Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 19


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu sejak kematian sang ayah mertua, selama itu juga dirinya belum bertemu dengan suaminya.


“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” batinnya.


“Tidak, aku tidak boleh seperti ini, aku harus kuat,” batin nya memberi semangat kepada dirinya.


Tampak sebuah mobil mewah memasuki area rumah, Nisa mengerutkan kening nya.


“Dia sudah kembali? Kenapa baru sekarang?” gumam nya.


Nisa bergegas masuk ke dalam kamar untuk menemui Bara, pria yang sangat menyebalkan bagi nya.


Nisa menuruni tangga dengan setengah berlari, di tengah perjalanan, Nisa langsung terhenti ketika mendengar Isak tangis Bi Minah dari arah kamar.


“Tolong Tuan, jangan pecat saya.” Sambil menyatukan kedua tangan nya.


“Saya tidak memecat Bibi! rumah ini ingin saya jual, bibi hanya pindah rumah dan bekerja di rumah teman saya kebetulan lagi butuh ART Bi,” sahut Bara lembut.


“Maaf kan saya Bi, saya butuh uang! Perusahaan sedang mengalami masalah dan rumah ini terpaksa harus saya jual untuk menyelamat perusahaan ayah.”


Hening sejenak, Nisa hanya pendengar di balik pintu kamar Bi Minah. Niat nya ingin bertemu Bara tanpa sengaja dirinya mendengar percakapan mereka.


“Baiklah, jika itu alasannya Tuan.”


“Terima kasih Bi, aku tidak akan pernah melupakan jasa Bibi,” ucapnya dengan senyum mengambang.


“Ini uang untuk Bibi, nanti sopir saya akan mengantar Bibi ke tempat kerja baru.”


“Tapi Tuan...”


“Bi, tolong! ini tidak seberapa dengan jasa Bibi.”


“Terima kasih Tuan.”


“Sama-sama Bi, Saya permisi dulu,” pamit Bara.


Bi Minah hanya mengangguk, dan mulai mengemaskan pakaian nya. Saat membuka pintu kamar, Nisa hampir terjatuh beruntung Bara dengan sigap menangkap nya karena sebelumnya ia bersandar di pintu kamar.

__ADS_1


“Kenapa dia tambah cantik?” Batin Bara. Sejenak mereka saling berpandangan, seketika langsung tersandar saat mendengar suara barang terjatuh.


“Kau! Apa yang kau lakukan disini? Kau menguping, hah?” bentak Bara.


“Bisa kah anda menurun kan Sedikit nada bicara anda Tuan?” ucap Nisa tak mau kalah.


“Kurang ajar! Mulai berani kamu ya!!”


Bara menarik tangan Nisa dengan kasar dan membawa nya masuk ke dalam kamar.


“Lepaskan aku...,” memukul tangan Bara dengan kuat.


“Kenapa? Sakit, hah? Hahahaha..,” tanya Bara di iringi dengan gelak tawa nya memenuhi kamar.


“Apa dia sudah tidak waras?” batin Nisa.


“Jangan menatap ku seperti itu! Aku tahu isi dalam kepalamu, pasti kamu menganggap aku sudah tidak waras kan?” celetuk Bara lalu melepas kasar tangan Nisa dan mengeluarkan sesuatu di saku celananya. Nisa mengusap pergelangan tangan nya yang sedikit kemerah merahan.


“Ini...!” melempar amplop kecil berwarna coklat ke wajah Nisa.


“Apa ini?” tanya Nisa serius.


“Surat cerai?”


“Anak pintar, berhubung aku sedang berbaik hati. Jadi aku bebaskan kamu, wanita bodoh!” sahut Bara dengan senyum.


“Aku tidak mau bercerai dan sampai kapan pun aku tidak mau menandatangani surat perceraian ini.”


“Oh ya? Apa alasan nya kamu tidak mau?” tanya Bara menatap nya dengan tajam.


“Tidak butuh alasan,” sahut nya tak mau kalah.


“Oh, apa kamu ingin pembagian harta?” ejek Bara.


“Saya tidak butuh harta,” celetuk Nisa.


“Lalu?”

__ADS_1


“Sudah ku bilang, aku tidak butuh harta mu Tuan.”


“Oh ya? Apa sekarang...,” Bara mengantungkan ucapannya.


“Apa?” tanya Nisa penasaran.


“Apa kamu sudah tidak mau jauh-jauh dariku sekarang?” ejek Bara.


Nisa hanya membuang muka, tanpa membalas pertanyaan yang menurut nya konyol. Bahkan sampai saat ini ia belum merasakan getar cinta di hatinya.


“Jawab...!” teriak Bara.


“Bu—bukan itu, hanya saja bagi ku pernikahan hanya sekali seumur hidup.”


“Ciih...., omong kosong.”


“Cepat tanda tangani surat cerai itu,” perintah Bara dengan sedikit berteriak.


“Tidak,” sahut lantang Nisa.


“Rupanya kamu sudah berani bermain main denganku, baiklah! Aku akan lihat, seberapa mampu kamu bertahan.” Ejeknya lagi.


“Kita lihat saja nanti,” sahut Nisa tak mau kalah.


“Cih..., wanita seperti mu pasti hanya ingin uang saja,” ejek Bara.


“Maaf Tuan, saya tidak yang seperti anda pikirkan,” sahut Nisa. Hatinya merasa teriris, ketika Bara menganggap nya bertahan hanya demi uang.


“Baiklah, kita lihat saja nanti,” gumam Bara. Bara merasa bersalah mengatakan hal itu.


“Kamu mau kemana?” Tanya Nisa melihat bara mengambil koper.


“Keluar dari rumah ini, puas..!”


“Ma—maksudnya?”


“Banyak bertanya, cepat kemasi barang mu! Kita akan pindah rumah,” perintah Bara sambil memasukkan pakaiannya.

__ADS_1


“Walaupun aku tidak mencintai mu, aku masih bertanggung jawab dan tidak mungkin meninggal seorang wanita sendirian. Tapi, aku akan membuat mu tidak betah bertahan dengan ku...!” gumam Bara sekilas ia melihat Nisa juga mulai mengemasi pakaiannya, lalu tersenyum licik.


Bersambung...


__ADS_2