
Di pagi yang mendung, matahari pagi tidak bisa menampakkan dirinya karena tertutup oleh awan hitam.
Nisa baru saja mengantar suaminya ke teras rumah, untuk berangkat bekerja.
Saat tiba di kantor, Bara mendapatkan pesan yang bernada ancaman. Ingin ia kembali ke rumah untuk tidak bekerja. Namun, ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Sebab itu ia hanya menghubungi istrinya untuk tidak keluar rumah, dan meminta untuk mengunci pintu dan jendela.
“Apa ini ulah Paman lagi? Kalau memang benar, aku tidak akan mengampuninya, apa Paman tidak mengerti apa yang ku katakan kemarin!” geram Bara, ia baru saja selesai menghubungi istrinya.
***
Di rumah, Nisa heran dengan sikap suaminya, yang baru saja selesai menghubunginya. Namun, ia tetap menurutinya untuk mengunci pintu dan jendela.
Terdengar ada notifikasi masuk di ponsel milik Nisa, ia mengambilnya yang tergeletak di meja. Melihat ada nomor asing yang mengirimnya pesan.
“Nomor siapa ini?”
Nisa mengerutkan keningnya, membaca pesan tersebut.
(Isi pesan) Jika kau ingin Bara selamat, pergi dari kehidupannya sekarang.
Pesan tersebut masuk ke ponselnya berserta foto baju yang ia kenakan waktu berangkat bekerja, membuat Nisa membulatkan matanya melihat foto tersebut, ditambah sedikit ada noda darah.
“Mas Bara,” lirihnya.
Nisa mencoba menghubungi nomor suaminya. Namun, lagi-lagi pesan dari orang tidak dikenal masuk.
(Isi pesan) jika kau berani menghubungi polisi, akan ku tembak tepat dijantungnya.
Nisa yang mulai panik, hingga tanpa sadar menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia mengambil ponselnya kembali, mencoba menghubungi suaminya. Namun, berulang kali menghubunginya selalu operator yang menjawab.
(Nomor yang anda dituju sedang tidak aktif, atau diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.)
“Mas Bara, hiks hiks !”
“Apa yang harus ku lakukan sekarang?”
Dengan langkah bergetar, Nisa melangkah keluar rumah. Ia ingin memastikan jika suaminya baik-baik saja, ia berniat menyusul ke kantor tempat dimana suaminya bekerja.
“Ini pasti hanya pesan salah alamatkan?!” batin Nisa.
Ia mengambil motor yang ada di bagasi, tidak lupa ia memakai helm. Dengan kecepatan cukup tinggi, seakan lupa dengan keselamatannya sendiri.
Tanpa Nisa sadari, mobil hitam tak kalah cepat mengikutinya di belakang sejak ia keluar dari rumah.
Saat ini Nisa fokus dengan perjalanannya, agar lebih cepat tiba di kantor tempat suaminya bekerja, tanpa melihat kaca spion motornya.
Nisa mengurangi kecepatan motornya, melihat ada mobil yang di depannya mengendarai mobil pelan. Namun, mobil yang mengikutinya semakin menambah kecepatannya dan....
Citttt..!
__ADS_1
Brruaaakkk.....!
suara mobil menabrak sesuatu, kecelakaan tak bisa di hindari lagi, Nisa terpental jauh sekitar tiga meter dari tempat motornya.
Motornya sudah tidak berbentuk lagi, belakang mobil yang ada di depan Nisa tadi, juga ikut hancur.
Suara rem mobil yang saling bersahutan, mobil yang menabrak tancap gas pergi dari tempat kejadian.
Beberapa mobil terpaksa berhenti, hingga membuat kemacetan panjang. Mobil Polisi dan ambulance juga baru datang ke tempat kejadian, karena ada pengendara yang menghubungi pihak kepolisian.
Dengan cepat petugas rumah sakit, mengangkat tubuh Nisa memakai tandu dan membawanya masuk ke dalam mobil ambulance. Pihak kepolisian dengan cekatan membantu untuk mengatur lalu lintas yang sempat macet panjang. Mobil ambulance dengan cepat membawa korban ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nisa langsung di bawa ke ruangan UGD untuk mendapatkan perawatan medis.
“Denyut nadi masih ada, pasien sangat kritis!” ucap Dokter yang memeriksa.
“Apa ada pihak keluarga yang bisa dihubungi? Pasien harus segera di operasi,” Ucap Dokter.
“Belum ada Dok,” sahut salah satu perawatnya.
“Persiapkan ruangan operasi! Kita harus segera ambil tindakan, korban begitu banyak kehilangan darah. Kaki sebelah kiri korban mengalami keretakan tulang kering yang cukup parah!" perintah Dokter tersebut.
Para perawat segera mempersiapkan apa yang perintahkan oleh Dokter. Dokter menatap gadis yang terbaring di bangsal, dengan tubuh yang penuh luka dan noda darah.
“Sepertinya, aku pernah melihat gadis ini. Wajahnya tidak begitu asing,” gumam Dokter dalam hati.
“Dok, ruangan operasi sudah siap,” ucap salah satu perawat.
***
Di kantor, Bara baru saja menyelesaikan meeting pagi hingga siang hari. Karena Pak Zaky harus ke luar kota, jadi Bara di percaya untuk menggantikannya. Karena melihat kinerja Bara yang sangat bagus, sehingga Pak Zaky langsung mempercayainya.
Bara kembali ke ruangannya, lalu mengambil ponselnya di laci yang sebelumnya ia nonaktifkan.
Saat layar ponsel menyala, Bara membulatkan matanya melihat begitu banyak panggilan masuk dari istrinya.
25 panggilan tak terjawab (My wife).
“Banyak sekali panggilan masuk, apa terjadi sesuatu dengannya?” gumam Bara yang mulai gusar.
Bara menekan nomor istrinya, berulang kali menghubunginya. Namun, tidak di angkat oleh Nisa.
“Kemana dia?” tanyanya gusar.
Bara Kembali menekan nomor istrinya.
“Halo, “ sahut seseorang dari dalam ponsel. Bara mengerutkan keningnya, kembali melihat nomor istri, berpikir jika ia salah menekan nomor. Namun, nomor yang ia tekan adalah nomor istrinya.
“Halo, siapa kau? Dimana istriku, kenapa ponselnya ada bersamamu?!” tanya Bara penuh selidik.
__ADS_1
“Maaf Pak, saya dari kepolisian. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan, sekarang sudah berada di rumah sakit xx. Maaf, apa anda dari keluarga korban?”
“Apaaa?!” teriak Bara membuat Andi yang berada di ruangan melihat kearahnya.
“Saya suaminya pak. Dimana istri saya sekarang? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Bara sangat panik.
“Sekarang sudah di tangani Dokter. Mohon maaf, ponsel istri anda masih berada di kantor polisi, untuk kepentingan penyidik.”
“Iya Pak. Terimakasih Pak,” Sahut Bara langsung mengakhiri panggilannya.
Bara berlari ke luar, untuk menuju mobilnya terparkir.
Dengan kecepatan penuh, Bara membawa mobil yang ia kendarai, tanpa memikirkan keselamatannya lagi, yang dipikirkannya saat ini adalah hanya istrinya. Tak butuh waktu lama, ia sudah tiba di rumah sakit yang di sebutkan oleh pihak polisi tadi.
Bara berlari masuk ke rumah menuju resepsionis.
“Permisi, saya mau bertemu istri saya. Korban yang baru saja mengalami kecelakaan, dan di larikan ke rumah sakit ini.”
“Pasien masih dalam ruangan operasi Pak,” sahut wanita penjaga resepsionis tersebut.
“Opera—rasi?” tanya Bara dengan suara terbata-bata.
“Iya Pak. Mohon lengkapi pengisian data disini Pak dan tanda tangan disini,” ucap petugas menyerahkan secarik kertas.
Dengan tangan yang bergetar, Bara mengambil pulpen dan menandatangani kertas tersebut dan menyerahkannya lagi kepada resepsionis.
“Dimana ruang operasinya?” tanya Bara.
“Sebelah sini, lurus langsung belok kiri,” ucap petugas tersebut dengan ramah.
“Baik Terimakasih,” sahut Bara dengan suara bergetar.
Dengan langkah besar, Bara menuju ruangan operasi. Setalah tiba di pintu ruangan tersebut yang masih tertutup rapat.
Bara terduduk lemas di kursi, melihat salah satu petugas perawat keluar, Bara langsung berdiri.
“Bagaimana keadaan istri saya Suster?” tanyanya.
“Istri anda masih dalam ruangan operasi, dan di tangani oleh Dokter. Mohon tenang ya Pak,” sahut perawat dengan ramah.
Bara mengangguk, Kembali lagi duduk di kursi. Disaat yang sama ia juga merasakan kepalanya sangat sakit, ia berusaha menahannya memegang kepalanya yang sakit luar biasa. Setelah beberapa hari yang lalu, ia memang merasakan sakit kepala. Namun, tak sesakit yang ia rasakan saat ini.
Ia baru ingat jika ia membawa obat dari rumah tadi, obat biasa yang ia minum ketika sakit kepalanya kambuh.
Bara beranjak dari duduknya, pergi ke parkiran mobil untuk mengambil obat yang ia letakkan di dashboard mobil.
Bara mengambil obat tersebut dan langsung meminumnya. Setelah itu, ia sejenak bersandar di kursi sambil memejamkan mata.
.
__ADS_1
.
.