Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 87


__ADS_3

Siang ini Dion baru menyelesaikan pekerjaannya, karena Erwin masih di rumah sakit untuk menemani Nisa. Terpaksa dirinya yang menggantikan meeting hari ini, di ruangan Dion tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya, mengingat besok adalah hari pernikahannya.


Walau dengan terpaksa ia harus menikahi Shamila demi rasa kemanusiaan, tidak ada perasaan dihatinya terhadap Shamila hanya karena kasihan.


Ditambah Shamila orang yang begitu baik kepadanya, Shamila mengajarkan banyak hal kepada dirinya selama enam bulan terakhir. Walaupun dia orang yang kaya, Shamila begitu rendah hati. Hingga ia tak mampu menolak untuk menikah Shamila dengan Shamila.


Ting...! suara pesan masuk.


“Dion, sedang apa?”


Pesan dari Shamila.


“Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku dan sekarang ingin makan siang. Apa kau sudah makan siang?”


“Iya, aku juga baru menyelesaikan makan siangku. Baiklah, hati-hati bekerja. Sampai jumpa besok,” ucap Shamila dengan emoji Love.


Dion memandang pesan terakhir Shamila tersebut, tanpa membalasnya. Dion menghela napas berat.


“Maafkan aku Nad, ini jalan terbaik untuk kita,” lirih Dion.


Dion beranjak dari duduknya, untuk mencuci tangannya di wastafel. Lalu kembali duduk untuk makan siang, yang telah ia pesan setengah jam yang lalu.


***


Keesokan paginya, di kediaman Erwin. Dion masih betah dalam selimut tebalnya, tidak mempedulikan Erwin yang berulang kali membangunkannya.


“Cunguk!!” panggil Erwin untuk yang ke sekian kalinya.

__ADS_1


“Kau itu niat mau nikah gak sih? Apa kau tidak lihat ini sudah jam berapa?” geram Erwin.


Dion hanya bergumam dalam selimutnya.


“Apasih?! Berisik sekali!”


“Iya aku tahu. Cerewet sekali,” ucap Dion dengan wajah kesalnya.


Ia beranjak dari tidurnya, melangkah menuju kamar mandi. Erwin menggelengkan kepalanya.


Setengah jam di kamar mandi, Dion keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.


“Kau yakin?” tanya Erwin yang tengah duduk menunggunya.


“Yakin apa?”


“Yakin untuk menikahi Shamila? Ku lihat dari raut wajahmu tidak ada yang bahagia.”


“Masih ada waktu, pikirkan baik-baik.”


“Aku sudah memikirkannya, aku siap menikahi Shamila atas kemanusiaan. Masalah hati, itu akan tumbuh dengan seiring waktu berjalan,” ucap Dion.


“Aku hargai keputusanmu. Shamila itu wanita yang baik, jangan sia-siakan dia. Masalah Nadia...”


“Sudahlah, aku tidak mau membahas dia,” sela Dion.


Membuat Erwin mengangkat bahunya.

__ADS_1


“Cepatlah turun, aku menunggumu di bawah,” ucap Erwin.


Dion meminta kepada Ayah Shamila, jika ia mau melakukan ijab kabul di rumah sahabatnya tersebut. Ayah Shamila langsung menyetujuinya, karena menurutnya Dion menikahi anaknya saja ia sudah sangat bersyukur walaupun ia tahu, jika Dion tak sama sekali mencintai anaknya.


Karena Dion tidak mempunyai orangtua atau keluarga, hanya Erwin lah satu-satunya yang ia anggap seperti saudaranya.


Ia menuruni tangga, langkahnya terhenti ketika melihat ada beberapa orang sudah berkumpul di ruang tamu, tak terkecuali pak penghulu.


Dion menghela napas berat, lalu kembali melangkah menuruni tangga.


“Nak Dion. Apakah anda sudah siap?” tanya pak penghulu ketika melihat Dion sudah duduk di hadapannya, hanya meja menjadi pemisah mereka.


Dion terdiam sejenak, lalu mengangguk. Saat ini Erwin menjadi saksi pernikahan sahabatnya tersebut.


“Yakinkan hatimu, sebelum semuanya terlambat,” bisik Erwin.


Melihat Dion yang mengangguk ragu, saat penghulu bertanya.


“Iya, aku sudah yakin,” balas Dion dengan berbisik.


“Apa yang kalian bicarakan anak muda? Kalau membicarakan tentang malam pertama, nanti setelah kau sudah sah menjadi suaminya,” ucap pak penghulu terkekeh.


“Hah? Ti-tidak pak,” sahut Dion tampak gugup.


Membuat orang yang berada di ruangan tersebut ikut tertawa, melihat kegugupan Dion.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2