Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 55


__ADS_3

“Mas!” teriak Nisa karena terkejut.


“Astaga mas! Kamu mengagetkan ku,” Ucap Nisa berbalik badan.


“Kau sangat serius sekali!” Sahut Bara melepaskan dekapannya. Beralih mengambil gelas, dan menuangkan air putih ke dalamnya.


“Kenapa bangun mas?”


“Aku sangat haus.”


“Ayo kita kembali ke kamar,” ajak Bara.


Karena Nisa sudah menyelesaikan tugasnya di dapur, ia mengiyakan ajakan suaminya.


Mereka beriringan menaiki tangga, menuju kamar.


“Apa kepalamu masih pusing?” Tanya Nisa ketika sudah berada di dalam kamar.


“Sudah merasa baikkan.”


Nisa mengangguk, ia mengambilkan baju ganti untuk suaminya.


“Terimakasih sayang,” ucap Bara menerima pakaian dari tangan istrinya.


Bara lebih dulu memakai kamar mandi, karena akibat mual tadi ia belum sempat menggantikan pakaiannya.


Setelah selesai menggosok giginya, Bara mencuci wajahnya. Ia membersihkan air yang menempel wajahnya dengan handuk.


Hari ini ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, mendengar perkataan pamannya yang tiba-tiba menginginkan ia berpisah dengan istrinya.


Tok..., tok..., “Mas. Apa kamu baik-baik saja?” panggil Nisa.


Nisa sedikit khawatir suaminya yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi, cukup lama ia menunggu.


“Iya sayang,” sahut Bara.


Ia meletakkan kembali handuk di tempatnya, dan segera keluar dari kamar mandi.


“Lama sekali! Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu,” ucap Nisa penuh kekhawatiran.


“Aku baik-baik saja. Cepat ganti pakaianmu! Jangan mandi malam, tidak baik untuk kesehatan,” ucap Bara mengingatkan.


“Iya,” sahutnya singkat.


Melihat istrinya masuk ke kamar mandi, Bara berjalan kearah keluar balkon dengan sebatang rokok ditangannya.


Setengah jam berlalu, Nisa baru keluar dari kamar mandi. Melihat pintu balkon yang terbuka lebar, ia sudah tahu jika suaminya sedang di balkon.


Nisa duduk di depan meja riasnya, menyisir rambutnya. Setelah selesai, ia menyusul suaminya ke balkon.


“Mas, kenapa disini? Udaranya sangat dingin.”


Bara menghembus asap rokoknya ke atas, sambil melirik istrinya.


“Kamu merokok?” tanya Nisa memicingkan matanya.


“Iya. Hanya satu,” ucap Bara dengan wajah memelas.


Nisa mengerti, kalau saat ini suaminya tidak baik-baik saja.


“Hm!” deham Nisa meninggalkan suaminya.


Nisa naik ke atas kasur, dan membaringkan tubuhnya. Tampak Bara menutup kembali pintu balkon, menyusul istrinya ke tempat tidur.


“Apa kepalamu masih sakit?” tanya Nisa khawatir.

__ADS_1


“Tidak,” sahutnya.


Bara ikut masuk dalam selimut dan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


“Mas.”


“Hm,” deham Bara dengan mata yang mulai tertutup. Ia membuka matanya sebentar, lalu kembali terpejam lagi.


“Kamu sudah tidur?” tanya Nisa berhati-hati.


“Ada apa sayang?” gumam Bara belum membuka matanya.


“Mmm, tidak ada.”


Mendengar jawaban istrinya, Bara membuka matanya.


“Apa ada yang ingin kau bicarakan? Bicara saja.”


Nisa menatap suaminya.


“Maaf jika aku lancang. Apa hubunganmu dengan paman, baik-baik saja?” Tanya Nisa pelan, takut menyinggung perasaan suaminya.


Bara memicingkan matanya.


“Kau menguping?” tatap Bara dengan serius.


“Maaf. Aku tidak bermaksud menguping, saat itu aku hanya bosan menunggumu. Aku berjalan-jalan ke balkon, tapi aku tidak sengaja mendengar pertengkaran kalian. Maaf,” sahut Nisa.


Bara menarik napas pelan, lalu membuangnya kasar.


“Apa kau mendengar semuanya?” Tanya Bara lebih selidik.


Nisa menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku melihat mas begitu marah, Apa hubungan kalian baik-baik saja?”


“Syukurlah dia tidak mendengar semuanya,” ucap Bara dalam hati merasa lega, karena istrinya tidak mendengar semuanya.


“Maafkan aku,” lirih Nisa.


“Tidak perlu minta maaf sayang. Aku yang harusnya meminta maaf, karena sudah membentakmu.”


“Cepat! Tidurlah,” perintah Bara mengelus rambut halus istrinya.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, seperti yang paman inginkan,” batin Bara mencium pucuk kepala istrinya.


Bara mengepalkan tangannya, teringat akan ucapan pamannya saat di Apartemen.


Flashback on.


Bara mengekori belakang pamannya, hingga tiba di balkon.


“Kau banyak berubah sekarang,” ucap paman Ridwan.


“Iya paman,” sahut Bara tersenyum.


“Ada apa paman? Kenapa mengajakku berbicara disini? Sepertinya sangat serius,” Tanya Bara.


“Jadi begini Bara...,” paman Ridwan menggantungkan ucapannya.


“Ada apa paman?” tanya Bara lagi.


“Perusahaan kita diambang kebangkrutan, paman bingung harus melakukan apa.”


Bara mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“lantas, apa hubungannya denganku paman?”


“Bara, paman mau meminta bantuan mu. Tapi, aku tidak yakin kau mau membantuku.”


“Bukankah perusahaan ini semua tanggung jawab paman dan Reyhan? Semenjak Ayah tiada,” Ucap Bara.


“Tapi kau juga punya tanggung jawab, karena kau anak kandungnya!” seru paman Ridwan mulai emosi.


“Tidak paman. Aku tidak punya hak atas perusahaan itu, Reyhan lah yang punya hak.”


“Ini paman. Salah satu perusahaan, yang paman berikan kepada istriku, aku kembalikan!” ucap Bara meletakkan amplop coklat tersebut diatas meja.


“Baiklah. Jika kau tidak mau membantu, itu tidak masalah. Tapi kali ini paman memohon kepada keponakan paman sendiri, paman butuh bantuanmu. Tunjukan kalau kau ingin berbakti kepada orang tuamu! Aku juga orang tuamu, setelah ayahmu tiada,”


Bara menghela napas, dan membuangnya kasar.


“Paman minta bantuan apa kepadaku?” tanya Bara menatap Pamannya.


“Paman minta kau menikah dengan rekan bisnis paman, dia ingin membantu perusahaan kita. Tapi, dengan syarat.”


“Apa?” Tanya Bara agar pamannya mengulang ucapanya.


“Iya Bara. Hanya itu jalan satu-satunya, paman sungguh memohon kepadamu,” Ujar pamannya memohon dengan menyatukan kedua tangannya.


“Bukankah paman mempunyai Reyhan? Reyhan belum menikah bukan! Kenapa harus aku? Aku sudah mempunyai istri, paman!”


Dengan mata yang memerah menahan amarahnya.


“Reyhan menolak. Bahkan saat ini paman tidak tahu keberadaannya.”


“Tolong pamanmu untuk kali ini,” ucap paman memelas.


“Dulu aku dikucilkan oleh kalian, termasuk Ayah! Dengan bangga kalian memperkenalkan Reyhan kepada semua orang! Lihat apa yang dia lakukan sekarang!” bentak Bara seakan lupa ia berbicara dengan pamannya sendiri.


“Bahkan aku tidak diperbolehkan masuk ke kantor, padahal kesalahanku hanya sepele!” tambahnya lagi.


“Itu Ayahmu! bukan paman.”


“Bara, paman mohon! Selamatkan perusahaan kita,” ucap paman dengan menyatukan kedua tangannya.


“Perusahaan itu milik paman dan Reyhan! Aku sudah tidak mempunyai hak sama sekali, semenjak Ayah tidak memperbolehkan aku masuk ke kantor!” Seru Bara.


“Tidak Bara, bukan seperti itu! Perusahaan itu masih ada namamu. Apa susahnya menceraikan istrimu? Paman akan bantu kau mengurus surat cerainya!”


“Paman tahu. Hubunganmu dengan istrimu juga tidak baik, kau tidak mencintainya bukan! Lepaskan dia dan menikah dengan rekan bisnis paman, pasti hidupmu terjamin,” tambahnya lagi.


Mendengar itu, Bara menjadi murka tidak dapat menahan emosinya lagi.


“Aku tidak akan pernah meninggalkan istriku!” bentak Bara berlalu pergi.


“Bara, Bara. Dengarkan dulu paman bicara, Bara!” panggil Ridwan dengan berteriak hingga terdengar sangat jelas oleh Nisa.


Flashback off.


“Shit!” Umpat Bara.


Membuat sang istri terbangun, dengan kelopak mata yang setengah terbuka.


“Kenapa?” tanya Nisa dengan suara paraunya.


“Maaf, aku membuatmu terbangun. Tidurlah lagi, tidurlah istriku sayang,” ucap Bara menarik tubuh istrinya dan ia pun menyusul istrinya ke alam mimpi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2