
Sesampainya di mall tersebut.
Erwin mencari tempat parkiran yang kosong, setelah menemukannya Erwin memarkirkan mobilnya dengan benar.
Erwin menggandeng tangan istri dan putranya masuk ke dalam, ketika hendak masuk ke dalam lift langkah mereka terhenti ketika ada yang memanggil Nisa.
“Nisa,” panggil seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka.
Nisa dan Erwin menoleh ke arah suara.
“Paman!” lirih Nisa.
Erwin mengernyit keningnya, Nisa dan Erwin saling bertatap sejenak.
“Siapa dia?” bisik Erwin kepada istrinya.
“Maaf, sebelumnya kita memang belum pernah bertemu. Tapi, saya mengenal anda Tuan.”
“Perkenalkan, saya adalah Paman mendiang Bara, Ridwan!” ujarnya mengulurkan tangannya.
Deg!
Perasaan Erwin kurang enak, setelah mendengar pria yang ada di hadapannya ini adalah Paman dari mendiang Bara.
“Erwin, suaminya Nisa!” ujar Erwin menyambut tangannya.
Paman Ridwan melirik perut Nisa yang buncit, lalu melirik anak kecil yang di samping Erwin juga menatapnya.
“Apa aku boleh berbicara dengan Nisa?” tanya Paman Ridwan meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya.
Nisa tampak ragu menjawabnya, ia bahkan menatap suaminya terlebih dahulu.
Nisa sedikit takut, apalagi mengingat kejahatan putra pamannya yang hampir menghilangkan nyawanya.
“Bicara disini saja. Aku adalah suaminya sekarang! Jadi, aku juga harus mengetahui apa yang kalian bicarakan!” tegas Erwin.
Karena Erwin melihat wajah istrinya yang sedikit takut.
“Nisa, maafkan Paman!”
Paman Ridwan langsung bersimpuh di hadapan Nisa, bahkan ia memegang kaki Nisa untuk meminta maaf.
“Paman, jangan seperti ini. Ini di tempat umum,” ujar Nisa berusaha menghindar dari Pamannya.
Erwin menarik pelan bahu paman Ridwan dan membawanya duduk di kursi yang kebetulan ada di tempat tersebut.
Tampak paman menghapus air matanya, permintaan maaf yang begitu tulus.
“Paman, aku sudah melupakan itu semua dan aku juga sudah memaafkan Paman,” ujar Nisa lembut.
“Nisa, Paman juga meminta maaf atas nama putraku. Hidupku di hantui rasa bersalah hingga saat ini, bahkan aku sangat sulit menemuimu untuk meminta maaf.”
“Hukum saja Paman, Nisa.”
Nisa menghela napas pelan.
“Tidak Paman. Semua itu sudah berlalu, aku sudah melupakannya sekarang,” ujar Nisa menatap pamannya.
“Terima kasih. Paman merasa lega, karena sudah bertemu denganmu. Setidaknya, putraku merasa tenang disana.”
__ADS_1
Nisa mengerutkan keningnya.
“Maksudnya?” tanya Nisa bingung.
“Putraku sudah meninggal. Setahun terkurung dalam sel tahanan, dia menderita penyakit tifus dan meninggal. Sebelum kepulangannya, ia sempat menuliskan surat ini untuk Bara.”
Menyerahkan kertas kecil yang masih terlipat rapi, walaupun warnanya sudah berubah dari pada aslinya.
Seketika Erwin mengerti arah pembicaraan mereka.
“Tapi, Paman. Mas Bara sudah meninggal,” Ujar Nisa.
“Iya, paman sudah mengetahuinya. Bahkan Paman setiap bulan ke makamnya,” sahut Paman Ridwan.
“Apa anak kecil ini putra mu?” tanya Paman Ridwan melihat Reyhan yang duduk di samping Erwin.
“Iya,” sahut Erwin.
Erwin tidak menjelaskan bahwa Reyhan itu adalah putra dari Bara, ia tidak ingin menceritakannya apalagi di depan Reyhan.
“Dia sangat tampan sekali,” ujar Paman Ridwan.
Erwin hanya tersenyum menanggapinya.
“Nisa, Paman tidak pernah bosan untuk terus menerus memohon maaf, atas semua perbuatan Paman kepadamu. Bahkan saat ini Paman sudah menerima semua karmanya, putra ku meninggal dunia dan bahkan istriku juga pergi meninggalkan ku,” ucap paman tampak meratapi kehidupannya sekarang.
“Aku turut berduka, Paman. Maaf Nisa tidak mengetahuinya, jika putra Paman sudah tiada.”
“Tidak perlu meminta maaf, Nisa. Paman pantas menerima semua itu, semua itu atas keserakahan Paman. Andai saat itu Paman sadar jika perbuatan Paman itu salah, mungkin saat ini semuanya akan baik-baik saja,” tutur paman.
Bahkan terlihat jelas dari raut wajahnya, jika ia sangat menyesal.
“Terima kasih banyak Nisa,” tutur pamannya yang kembali bersimpuh di kaki Nisa, dengan air matanya yang keluar begitu saja.
Nisa berusaha menahan paman Ridwan agar tidak bersimpuh lagi dengannya, Nisa melirik suaminya agar membantunya.
“Paman, jangan seperti ini. Biar bagaimana pun, Paman orang lebih tua dari kami. Jadi, jangan melakukan itu lagi!” ujar Erwin menarik pelan bahu pamannya agar duduk kembali ke kursi.
Nisa memberikan tisu kepada paman Ridwan, agar menghapus air mata yang membasahi pipi yang sudah mulai keriput tersebut.
“Terima kasih Nak, Nisa.”
Nisa mengangguk.
“Kalau begitu, paman pamit pulang. Maaf, tadi Paman mengikuti kalian. Saat itu Paman baru pulang istirahat makan siang.”
“Iya, Paman. Berhati-hati di jalan,” ucap Nisa.
Nisa mencium tangan paman Ridwan, begitupun dengan Erwin.
Melihat paman Ridwan beranjak dari tempat duduknya, Nisa menangkap pakaian paman Ridwan yang begitu lusuh, bahkan terlihat banyak jahitan.
“Paman!” panggil Nisa lagi.
Erwin mengernyit heran, melihat istrinya memanggil paman Ridwan lagi.
“Iya,” sahutnya membalikkan badannya menghadap Nisa dan Erwin.
“Paman bekerja dimana?” tanya Nisa.
__ADS_1
Paman tersenyum.
“Paman bekerja jadi kuli bangunan. Alhamdullilah, sudah cukup memenuhi kebutuhan Paman.”
Mendengar itu, Nisa merasa sangat iba, bahkan hampir meneteskan air mata karena begitu kasihan dengan pamannya.
“Paman, kemari lah. Aku ada sesuatu untuk Paman,” ujar Nisa meraih sesuatu dari dalam tasnya.
Paman mengangguk, lalu duduk kembali di samping Nisa.
Nisa mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya dan memberikan kepada pamannya.
“Apa ini Nisa?” tanya Paman melihat Nisa memberikannya uang.
“Ini untuk Paman. Nisa tidak menerima penolakan,” ujar Nisa meletakkan paksa uang tersebut di tangan paman Ridwan.
“Tapi...”
“Terima saja Paman, doakan istriku melahirkan dengan lancar,” ujar Erwin lembut.
Paman mengangguk, ia meneteskan air mata melihat uang sebanyak itu. Biasanya ia per hari hanya mendapatkan lima puluh ribu, itu pun harus berkeliling mencari pekerjaan.
“Terima kasih banyak, Nisa.”
Dengan suara yang bergetar.
“Entah kenapa, aku sejahat itu kepadamu. Bahkan Nisa tidak menaruh dendam kepadaku, sekali lagi Paman minta maaf.”
Nisa tersenyum mengusap pelan bahu pamannya.
Paman Ridwan kembali berpamitan, sambil melangkah keluar ia memasukkan uang tersebut ke dalam kantong plastik, lalu mengikatnya dan memasukkan ke dalam saku celananya.
Nisa dan Erwin tersenyum simpul melihat kepergian pamannya tersebut.
“Sayang, hatimu terbuat dari apa sih? Aku sungguh beruntung memiliki mu,” tutur Erwin mengelus pipi mulus istrinya.
“Pa, ayo. Kita bermain,” ajak Reyhan yang tidak sabar.
“Iya. Ayo sayang,” Ujar Erwin menggendeng tangan istrinya yang tampak sedikit kesusahan untuk beranjak dari tempat duduknya.
“Huh... rasanya sangat berat,” ujarnya terkekeh melihat badannya yang semakin berisi.
“Tidak apa-apa sayang. Aku tetap cinta,” bisik Erwin ketika sudah di dalam lift, beruntung tidak ada orang dalam lift tersebut.
“Reyhan mau bermain apa, sayang?” tanya Erwin.
“Mmm...” tampak Reyhan seperti memikirkan apa yang ingin ia mainkan.
“Tapi, setelah kita belanja untuk calon adik Reyhan. Oke?”
Reyhan mengangguk antusias.
*
*
*
~Penyesalan tidak bisa mengubah masa lalu, begitupun dengan kekhawatiran tidak bisa mengubah masa depan. Hidup dengan penyesalan dan rasa bersalah, jauh lebih menyakitkan dari pada kematian.~
__ADS_1
Terima kasih banyak atas dukungan kalian semuanya 🙏🙏😊