
Tujuh tahun sudah berlalu, sejak kematian suaminya. Sikap Nisa berubah menjadi lebih dingin, dengan semua pria tak terkecuali Erwin sendiri.
“Papah ... hore papah datang, ye ..., ye...” antusias anak kecil yang berlari dari teras rumah menuju mobil yang baru saja berhenti di halaman rumahnya.
“Reyhan. Jangan lari sayang, nanti jatuh,” teriak Nisa.
“Papa ..., Reyhan kangen. Papa lama sekali perginya,” protesnya dengan wajah cemberut. Ditambah kedua pipinya yang gembul membuat pria yang dipanggil papa oleh Reyhan itu semakin gemas, ingin mencubitnya. Namun ia tak benar-benar mencubitnya.
“Reyhan marah?” tanyanya lembut sambil menggendongnya.
“Iya ...!”
Walaupun baru berumur 6 tahun, Reyhan sudah pandai berbicara, sering kali Nisa kewalahan membalas ocehan anaknya tersebut.
“Papa punya hadiah untuk Reyhan. Mau?”
Seketika wajah Reyhan yang cemberut, langsung mengangguk ceria mendengar kata hadiah.
“Eits..., tunggu dulu. Cium dulu dong,” tuturnya.
Tanpa ragu, Reyhan mencium kedua pipi pria tersebut.
“Reyhan turun dulu sayang, hadiahnya ada di mobil.”
Pria tersebut menuruni Reyhan dari gendongannya, dan mengambil sebuah mobil berukuran cukup sedang dari bagasi mobilnya.
“Wah, mobilnya keren.”
Reyhan dengan sangat gembira menerima mobil mainan tersebut.
“Reyhan suka?”
“Iya, pah.”
Sambil membolak balik mobil tersebut.
__ADS_1
“Papa besok berangkat lagi sayang.”
Seketika, wajah Reyhan menjadi murung. Pria tersebut berjongkok, melihat wajah Reyhan di tekuk.
“Tapi, sebagai gantinya, papa mengajakmu jalan-jalan hari ini. Bagaimana?”
Reyhan menggeleng.
“Ini sangat penting sayang, papa janji akan pulang cepat,” tuturnya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya.
“Papa janji?”
“Iya, papa janji.”
Wajah Reyhan yang semula ditekuk, kini kembali ceria lagi.
“Reyhan tunggulah disini, papa minta ijin dulu sama Mama.”
Reyhan mengangguk, sambil duduk diatas mobil mainan tersebut.
“Ada keperluan apa lagi kau kesini?!”
“Aku merindukan Reyhan. Apa aku boleh membawa Reyhan sebentar, untuk bermain diluar.”
“Tidak boleh!”
“Kenapa? Aku sudah berjanji akan membawanya.”
“Kenapa kau bilang?! Tentu saja aku melarangnya, karena dia anakku!” bentak Nisa.
Pria tersebut menghela napas berat.
“Baiklah, jika kau tidak mengizinkan, aku tidak akan membawanya. Aku permisi.”
“Hm ...!” sahut Nisa dingin.
__ADS_1
“Biarkan saja jika Erwin ingin membawa Reyhan bermain. Erwin juga sudah lama tidak kesini,” ucap Nenek Dira yang datang entah dari mana.
Membuat Erwin menatap Nisa tersenyum mengambang penuh kemenangan. Pria tersebut adalah Erwin, pria yang di panggil oleh Reyhan papa. Sejak kecil, Erwin sering mengunjunginya hingga membuat Reyhan begitu mengenali Reyhan dan menganggap Erwin itu adalah papanya.
Nisa memicingkan matanya melihat Erwin tersenyum kepadanya.
“Terimakasih nek. Aku hanya sebentar,” tutur Erwin.
“Iya pergilah, hati-hati dijalan.”
Erwin mengangguk lalu berpamitan, dan langsung melangkah keluar sambil bersiul.
“Nenek. Kenapa nenek mengizinkannya?”
“Aku hanya takut jika Reyhan tahu sebenarnya Erwin bukan lah papanya.”
“Kalau begitu menikahlah dengannya, bukankah Erwin bersedia menikahimu?”
“Saat ini, aku tidak ingin menikah nek.”
“Iya. Semua itu keputusan kamu, nenek tidak akan ikut campur.”
“Biarkan Erwin membawanya. Lihat keceriaan Reyhan ketika bertemu dengan Erwin, ia begitu sangat bahagia. Apa kamu tidak ingin melihat anakmu bahagia? Erwin pun tidak setiap hari datang ke rumah, bukan.”
“Iya Nek,” sahut Nisa pasrah.
“Ayo ikut nenek Ke kamar. Ada yang ingin Nenek tunjukan,” ajak Nenek Dira.
Nisa mengangguk, mengikuti langkah Neneknya dari belakang.
Setelah sebulan kepergian Bara untuk selamanya, Nenek Dira menjelaskan kepada Nisa dan memberikan bukti-bukti bahwa Nisa adalah cucu kandungnya.
.
.
__ADS_1
.