
Ketika perjalanan menuju rumah sakit, Bara masih memikirkan bagaimana cara memberitahu kepada istrinya, jika dirinya harus ke luar kota untuk beberapa hari.
“Mas,” panggil Nisa.
“Iya,” sahut Bara singkat.
“Apa mas sedang ada masalah? Ku perhatikan mas sejak tadi hanya diam saja,” tanya Nisa.
“Tidak ada sayang. sayang, jika aku tinggal untuk beberapa hari, apa kau tidak keberatan? Hanya untuk beberapa hari saja,” ucap Bara dengan lembut. Sebenarnya ia berat jika meninggalkan istrinya sendirian.
“Memangnya mas mau kemana?” Tanya Nisa memicingkan matanya.
“Ada perusahaan yang mengalami masalah di Kalimantan, aku harus terbang kesana untuk beberapa hari saja. Pak Zaky tidak bisa berangkat, karena ada klien penting yang datang ke sini,” ucap Bara menjelaskan dengan panjang lebar.
“Benarkah?” tanya Nisa lagi memastikannya.
“Iya sayang. Aku tidak berbohong, jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan langsung kepada Pak Zaky.”
“Hehehe..., tidak mas, aku percaya kok.”
“Terimakasih sayang. Setelah mengantarmu pulang kontrol, aku akan kembali lagi dan melakukan medical check up.”
“Kenapa tidak sekalian saja mas? aku akan menunggumu.”
“Apa kau tidak lelah menungguku?”
“Tidak mas.”
“Baiklah kalau itu mau mu dan kebetulan aku Medical check up nya di rumah sakit yang sama, dimana tempatmu kontrol sayang,” ucap Bara tersenyum mengambil tangan istrinya.
Nisa selalu meleleh melihat senyuman suaminya, padahal mereka sudah menikah cukup lama. Akan tetapi ia tidak pernah bosan melihat senyum suaminya, yang membuat dirinya terkesima.
***
Saat di ruangan dokter, Nisa mendapat kabar bahagia jika dirinya sudah 90 persen sembuh.
__ADS_1
Mendengar kabar itu, tanpa sadar Nisa memeluk suaminya di hadapan Dokter.
“Ekhem,” dokter berdeham.
“Eh, maaf Dok. Saya terlalu senang,” ucap Nisa merasa malu.
“Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa,” ucap Dokter tersenyum paksa.
“Nasib, nasib jomblo!” ucap Dokter dalam hati.
Selesai keluar dari ruangan Dokter, Nisa menunggu suaminya di kursi sambil memainkan ponselnya.
Setelah selesai melakukan serangkaian pemeriksaan, Bara keluar dari ruangan untuk menemui istrinya yang setia menunggunya.
“Sudah mas?” tanya Nisa melihat Bara duduk di sampingnya.
“Maaf sayang. Aku sangat lama ya? Pasti kau bosan menungguku,” ucap Bara.
“Tidak apa-apa mas. Ayo kita pulang,” ajak Nisa.
“Iya mas, aku selalu berdoa untukmu mas.”
Bara menggandeng tangan istrinya, mereka berjalan menuju mobil mereka terparkir.
***
Sementara di London ibu kota inggris, nenek Dira terbaring di bangsal rumah sakit, sudah seminggu nenek Dira di rawat.
Setelah melihat hasil tes DNA keluar, dan sangat jelas bahwa Nisa adalah cucu kandungnya, ia sangat bahagia. Sehingga ia melupakan kesehatannya dengan memakan semua jenis makanan yang di larang oleh Dokter.
“Nyonya, diminum dulu obatnya nyonya,” ucap Toni memberikan beberapa obat beserta air putih di dalam gelas.
“Toni, kapan aku bisa pulang dari rumah sakit ini? Aku sungguh lelah berbaring disini! Aku ingin bertemu cucuku,” ucap nenek dengan wajah yang memelas.
“Nyonya harus jaga kesehatan, Jangan abaikan perkataan Dokter.”
__ADS_1
Toni memberikan obat tersebut di tangan nenek Dira, Toni yang selalu sigap merawat nenek Dira. Jangan salahkan jika dirinya hingga saat ini belum mau menikah, karena dirinya belum bisa meninggalkan majikannya sendirian.
“Kau ini banyak bicara sekali! Jika saja kau melarangku untuk tidak memakan makanan yang manis, aku pasti tidak memakannya!” ketus nenek Dira.
“Jika saja nyonya memakannya di hadapanku, aku pasti akan melarangnya. Tapi, sayang sekali nyonya makan dengan cara bersembunyi,” sahut Toni tak mau kalah.
“Diam kau!” ketus nenek Dira membuat Toni terkekeh.
“Jika Nyonya tahu, kalau cucunya baru saja mengalami kecelakaan. Pasti kesehatannya akan menurun, karena kepikiran. Maafkan aku nyonya, aku harus merahasiakan ini,” ucap Toni dalam hati.
“Toni, Toni!” panggil nenek berulang kali.
“Eh maaf. Iya nyonya, ada apa?”
“Kau memikirkan apa? Berulang kali aku memanggilmu! seperti jasadmu disini, roh mu entah kemana!”
“Maaf Nyonya.”
“Coba kau tanyakan Dokter, kapan aku diperbolehkan pulang? Aku sungguh benar-benar tidak betah disini.”
“Nyonya akan pulang dua hari lagi, setelah memastikan tekanan darah dan gula Nyonya sudah bagus,” ucap Toni.
“Huft..! Lama sekali!” gerutu nenek Dira.
Kurang lebih enam bulan nenek Dira berada di London, karena mengurus bisnis yang berada di London tersebut. Seminggu hendak pulang ke Indonesia, dirinya jatuh pingsan dan terpaksa harus di rawat di rumah sakit.
“Cucuku,” lirih nenek melihat foto Nisa di layar ponsel.
Ia ingin sekali menghubungi Nisa, ingin mengatakan jika dia adalah cucu kandungnya. Namun, diurungkan nya karena ingin memberikan kejutan untuk Nisa.
.
.
.
__ADS_1