
Tanpa sadar mereka tertidur hingga menjelang sore hari.
Reyhan mengerjapkan kedua matanya, ia melirik ke sampingnya. Papanya dan mamanya tidur dalam keadaan berpelukan.
Reyhan perlahan duduk dan masuk di tengah-tengah kedua orang tuanya. Membuat Nisa dan Erwin yang kala itu tertidur pulas, terbangun karena Reyhan berbaring di tengah mereka.
“Sayang, Reyhan sudah bangun?” tanya Nisa dengan suara seraknya.
Reyhan membelakanginya dan memeluk Erwin.
“Ini Papa aku,” ujar Reyhan.
Nisa tidak terima, ia duduk dan beranjak melangkahi dua pria tersebut lalu memeluk Erwin dari belakang.
“Ini suami aku!” sahut Nisa mengejek putranya tersebut.
Erwin yang ada di tengah-tengah mereka tersenyum, ia sangat bahagia. Karena di perebutkan oleh kedua orang yang paling ia cintai.
“Ma, Reyhan lapar.”
“Loh, anak Mama ternyata lapar. Ayo kita makan,” ajak Nisa melepaskan pelukannya.
“Aku juga lapar, sayang.”
Nisa tersenyum.
“Ayo kita turun dan makan bersama.”
Nisa langsung duduk membenarkan rambutnya dan juga pakaiannya yang sedikit berantakan.
Saat hendak melangkah keluar, bersamaan dengan ketukan pintu dari Luar kamar.
Tok! Tok! Tok!
“Iya, sebentar.”
Nisa setengah berteriak, karena mendengar ketukan terus menerus.
Ceklek!
Nisa membuka pintu, melihat wajah nenek yang ada di depan pintu tersenyum mengambang.
“Nenek,” sapa Nisa.
“Iya. Apa Nenek mengganggu kalian?”
“Tidak Nek, kami baru saja mau turun untuk makan.”
“Iya, Nenek sudah menyuruh Mala untuk masak makanan kesukaan kalian.”
“Iya Nek.”
“Eyang Putri,” panggil Reyhan yang berlari kecil menghampiri nenek Dira.
“Huh... cicit Eyang sepertinya sudah sehat,” ujar Nenek.
“Iya Eyang Putri. Reyhan sudah sehat,” sahut Reyhan.
“Ayo turun,” ajak Erwin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Loh, Nenek disini?” tanya Erwin yang melihat nenek Dira di depan pintu.
“Iya, Nenek ingin mengajak kalian makan bersama dan ternyata kalian juga ingin turun,” ujar Nenek.
“Iya, Nek. Kami ketiduran hingga menjelang sore, jadi belum makan siang.”
“Ayo, Nenek juga belum makan siang.”
Nenek melangkah lebih dulu untuk menuruni tangga, dengan menggandeng tangan Reyhan.
Saat hendak melangkah, Erwin memanggil istrinya tersebut karena berjalan di depannya.
“Sayang,” panggilnya.
__ADS_1
Nisa membalikkan badannya.
“Iya, ada apa?”
“Aku ingin mengganti pakaianku terlebih dahulu, kalian pergilah duluan.”
Nisa mengangguk. Namun ia tidak melangkah ke dapur, akan tetapi melangkah mengekori suaminya masuk ke kamar.
Saat hendak memutar kenop pintu, ia sedikit terkejut melihat Nisa ada di belakangnya.
“Astaga, kau disini? Kenapa mengikutiku?”
“Aku juga ingin berganti pakaian, sepulang dari rumah sakit aku juga belum menggantinya.”
“Hmm, baiklah.”
Mereka masuk ke dalam kamar, Erwin terlebih dahulu mencari pakaiannya yang masih di dalam koper.
Sedangkan Nisa mengambil pakaiannya di lemari, ia juga mengambil pakaian Erwin yang masih terbungkus rapi. Karena dulu ia pernah membelikan untuk pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut. Namun, belum sempat memberikannya.
“Ini,” ujar Nisa memberikan pakaian tersebut.
“Apa ini?” tanya Erwin bingung.
“Ini pakaian baru. Aku pernah membelikannya, namun aku lupa memberikannya.”
“Benarkah?”
“Iya,” sahut Nisa lembut.
“Terimakasih istriku,” ujar Erwin mengelus pipi mulus istrinya.
“Ayo, cepat. Nenek dan Reyhan sudah menunggu.”
Nisa melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Erwin yang masih mematung. Pasalnya, Erwin baru saja ingin mengulangi aktivitas yang mereka lakukan pagi tadi.
Erwin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu ia berlari kecil menuju kamar mandi tersebut. Sebelum Nisa mengunci pintu tersebut, ia lebih dulu menahan pintunya.
“Ada apa? Tunggulah sebentar, kita bergantian ya?” usul Nisa.
“Kenapa, mau marah?” tanyanya melihat Nisa menatapnya.
“Bukankah kau sendiri yang bicara, jika Nenek dan Reyhan menunggu kita. Jadi, agar menghemat waktu, kita memakai kamar mandi yang sama.”
“Huft...” Nisa menghela napas.
“Ada apa?” tanya Erwin lagi melihat Nisa masih menatapnya.
Melihat tatapan istrinya, justru Erwin perlahan mendekatinya. Begitupun Nisa, perlahan melangkah mundur hingga terbentur dinding kamar mandi.
“Mau apa?” tanya Nisa gugup.
Erwin mendekatkan wajahnya, sangat dekat.
“Kau pikir aku mau apa?” bisik Erwin.
“Minggir, kau menghalangi langkahku.”
Erwin menggeser tubuh Nisa pelan, karena Erwin ingin menggantung pakaiannya yang ia bawa.
“Astaga!” umpat Nisa dalam hati.
“Kenapa? Kau pikir aku mau ngapain?” ucap Erwin dengan senyum mengejek.
Dengan sedikit kesal, Nisa membalikkan tubuhnya. Erwin terkekeh, lalu melepaskan pakaiannya.
Ia melangkah menuju wastafel, mencuci wajahnya. Setelah selesai, ia kembali mengenakan pakaiannya yang ia gantung tadi.
“Kenapa masih berdiri? Ayo cepatlah! Kita akan turun, aku sudah sangat lapar.”
“Kau duluan saja. Aku akan menyusul.”
“Tidak. Kita akan turun bersama, cepat ganti pakaianmu,” ujar Erwin sedikit memaksa.
__ADS_1
Ia merapikan rambutnya menggunakan tangannya sambil melihat ke arah cermin yang ada di kamar mandi.
“Bagaimana bisa aku mengganti pakaianku, kau saja masih disini!”
“Kenapa kalau aku masih ada disini? Aku sudah melihat semuanya tadi pagi dan aku juga sudah sah menjadi suamimu,” ucap Erwin sedikit menekan dengan nama suami.
“Cepat!”
“Kau ini! Kenapa memaksa?”
“Apa perlu aku yang membuka pakaianmu?”
Dengan cepat Nisa menggelengkan kepalanya.
“Tidak! Aku bisa sendiri.”
“Kau jangan mengintip! Awas saja!” ancam Nisa.
Erwin terkekeh.
Nisa sedikit menjauh dari Erwin. Namun Nisa tidak menyadari, jika Erwin bisa melihatnya dengan jelas dari tempatnya berdiri melalui cermin.
Setelah membuka baju, Erwin berbalik badan dan mendekapnya dari belakang.
“Aww... kenapa memelukku?!” protes Nisa.
“Apa aku tidak boleh memeluk istriku sendiri?” tanya Erwin malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
“Iya, bukan begitu. Kita harus cepat...”
“Sssttt... berisik sekali. Ini kenapa merah semua?” sela Erwin membalikkan tubuh istrinya untuk menghadapnya, melihat di bagian depannya Nisa penuh dengan tanda merah.
“Kau masih bertanya ini kenapa?” protes Nisa menyapanya.
Erwin terkekeh kembali, mengingat perang mereka waktu pagi tadi.
“Tapi kau suka kan?” goda Erwin sambil memainkan kedua alisnya.
Nisa tersenyum malu, langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Erwin.
“Kau ini,” gemas Erwin memeluk istrinya.
“Tetap seperti ini sayang, jangan berubah,” ujar Erwin memeluk erat istrinya dan berulang kali mencium pucuk kepala istrinya.
Nisa mengangguk.
“Cepat ganti pakaianmu! Kalau lama, aku tidak tahu apa yang ku perbuat kepadamu!” ujar Erwin tersenyum melepaskan dekapannya. Lalu melangkah keluar kamar mandi.
“Kau yang memelukku sejak tadi!” protes Nisa.
Erwin tersenyum mendengar istrinya protes, yang masih terdengar olehnya saat sudah di depan pintu kamar mandi.
Nisa memakai pakaiannya dan seperti yang di lakukan oleh Erwin, Ia juga mencuci wajahnya, lalu mengeringkan sisa air yang menempel di wajahnya dengan menggunakan handuk yang ada di kamar mandi tersebut.
“Sudah?” tanya Erwin melihat istrinya sudah keluar kamar mandi.
“Iya,” sahut Nisa singkat.
Erwin beranjak dari duduknya, melangkah untuk membuka pintu kamar.
“Erwin aku bes...”
“Siapa Erwin?!” sela Erwin.
“Maksudnya? Bukan kah namamu Erwin?” tanya Nisa masih belum sadar.
Erwin membalikkan badannya, netra mereka saling bertemu.
“Erwin itu siapa? Suamimu, bukan?!”
Seketika Nisa baru menyadari dan memahami apa yang di ucapkan oleh Erwin.
.
__ADS_1
.
.