
"Tuan," panggil Nisa melihat pak Burhan seperti memikirkan sesuatu.
"Oh, maaf Nisa," Sahut pak Burhan sedikit terkejut mendengar Nisa memanggilnya.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya pak Burhan kepada Nisa.
Nisa tidak langsung menjawab, Nisa melihat ibunya sejenak kemudian mengangguk pelan. pak Burhan tersenyum melihat Nisa mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya, kemudian Ibu Nisa juga ikut berdiri.
"Ibu, aku pasti sangat merindukan ibu," Ucap Nisa.
Ibunya tersenyum melihat Nisa, lalu berjalan mendekatinya langsung memeluknya.
"Kamu hati-hati disana, jaga diri baik-baik," Ucap sang Ibu sembari memeluk putrinya.
"Ibu juga, jaga kesehatan. Hati-hati di rumah," Sahut Nisa yang membalas pelukan ibunya dengan erat.
Dirasa cukup puas berpelukan, mereka melepaskan pelukannya dan mengikuti pak Burhan dari belakang.
"Ibu, apakah Nisa boleh berkunjung kesini dan menginap disini lain waktu?" Tanya Nisa sambil berjalan beriringan menuju pintu keluar.
lalu ibunya berhenti sejenak mendengar tutur Nisa lalu tersenyum kemudian mengangguk.
"Terima kasih ya Bu," Ucap Nisa senang.
"Iya," Sahut Ibunya singkat.
Setelah sampai di depan mobil, Nisa mencium punggung tangan ibunya dan memeluknya kembali.
"Ibu, Nisa pergi ya. Ibu jangan sampai telat makan dan jaga kesehatan!" Ucap Nisa dalam pelukan ibunya.
Nisa merasa bahagia ketika ibunya membelai rambutnya yang sangat ia rindukan sejak beberapa bulan ini seakan enggan untuk melepaskan pelukan dari sang Ibu.
"Ya sayang, kamu juga. Jangan lupa selalu kabari ibu," Ucap ibu nya, Nisa melepaskan pelukan nya lalu mengangguk.
"Cepat masuk, pak burhan sudah menunggu," Ucap ibunya.
Nisa mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Nisa masuk duduk dan duduk di kursi belakang bersama mertuanya.
Ia membuka sedikit kaca mobil agar bisa melambaikan tangan kepada ibunya, begitu pun dengan ibunya.
Mereka melaju dengan kecepatan sedang, tercipta keheningan di dalam mobil tersebut. Nisa masih memikirkan kemana suami nya menghilang setelah ijab kabul selesai, tanpa memberitahu nya ataupun ayah mertuanya.
"Nisa," Panggil pak Burhan.
__ADS_1
Nisa menoleh ke sampingnya.
"Iya Tuan," Sahut Nisa.
"Jangan panggil saya Tuan, panggil saja saya ayah, saya adalah ayah mertua mu sekarang," Ucap pak Burhan tegas.
Hingga membuat Nisa menelan ludah kasar.
"Iy--a Tuan! eh anu ay--ayah," Ucap Nisa masih canggung.
Setelah menempuh sekitar 30 menit di perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah mewah milik pak Burhan.
Pelayan membuka kan pintu mobil mereka, lalu Nisa keluar dan begitupun dengan pak Burhan, Nisa mengikuti pak Burhan dari belakang.
"Selamat datang di rumah ku sekarang akan menjadi rumah mu juga," Ucap pak Burhan dengan tersenyum lalu mempersilahkan Nisa untuk masuk ke rumah.
"Bi, apa Bara sudah pulang?" Tanya pak Burhan kepada salah satu pelayan wanita di rumah tersebut.
"Belum pak," Sahut Bu Minah.
Dia salah satu pelayan rumah yang sudah bekerja hampir 10 tahun di rumah pak Burhan, bahkan sudah di anggap sebagai keluarga olehnya.
"Kemana anak itu?" Gumam pak Burhan.
"Nisa, saya ada urusan keluar, ada bi minah yang akan menemani kamu, sebelum Bara datang," Ucap pak Burhan.
Nisa mengangguk patuh.
"Ayah hati-hati di jalan," Sahut Nisa.
pak Burhan mengangguk sambil tersenyum simpul, lalu berjalan keluar rumah.
"Mari non saya antar," Ucap bi minah.
lalu mengambil tas kecil di tangan Nisa, sebenarnya Nisa menolak namun bin minah memaksa untuk membawanya.
"Nah, kita sudah sampai di kamar nona dan Tuan Bara. silahkan masuk, kalau butuh sesuatu panggil saya nona. kamar saya ada di bawah dekat dapur," Tutur bi minah.
Nisa mengangguk, lalu berpamitan hendak keluar. namun, langkah terhenti ketika Anisa memanggilnya.
"Bi tunggu sebentar," Panggil Nisa.
"Iya nona, apa nona butuh sesuatu," Tanya bi Minah.
__ADS_1
Nisa berjalan mendekati bi Minah.
"Bi, jangan saya nona. Panggil saja saya Nisa Bi," Tutur nisa sambil tersenyum.
"Tapi non," Sahut bi Minah, langsung potong.
"Gak da tapi-tapian," Ucap Nisa tegas namun masih dengan nada sopan.
"Baiklah Nisa," Sahut nya.
Mendengar bi Minah menyebut namanya Nisa tersenyum simpul.
"Saya permisi dulu," Pamit Bi Minah.
lalu Nisa mengangguk mengiyakan. Setelah melihat kepergian bi Minah, ia menutup pintu lalu duduk di pinggiran kasur. Ia merebahkan tubuh nya, perlahan lahan kelopak matanya tertutup hingga masuk ke dalam dunia mimpinya.
***
Sementara di tempat lain, Bara baru saja terbangun, ia melihat jam di dinding sudah pukul 5 sore. Lalu ia duduk di tepi kasur, dan memegang kepala nya yang sedikit pusing.
"Astaga! entah berapa banyak aku minum!" Gumam nya mengacak rambut nya.
"Kenapa aku bisa ada di apartemen?" Tanya nya heran, baru menyadari saat ini dirinya sedang tidak berada di rumah.
"Bodoh!!!" Umpat Bara kepada dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya.
"Ayah pasti sangat marah! Bodoh!" Umpat nya.
Ia beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Bara melihat dirinya dari cermin sejenak.
Lalu ia bergegas keluar menuju parkiran, setelah tiba dimana mobilnya terparkir, dengan kecepatan penuh, Bara pulang menuju rumahnya, beruntung jalanan cukup sepi tidak butuh waktu lama ia tiba di depan rumah nya.
"Tidak ada mobil ayah, bearti ayah sedang tidak ada di rumah," gumam Bara bernafas lega.
Ia bergegas keluar mobil dan masuk ke rumahnya, saat ia tiba pintu di kamar nya hendak membuka pintu, ia terdiam sejenak baru menyadari sesuatu.
"Apa perempuan itu sudah di sini?" gumamnya, lalu ia menyeringai jahat.
Ceklek, suara pintu terbuka, ia celingukan seperti maling.
Namun, ia tidak menemukan seorang yang dia cari, tempat itu terlihat sangat rapi seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kemana perempuan licik itu?" Gumam Bara heran, melihat kamarnya tidak ada seorangpun.