
Bara menarik baju istri nya dengan kasar, mata Nisa membulat seketika langsung mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga dengan menggunakan kakinya.
Bugh....! suara Bara terjatuh dari tempat tidur.
Nisa gelagapan mengambil selimut, untuk menutupi tubuh atas nya yang terbuka. Namun, ia tak menyadari tatapan tajam Bara kepadanya.
“Berani sekali dirimu!” bentak Bara.
Mata Bara memerah. Nisa perlahan mundur sambil menutup tubuh nya dengan selimut, beruntung hanya baju atas nya saja yang terlepas.
Dengan cepat Bara menarik kaki istrinya, hingga terseret ke arah nya.
“Maaf kan aku tuan, aku tidak akan mengulanginya lagi!” lirih Nisa mengantup kedua tangannya.
Bara tambah murka dengan ucapan istrinya, hingga mengepalkan kedua tangan nya.
Plak..! satu tamparan mengenai pipi Nisa, hingga mengeluarkan sedikit darah di ujung bibirnya.
Nisa hanya pasrah menerima perlakuan suaminya, apakah ini akhir dari hidupnya? perlahan matanya tertutup dirinya hingga tak sadarkan diri.
“Hei, bangun bodoh! Sekarang kau ingin berpura pura pingsan? Hah? Bangun...!” teriak Bara.
Bara menggoyang bahu istrinya. Namun tidak ada reaksi sama sekali dari istrinya.
“Astaga, dia beneran pingsan! Apa yang aku lakukan padanya?” gumam nya.
Bara menarik nafas dan membuang nya kasar, entah kenapa hatinya merasa iba atas perlakuan nya terhadap istrinya. Terlihat ada penyesalan di matanya.
Ia mengangkat tubuh Nisa, meletakkan kepalanya di atas bantal lalu menutupi tubuh istrinya dengan selimut hingga ke batang leher nya.
Bara masuk ke dalam kamar mandi, lalu mencuci wajahnya dan melihat wajahnya di cermin.
Setelah selesai dengan urusannya, ia keluar kamar mandi dan menekan tombol tersembunyi di lemari pakaian. Terlihat lemari tersebut berputar, dan terlihat sangat jelas botol minuman beralkohol tersusun rapi dengan berbagai merek tentunya dengan harga yang fantastis.
__ADS_1
Bara mengambil salah satu botol minuman yang kecil, dan menekan Kembali tombol tersebut hingga kembali tertutup seperti semula.
Ia kembali duduk di sofa, langsung minum dari botol hingga menghabiskan separuh. Ia melirik lagi ke arah tempat tidur, terlihat Nisa masih dengan posisi yang sama seperti sebelum nya.
“Bodoh...!” ia menyeringai.
Bara menertawakan dirinya sendiri.
“Seandainya kamu tidak pergi di hari pernikahan kita, mungkin tidak ada wanita yang tersakiti, Monika...!” gumamnya.
Lalu menghabiskan minumannya dan membuangnya ke tempat sampah.
Ia segera keluar dan memerintah kan pelayan rumah nya untuk mengobati luka Nisa.
“Kejadian ini jangan sampai ayahku mengetahuinya ya!” perintah Bara.
“Iya tuan.”
Bara melangkah pergi, terdengar suara deru mobil yang mulai menjauh.
“Nona, apa anda baik-baik saja?”
Terlihat Nisa sudah membuka matanya.
“Iya Bu, aku baik-baik saja! aku sangat haus.”
Bi Minah memberikannya segelas air putih, dan membantunya untuk duduk.
“Ya ampun, pipi nya terlihat bengkak! Biar saya kompres nona.”
“Tidak apa-apa Bu, ini gak terlalu sakit kok,” sahut Nisa meraba pipinya.
“Gak apa-apa, biar mengurangi bengkak nya juga.”
__ADS_1
Nisa mengangguk pasrah, dan Bi Minah mengambil air es di kulkas membawa nya ke kamar lalu perlahan mengompres pipi Nisa yang membengkak.
“Aw..,” desis Nisa sedikit kesakitan.
“Maaf ya non, pasti sakit banget.”
“Sedikit Bu,” sahut Nisa sambil tersenyum.
Setelah selesai, Bu Minah pamit keluar kamar.
Nisa melihat sekeliling kamar mencari keberadaan suaminya, sedikit tercium aroma alkohol di dalam kamar tersebut. Nisa mengambil bajunya yang tergeletak di lantai dan melihat bajunya sudah tak berbentuk lagi, dan membuang nya ke tempat sampah beruntung celana dan pakaian dalam nya masih melekat di tubuhnya.
***
Seminggu sudah berlalu. Namun, Nisa dan suaminya belum bertemu dan Begitupun dengan ayah mertua nya, Nisa tak melihat nya.
“Bu, aku tidak melihat ayah, beberapa hari ini?”
“Tuan besar sedang dalam perjalanan ke luar kota nona, sudah seminggu ini.” Nisa mengangguk mengerti.
“Dan....,” ucap Nisa menggantung. Ia ingin bertanya kemana suaminya, namun di urungkan nya.
“Kenapa,” tanya Bi Minah lagi.
“Tidak jadi Bu.”
Nisa melanjutkan makan siang nya di temani oleh BI Minah.
Setelah menyelesaikan makan siang nya, Nisa masuk ke dalam kamar nya. Setelah kejadian seminggu lalu, Nisa tak bertemu sama sekali dengan Bara. Entah kemana kepergian suaminya itu Bara sama sekali tidak mengabarinya.
Nisa berdiri melihat panas nya terik matahari di perkotaan dan terhanyut dalam lamunan nya, hingga tidak mendengar seseorang masuk ke dalam kamar dan menyusul nya ke balkon.
Sebuah tangan kekar melingkar di perut nya dan memeluknya dari arah belakang.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua, berkah selalu dan di lancarkan rezeki nya kita semua.