
Tiba waktunya, dimana Erwin benar-benar menepati janjinya untuk mengajak Reyhan untuk bertemu papanya.
“Apa kalian sudah siap?” tanya Erwin yang baru saja tiba di rumah nenek Dira.
“Sudah,” sahut Nisa.
“Kalian hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa mobilnya,” ucap nenek.
“Iya Nek.”
“Sebenarnya, nenek ingin sekali ikut bersama kalian. Tapi, nenek merasa kurang enak badan.”
“Apa Nisa di rumah saja nek? Nenek sendirian di rumah,” usul Nisa.
“Nenek baik-baik saja, hanya butuh istirahat. Nenek tidak sendirian, banyak orang dirumah ini.”
“Nenek yakin?” tanya Nisa memastikan.
“Iya, pergilah.”
Nisa mengangguk.
“Kami pergi dulu Nek,” pamit Erwin.
“Dadah Eyang Putri,” ucap Reyhan melambaikan tangannya.
“Dadah sayang,” sahut nenek Dira membalas lambaian tangan cicitnya.
Mereka masuk ke dalam mobil, karena Erwin yang menyetir, ia meminta Nisa duduk kursi depan sedangkan Reyhan duduk di belakang bersama beberapa mainannya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Erwin melihat Nisa, hanya diam sejak masuk ke dalam mobil.
“Iya!” sahutnya.
Erwin mengangguk mengerti.
Erwin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, menembus rintik-rintik hujan yang membasahi kota itu.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, kini mereka tiba di tempat tersebut.
“Gerimis,” Gumam Erwin setelah memarkirkan mobilnya.
“Tunggu sebentar,” ucap Erwin.
Ia keluar mobil untuk mengambil sesuatu di bagasi mobil.
Nisa menatap Erwin dari kaca spion, karena fokus mencari sesuatu, tanpa Erwin sadari jika Nisa menatapnya, ada senyum di bibirnya.
“Hari ini kenapa dia sangat tampan?” ucap Nisa dalam hati.
“Astaga! Ada apa denganku?” gumam Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
“Ayo,” ajak Erwin.
Erwin memberikan satu payung kepada Nisa, sementara satunya ia pakai berdua dengan Reyhan.
Erwin membuka pintu belakang dan langsung menggendong bocah tersebut.
“Pa, kita kemana? Katanya mau ketemu papa Bara, kenapa kita ke kuburan Pa? Seram tahu!” protes Reyhan.
“Ini kita mau bertemu dengan papa sayang,” sahut Erwin.
Nisa mengikuti Erwin yang lebih dulu malangkah.
Nisa mengernyit heran, melihat bunga yang masih segar di atas makam suaminya.
“Siapa yang datang kesini? Bunga ini sepertinya masih segar?” gumam Nisa.
__ADS_1
“Ada apa? Siapa yang datang?” tanya Erwin.
“Entahlah,” sahut Nisa mengangkat kedua bahunya.
“Ini kuburan siapa?” tanya Reyhan bingung.
Karena seusia Reyhan sudah bisa membaca lancar, ia mengeja nama yang ada di batu nisan tersebut.
“B-a-r-a... Bara! Ma, namanya sama seperti nama Papa Bara?” tanya lagi.
Nisa mengambil putranya dari gendongan Erwin.
“Kemari sayang,” ucap Nisa.
Nisa berjongkok, di depan makam tersebut.
“Ini adalah Papa Reyhan sayang,” ucap Nisa.
Menatap putranya tampak diam.
“Kok Papa di kubur?”
Pertanyaan kembali di lontarkan oleh Reyhan.
“Karena Papa sudah meninggal, saat Reyhan masih dalam perut Mama.”
“Oh...”
“Mas, lihatlah. Anakmu sudah besar, ini untuk pertama kalinya aku membawanya kesini,” gumam Nisa.
“Sayang, tolong tabur bunganya di atas makam Papa,” perintah Nisa.
Reyhan mengangguk.
Reyhan mengambil bunga yang sempat Erwin belikan saat ingin masuk ke makam. Bahkan saat ini Erwin dengan setia memegang payung, agar Nisa dan Reyhan tidak basah karena air hujan.
Nisa tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Ma?”
“Ya karena sudah meninggal. Kita semua juga akan di makam, kalau kita sudah meninggal.”
“Reyhan, mau meninggal Ma biar ketemu Papa,” ucapnya polos.
“Reyhan...!” ucap Nisa dan Erwin bersamaan.
“Sayang, Reyhan tidak boleh bicara seperti itu! Mama tidak suka!”
Melihat Nisa sedikit meninggikan nada suaranya, membuat Reyhan sedikit takut.
“Maafkan Mama sayang. Mama tidak bermaksud memarahimu!” tutur Nisa merasa bersalah langsung memeluknya.
“Sayang, Reyhan tidak boleh bicara seperti itu lagi ya,” ucap Erwin lembut.
“Maaf Pa,” lirih Reyhan.
“Apa sudah selesai? Hujannya semakin deras,” ucap Erwin.
Nisa mengangguk, karena melihat bunga yang masih tersisa sedikit di tempatnya, Erwin menaburnya kembali ke makam Bara hingga habis tak bersisa.
“Bara, anakmu sekarang sudah besar. Aku juga sudah menepati janjiku, agar memberikan Reyhan kasih sayang sebagai seorang Ayah,” Batin Erwin.
“Kalau bisa, izinkan aku juga memiliki Nisa. Maaf jika aku serakah, tapi kalau boleh jujur, aku lebih dulu mencintai ketimbang dirimu,” tambah Erwin dalam hatinya.
“Erwin...” panggil Nisa.
“Eh iya, ada apa?”
__ADS_1
“Ayo kita pergi dari sini, hujannya semakin deras.”
“Iya, ayo.”
Sebelum mereka pergi, Erwin dan Nisa juga menyempatkan diri untuk berdoa di depan makam tersebut. Tanpa mereka sadari, jika ada yang memperhatikan mereka sejak memasuki makan tersebut, dengan menyeringai jahat.
Sesampainya di mobil, Reyhan tampak diam sejak keluar dari makam tersebut. Bahkan mainan kesukaannya pun, di abaikan olehnya. Reyhan memandang ke arah luar jendela, tampak air hujan berbentuk bulat yang menempel di kaca mobil.
“Sayang, anak Papa kenapa? Kok diam,” tanya Erwin.
Nisa juga memperhatikan putranya yang sejak tadi hanya diam.
Reyhan menggelengkan kepalanya.
“Ada apa sayang? Apa Reyhan masih marah sama Mama?” tanya Nisa yang mengusap rambut Reyhan dengan lembut.
Reyhan tidak menjawab. Nisa menggelengkan kepalanya disaat Erwin menatapnya dari kaca mobil.
Erwin menepikan mobilnya sejenak, lalu keluar dari mobil dan masuk ke kursi yang ada di belakang. Erwin menggeser tubuh Reyhan, agar ia bisa duduk di sampingnya.
“Anak Papa kenapa cemberut? Coba katakan?” Tanya Erwin lembut.
“Tidak Pa,” sahut Reyhan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Erwin menyenderkan bahunya, berpura-pura memasang wajah cemberutnya.
“Mm... sebenarnya Papa tadi ingin mengajak Reyhan bermain, di tempat yang kemarin kita kunjungi. Tapi, sepertinya Reyhan sedang tak mau.”
“Biar Papa sendiri saja ke sana, setelah mengantar Reyhan pulang,” tambah Erwin lagi.
“Ikut...” lirih Reyhan langsung memeluk Erwin.
“Bukankah Reyhan sejak tadi cemberut. Jadi...”
“Enggak Pa, Reyhan gak cemberut kok,” sela Reyhan dengan antusias.
Nisa dan Erwin tersenyum dan bernapas lega melihat Reyhan kembali ceria.
“Baiklah. Kalau begitu, kita akan berangkat ke sana sekarang.”
“Go...” ucap Reyhan antusias.
“Oke, sekarang Reyhan duduk sama Mama disini. Papa Kembali menyetir mobil.”
“Reyhan mau duduk di depan sama Mama juga.”
“Baiklah sayang, ayo turun. Kita pindah ke kursi depan,” aja Nisa.
Erwin terlebih dulu keluar dan membukakan pintu mobil untuk mereka dan menutupnya kembali setelah mereka masuk.
Erwin kembali mengendarai mobil, menuju ke mall yang ada di pusat kota. Tentunya dengan ocehan Reyhan yang membuat mereka sedikit kewalahan untuk meladeninya.
Tak butuh waktu lama untuk menuju mall yang ada di pusat kota tersebut, karena jaraknya tidak terlalu jauh.
Nisa dan Reyhan lebih dulu turun dan menunggu di dekat pintu masuk mall. Karena Erwin memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Setelah mobilnya terparkir di tempatnya dengan sempurna, ketika hendak membuka pintu, ia melihat lagi dari kaca spion, warna dan pelat mobil yang sama saat mereka masih berada di makam tadi.
“Sepertinya mobil ini mengikutiku sejak tadi! Siapa mereka?” gumam Erwin.
Cukup lama ia menunggu agar orang ada di dalam mobil tersebut, tapi tak kunjung keluar.
Akhirnya Erwin memutuskan untuk keluar mobil, dan berpura-pura menerima telepon, lalu pergi dari parkiran tersebut untuk menemui Reyhan dan Nisa.
.
.
__ADS_1
.