..., dengan cepat Bara menangkapnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Bara.
Mereka saling berpandangan, Bara semakin mendekatkan wajahnya. Ia tertuju pada bibir Nisa yang begitu menggoda, hingga berjarak satu senti.
“Hei...!” teriak seseorang dari luar rumah, yang begitu nyaring.
__ADS_1
Bersambung...