
Meeting siang ini berjalan dengan lancar, selesai meeting Erwin lebih dulu berpamitan keluar ruangan tersebut. Sisanya ia serahkan kepada Dion, asistennya.
“Pa, Reyhan lapar.”
Seketika langkah Erwin terhenti, ia baru menyadari jika Reyhan belum makan setelah pulang bermain bersamanya tadi.
“Astaga, Anak papa belum makan ternyata, papa meletakkan berkas ini dulu, baru kita makan. Bagaimana?”
Reyhan mengangguk.
“Mau makan apa sayang?” tanya Erwin sambil membuka pintu ruangannya.
“Mau makan ayam goreng aja,” sahut Reyhan.
“Baiklah, Reyhan duduk dulu. Papa tanda tangan berkas ini dulu.”
Dengan patuh, Reyhan duduk di sofa yang berada di ruangannya.
“Sialan!” umpat Dion yang baru memasuki ruangan.
“Jaga bicaramu, ada anak kecil disini!” protes Erwin.
Ia menatap wajah Dion yang sedikit kesal.
“Ada apa?”
“Aku tidak ingin kau menandatangani surat kerja sama itu! Jangan mau bekerja sama dengan mereka!” kesal Dion.
“Memangnya, Apa yang mereka bicarakan padamu? Sehingga membuatmu kesal seperti ini.”
“Mereka tidak bicara apapun, Malah memberi pujian, tentang perusahaanmu maju dengan begitu pesat.”
“Terus ... apa yang membuat kesal begini?”
“Aku tidak suka ada Miranda disana. Jangan sampai kau luluh dan kembali kepadanya, dari tatapannya kepadamu sepertinya dia mempunyai niat jahat!”
Dion memperingati sahabatnya tersebut.
“Kau tenang saja. Aku tidak akan luluh kepadanya.”
Membuat Dion bernapas lega.
“Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan setelah ini? Kamu harus berhati-hati. Bara sudah jadi korbannya, jangan ada lagi korban selanjutnya.”
“Aku tidak bodoh!”
“Cih! Kau bodoh dalam cinta!” ketus Dion.
Erwin hanya mengangkat bahunya tanda tidak peduli dengan perkataan Dion.
“Jangan bahas masalah itu disini dan ini masih jam kerja!” ucap Erwin memperingati sahabatnya tersebut.
“Kau mau kemana?” tanya Dion melihat Erwin bersiap-siap.
“Aku ingin makan siang bersama Reyhan. Aku lupa memberinya makan,” ucap Erwin terkekeh.
“Astaga, ayah macam apa kau ini?! Jika Nisa tahu kau tidak memberi anaknya makan, sama saja kau membangunkan singa yang sedang tidur.”
“Diam kau. Ini aku ingin mengajaknya makan!” protes Erwin.
Membuat Dion terkekeh.
“Kalian makan dimana?”
“Di restoran dekat sini. Kenapa?”
“Apa aku boleh ikut denganmu? Sebentar lagi kan jam kerja sudah selesai, tidak ada pekerjaan lagi.”
“Ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu.”
Erwin tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Reyhan yang masih setia menunggunya.
“Ayo sayang,” ajaknya mengambil tangan bocah tersebut.
“Apa lagi yang kau tunggu? Cepat ikutlah bersama kami,” ucap Erwin saat hendak membuka pintu.
“Oh sialan. Aku kira kau tidak ingin mengajakku,” umpat Dion.
Dion berlari kecil mengejar mereka.
__ADS_1
Saat di lift, Erwin mendapat telepon dari nomor yang tidak di kenal.
“Nomor siapa ini?”
“Kau tanya kepada siapa?”
“Memangnya di lift ada siapa? Hanya ada kita bertiga disini!” kesal Erwin.
Dion mengambil ponsel Erwin, melihat nomor tersebut dengan teliti.
Dion menggeser layarnya, untuk menerima panggilan.
“Halo.”
“Halo nak Erwin. Ini nenek Dira,” sahut dari dalam ponsel tersebut.
“Nenek Dira,” ucap Dion menyerahkan ponsel tersebut.
“Iya nek, ada apa?”
“Bagaimana dengan Reyhan, apa dia merepotkanmu?”
“Reyhan baik-baik saja nek. Aku akan mengantarkannya, setelah selesai makan Nek. Saat ini kami sedang menuju restoran.”
“Baiklah. Kalian berhati-hatilah.”
“Iya Nek.”
Panggilan itu pun berakhir, bersamaan dengan terbukanya pintu lift.
Mereka melangkah beriringan, menuju mobilnya.
Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di restoran tersebut, karena jaraknya hanya beberapa meter saja dari kantor Erwin.
Setelah mendapatkan meja yang kosong, tak lama datang pelayan restoran menyerahkan buku menunya.
“Rey mau yang mana sayang?” tanya Erwin memperlihatkan buku menu tersebut.
“Yang ini Pa,” sahutnya menunjuk Ayam goreng tepung.
“Baiklah.”
Erwin menatapnya tajam, membuat Dion cengengesan.
“Sesekali bolehlah bos yang memesankan untuk anak buahnya.”
“Hm ...!” deham Erwin.
Setelah selesai, Erwin memanggil pelayan restoran tersebut.
“Oh ya, aku memberimu cuti seminggu untuk pernikahanmu.”
“Hah, cepat sekali! Tidak bisa dua Minggu?” protes Dion.
“Dikantor lagi banyak pekerjaan. Aku sedang membutuhkan bantuanmu, kita harus ke luar kota setelah pernikahan mu selesai. Ada proyek baru di sana,” ucap Erwin.
“Tapi jika kau tidak mau tidak masalah. Aku akan mengambil masa cutimu, agar kau tidak bisa mendapatkan cuti sama sekali!” ancam Erwin.
“Eh mana bisa begitu. Baiklah, aku hanya cuti seminggu,” ucap Dion pasrah.
Makanan yang mereka pesan pun datang.
Erwin dengan telaten menyuapi Reyhan, kelihatan Reyhan benar-benar sangat lapar. Membuat Erwin merasa bersalah, karena lupa memberi anak tersebut makan siang.
“Kau sudah cocok menjadi bapak.” Lontar Dion melihat Erwin yang begitu mahir menyuapi Reyhan.
“Memang aku sudah jadi bapak-bapak. Sebentar lagi kau juga merasakannya,” sahut Erwin.
Hening sejenak.
“Bukankah ada hal yang penting ingin kau bicarakan? Bicaralah,” ucap Erwin.
Percakapan mereka terhenti, ketika Reyhan berteriak memanggil Mamanya.
“Mama ...,” teriak Reyhan tampak senang melihat mamanya masuk ke restoran tersebut.
Membuat Erwin dan Dion saling bertatapan.
“Mampus!” umpat Dion.
__ADS_1
Nisa mencari asal suara tersebut, ia sangat kenal dengan suara yang memanggilnya.
“Mama ... Rey disini.” Rey Kembali memanggil Mamanya.
“Pa, ada Mama.” Antusias Reyhan.
Membuat Erwin tersenyum paksa.
Nisa tersenyum melihat putranya ada di restoran yang sama. Namun, senyuman itu seketika langsung memudar, melihat orang yang duduk di samping putranya.
“Habiskan dulu makannya sayang. Ini suapan terakhir,” ucap Erwin memberi suapan terakhir, karena makanan di piringnya habis tak bersisa.
“Anak Mama disini? Eyang putri dimana sayang?”
Nisa menghujani putranya dengan pertanyaan.
“Jangan menyalahkan Nenek. Aku yang mengajaknya kesini,” sahut Erwin lembut.
Namun, perkataan Erwin tak di hiraukan oleh Nisa.
“Mama, Rey baru selesai makan sama Papa. Mama ayo duduk sini.”
Reyhan turun dari kursi dan menarik tangan Nisa untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengan Erwin.
Dion yang sejak tadi hanya jadi pendengar.
“Mama ada pekerjaan sayang. Ayo ikut Mama masuk.”
Nisa menolak untuk duduk. Ia mengambil tangan putra untuk mengajaknya masuk ke dalam.
“Tunggu Ma,” ucap Reyhan melepaskan tangan Nisa.
Ia menghampiri Erwin dan menarik tangannya.
“Ayo Pa, kita masuk sama Mama.”
Erwin dan Nisa saling menatap sejenak, dengan cepat Nisa memalingkan wajahnya kearah lain.
“Maaf. Papa gak bisa, sayang. Papa harus bekerja,” tolak Erwin lembut.
“Bekerja? Ini sudah sore Pa!” protes Reyhan.
“Ayo Pa, kita masuk sama Mama!” sambil menarik tangan Erwin, dengan suara bergetar menahan tangis.
Karena tidak tega, Erwin terpaksa mengiyakan. Melihat Erwin menyetujui ajakan putranya, Nisa lebih dulu melangkah meninggalkan mereka.
Nisa datang ke restoran tersebut, ada pertemuan dengan kliennya dan sudah memesan ruang VIP oleh Toni. Namun, tanpa duga ia bertemu putranya dan Erwin di restoran yang sama.
Sesampainya di ruangan tersebut, Nisa duduk bersebelahan dengan Toni. Erwin merasa canggung ketika masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Toni. Batalkan pertemuan kita hari ini. Kita ganti besok pagi,” ucap Nisa dingin.
“Tolong bawa Reyhan pulang lebih dulu. Aku bisa pulang naik taksi.”
“Baik Nona.”
Toni membujuk Reyhan untuk ikut bersamanya.
“Papa. Papa nanti pulang ke rumah kita kan? Reyhan mau tidur sama Papa nanti ya,” ucap Reyhan.
Erwin berjongkok, agar wajah mereka bersejajar.
“Iya sayang,” sahut Erwin mengusap halus Pipi Reyhan.
Sebelum Reyhan keluar, Reyhan mencium kedua pipi Erwin.
Nisa melihat pemandangan di depannya, membuatnya merasa bersalah sudah melarang Erwin untuk bertemu putranya.
“Dadah Papa, dadah Mama,” ucap Reyhan melambaikan tangannya.
Setelah kepergian Reyhan, hanya tinggal Erwin dan Nisa di dalam ruangan tersebut.
“Aku permisi,” pamit Erwin membalikkan badannya menuju pintu keluar.
“Tunggu!”
.
.
__ADS_1
.