
Di mobil, Erwin masih menunggu penjual membuatkan pesanannya. Karena di luar sangat panas, Erwin memilih menunggu di dalam mobil saja. Cukup lama ia terhanyut dalam pikirannya, dan ia baru menyadari sesuatu.
“Astaga, aku lupa menanyakan kepada Dion. Apa yang Ayah Shamila bicarakan kemarin? Sialan! Kenapa aku bisa lupa?” Umpat Erwin dalam hati.
Ketika ia hendak menekan nomor Dion yang ada di ponselnya, teralihkan oleh penjual gado-gado yang mengetuk pintu kaca mobilnya.
Erwin mengurungkan niatnya, dan menyimpan kembali ponselnya di dashboard.
“Ini Tuan,” ucap penjual tersebut.
“Berapa Bu?”
“Lima belas ribu saja,” sahut penjual tersebut.
Erwin mengeluarkan pecahan lima puluh ribu dari dompetnya.
“Makasih Bu.”
“Tunggu Tuan, saya mengambil kembaliannya,” ucap penjual tersebut hendak berlalu pergi.
“Ibu. kembaliannya untuk Ibu saja. Ini untuk orang yang lagi mengidam Bu,” ucap Erwin ramah.
“Wah, istrinya lagi ngidam ya. Semoga istri dan calon anak Tuan sehat selalu, menjadi anak Sholeh dan Sholeha.”
“Eh, buka....”
“Maaf Tuan, ada yang ingin membeli jualan saya. Saya permisi, dan terima kasih banyak Tuan,” sela Ibu tersebut.
Erwin tersenyum mengangguk, Erwin menghela napas berat.
“Jika saja dia benar-benar istriku, aku akan memborong dagangan Ibu,” gumam Erwin.
Lalu menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit, Erwin langsung menuju ruangan dimana Bara berada.
Saat masuk ke dalam ruangan, Erwin melihat Nisa tertidur pulas di sofa dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
“Kasihan, pasti dia sangat lelah.”
__ADS_1
Erwin begitu prihatin melihat Nisa tertidur, terdengar suara dengkuran kecil.
Erwin perlahan meletakkan bungkusan makanan tersebut, di atas meja. Mendengar ada suara, Nisa perlahan membuka matanya.
“Kamu sudah datang?” tanya Nisa dengan suara paraunya.
“Iya. Maaf aku membuatmu terbangun.”
“Tidak apa-apa.”
“Ini semua makanan yang kamu mau,” ucap Erwin memperlihatkan plastik tersebut.
Dengan wajah sumringah Nisa mengambilnya, dan menghirup aroma makanan tersebut.
“Kau sepertinya sangat senang?”
“Iya, aku sangat menginginkannya sejak kemarin. Terima kasih Erwin.”
“Iya. Cepat makanlah.”
“Aku akan mencuci tanganku terlebih dahulu,” gumam Nisa meletakkan kembali bungkusan tersebut, lalu beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Melihat Nisa masuk ke dalam kamar mandi, Erwin melangkah mendekati bangsal tersebut. Tampak wajah Bara yang terlihat tirus, kepala di perban dan terpasang beberapa alat di beberapa bagian tubuhnya.
“Hanya segini perjuanganmu. Cih...! lemah sekali!” ejek Erwin berbicara kepada orang yang masih terlelap.
“Kalau kau tidak bangun dalam dua hari lagi, ku pastikan istrimu jatuh ke pelukanku!” ancam Erwin.
Tanpa Erwin sadari, jika jari Bara bergerak sedikit.
Ceklek ! suara pintu kamar mandi terbuka.
“Kamu sedang apa?” tanya Nisa melihat Erwin berdiri dekat Bara.
“Tidak. Aku hanya melihat keadaan Bara, apa dia belum membuka matanya sama sekali?” tanya Erwin ikut duduk di samping Nisa.
Bukannya menjawab, Nisa lebih tergiur dengan makanan yang Erwin bawa.
Nisa begitu lahap makan, tanpa mempedulikan Erwin yang menatapnya sambil menelan salivanya.
Uhukk... uhukk..! Nisa tersedak.
__ADS_1
“Pelan-pelan makannya. Aku tidak akan memintanya,” gurau Erwin menyerahkan botol air mineral.
Niatnya hanya bercanda, malah membuat Nisa cemberut kepadanya.
“Hehe maaf, aku hanya bercanda.”
Setelah menghabiskan setengah botol air, Nisa kembali makan.
“Sepertinya sangat enak. Apa aku boleh mencicipinya?”
Nisa memutar lehernya ke arah Erwin, terdiam sejenak lalu mengangguk.
“Ini.”
Nisa menyodorkan piring yang berisi gado-gado tersebut.
“Enakkan?” ujar Nisa melihat Erwin memasukkan sesuap makanan tersebut ke dalam mulutnya.
Erwin mengangguk.
“Sudah cukup, kamu bisa beli sendiri. Ini bagianku.”
Nisa menarik kembali piringnya dan mulai makan Kembali.
“Iya, habiskan lah. Jangan kamu telan berserta piringnya yah,” ucap Erwin cengengesan.
“Punya dendam apa padaku?!” menatap Erwin tajam.
“Tidak, aku hanya bercanda.”
“Benar kata orang, ibu hamil memang sensitif,” gumam Erwin dalam hati.
Melihat Nisa menyelesaikan makannya, Erwin berpamitan untuk pulang dan berjanji akan datang lagi besok.
“Jaga diri baik-baik. Jangan sungkan untuk menghubungiku jika kamu butuh sesuatu,” ucap Erwin.
“Iya, terimakasih traktirannya. Hati-hati dijalan.”
Erwin mengangguk tersenyum, sambil menatap wajah orang yang sangat ia rindukan.
.
__ADS_1
.
.