Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 71


__ADS_3

“Apa Kamu asli orang Indonesia?” tanya Shamila ketika sudah di balkon. Ia lebih dulu membuka obrolan, melihat Erwin hanya duduk diam tanpa memulai pembicaraan.


“Iya,” sahut Erwin.


Erwin tampak diam dan sangat dingin.


“Aku lahir di New Delhi. Saat aku masih berusia satu tahun, kami pindah ke Indonesia hingga sekarang ini. Aku bahkan kuliah di Jakarta, tapi sesekali kami pergi ke New Delhi karena keluarga dari orangtua semuanya disana.”


Shamila berbicara panjang lebar, respon Erwin hanya tersenyum sesekali ia mengangguk. Membuat Shamila menelan ludah kasar, pria yang ia jumpai saat ini adalah pria yang sangat dingin, pikirnya.


“Aku akan mengambilkan air. Apa kamu mau?” tanya Shamila, karena terus berbicara membuat tenggorokannya kering.


“Iya, boleh.”


Membuat Shamila tersenyum, melihat Erwin mengangguk menerima tawarannya untuk diambilkan air minum.


“Tunggu sebentar,” ucapnya beranjak dari duduknya keluar dari balkon.


Erwin menghela napas berat, ia sangat tidak menyukai ini.


Shamila menuruni tangga, dan mencari dimana letak dapur. Setelah menemukan dapurnya, Shamila melihat Dion yang duduk sendiri di kursi sambil memegang gelas.


“Hai,” sapa Shamila.


Membuat Dion terkejut, langsung menoleh ke sampingnya.


“Ha—hai Nona, kau mengagetkan ku,” ujar Dion tersenyum.


“Maaf, jika aku membuatmu terkejut. Aku hanya ingin mengambil air, tenggorokan ku sangat kering.”


“Tunggu sebentar Nona, aku akan mengambilkannya untukmu,” ucap Dion.


Shamila mengangguk setuju. Dion beranjak dari duduknya, lalu menuangkan air es ke dalam gelas, tanpa ia sadari Shamila terus memandangi punggungnya sambil tersenyum.


“Dia sangat ramah dan juga baik. Sangat berbeda dengan pria yang bersamaku di balkon!” ucap Shamila dalam hati.


“Halo Nona,” panggil Dion sambil melambaikan tangannya di depan wajah Shamila.


“Hah! Oh maaf, saya melamun.”


Shamila mengambil gelas yang ada di tangan Dion.


“Apa yang kamu lakukan di dapur sendiri?” tanya Shamila setelah meneguk air di gelas yang diberikan oleh Dion tadi.


“Aku sama sepertimu, haus. Jadi, aku ke dapur,” ucap Dion berbohong.


“Wah kebetulan sekali,” sahut Shamila antusias.


Nadia baru saja kembali dari ruang tamu, untuk membantu ibunya mengantar camilan untuk tamu. Namun, ia begitu kesal melihat Dion dan Shamila yang begitu akrab, tertawa bersama.


“Kenapa wanita ini disini?! Bukankah dia bersama kak Erwin di balkon!” gumam Nadia dengan wajah begitu kesal.

__ADS_1


“Ekhem ! Ekhem ! kalian sedang apa?” tanya Nadia langsung duduk di samping Dion.


“Hai. Aku belum tahu namamu adik manis, aku Shamila.”


Ia mengulurkan tangannya kepada Nadia. Namun, Nadia seperti enggan untuk menyambut uluran tangan Shamila. Melihat Nadia yang tanpa membalasnya, Dion menyenggol kaki Nadia menggunakan kakinya. Seketika Nadia langsung menoleh ke arah Dion, ia memberi kode dengan matanya agar menyambut uluran tangan Shamila yang sejak tadi menunggunya.


Dengan wajah yang cemberut, Nadia terpaksa membalas uluran tangan wanita yang berdarah India tersebut.


“Nadia,” sahutnya dengan senyum paksa.


“Namamu sangat manis adik cantik, seperti orangnya.”


Mereka saling melepaskan jabatan tangannya.


“Aku akan kembali ke balkon,” pamit Shamila.


Nadia tersenyum mengangguk cepat.


“Iya pergilah. Kak Erwin pasti sedang menunggumu,” ketus Nadia.


Membuat Dion menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Nadia yang menurutnya tak seperti biasanya.


“Iya. Oh iya aku hampir lupa.”


Shamila menepuk jidatnya karena ia melupakan sesuatu.


“Ada apa?” tanya Dion melihat Shamila seperti melupakan sesuatu.


“Boleh aku meminta air lagi? Pria yang bersama ku di balkon meminta air kepadaku, untuk dibawa ke balkon,” ucap Shamila kepada Dion.


“Iya. Entah kenapa aku bisa melupakan namanya,” ucap Shamila cengengesan.


“Aku akan mengantar teh jahe dan camilan untuk kalian. Apa kau suka teh jahe?”


Shamila mengangguk cepat.


“Iya. Aku sangat suka teh jahe, terima kasih Dion,” ucapnya antusias.


“Iya,” sahut Dion.


Shamila berpamitan untuk kembali menemui Erwin di balkon. Dion melihat punggung Shamila berjalan menjauh, ia tersenyum. Tanpa ia sadari Nadia memasang wajah cemberut.


“Shamila sangat cantik ya?” ucap Dion dengan sengaja memuji Shamila.


“Biasa saja!” ketus Nadia.


“Kenapa dengan wajahmu yang cemberut begitu?” tanya Dion sambil menyiapkan teh jahe.


“Tidak.”


Nadia mengerutkan keningnya heran, melihat Dion membuatkan teh.

__ADS_1


“Kenapa kakak yang membuatkan teh? Banyak asisten rumah tangga di rumah ini.”


Dion menghela napas.


“Aku hanya mengurangi beban mereka. Lagian ini tidak pekerjaan berat, aku sudah biasa membuat teh di rumah,” sahut Dion santai.


“Oh,” sahut singkat Nadia.


Dion sedang fokus menuangkan air teh ke dalam gelas, sesekali ia melirik Nadia yang sejak tadi menatapnya.


“Apa yang kau lihat? Apa kau tidak mempunyai pekerjaan? Selain memandangiku,” ucap Dion masih sibuk dengan aktivitasnya.


“Siapa yang memandangi kakak?! Pede sekali!” celetuk Nadia.


“Masa? Berarti yang melihatku sejak tadi itu, kuntilanak!” gumam Dion.


“Terserah kakak!”


Ketika Dion hendak pergi, dengan nampan yang berisi teh jahe dengan camilan di tangannya. Namun, di hadang oleh Nadia dengan memegang pundak Dion.


“kak,” panggil Nadia.


“Singkirkan tanganmu! Jika ada yang melihat nanti, bagaimana? Aku tidak mau mereka berpikir buruk tentang kita!” bentak Dion.


Nadia tersentak lalu refleks langsung melepas tangannya, untuk pertama kali ia mendengar Dion membentaknya, sebelumnya dia selalu berkata lembut kepadanya.


“Maaf,” lirih Nadia.


Dion menghela napas, merasa bersalah sudah membentak Nadia.


“Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku akan mengantar ini,” ucap Dion berlalu pergi.


“Maafkan aku Nadia, mungkin seperti ini lebih baik,” ucapnya dalam hati.


Nadia menatap punggung Dion yang berlalu pergi, meninggalkannya.


***


Sesampainya di balkon, Dion meletakkan nampan di meja. Melihat Shamila senyum lebar ke arahnya.


“Terima kasih,” ucap Shamila melebarkan senyumnya.


“Iya, sama-sama.”


Dion mendekati Erwin dan membisikkan sesuatu kepadanya, membuat wajah Erwin semakin kesal.


“Diam kau, sialan!” geram Erwin membuat Dion berlari kecil sambil tertawa kecil.


Shamila tersenyum melihat keakraban dua pria yang ada di hadapannya, walaupun ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2