
Erwin baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan mempersiapkan berkas yang akan ia bawa lusa ke luar kota.
“Bagaimana, apa sudah selesai?” tanya Dion yang baru masuk ke ruang kerja.
“Sudah,” sahut Erwin.
“Apa kau yakin akan pergi sendiri?”
“Iya. Kau urus yang disini saja. Kasihan Nadia harus kau tinggal, dalam keadaan hamil.”
“Baiklah,” sahut Dion.
Ia juga membantu Erwin melihat berkas yang akan ia bawa.
“Oh iya. Apa kau sudah menghubungi paman dan memberitahu jika Nadia sedang mengandung?” tanya Erwin di sela merapikan berkasnya.
“Iya, sudah.”
“Lalu, Paman bicara apa?”
“Mereka sangat bahagia mendengar kabar itu. Mereka akan datang kemari mungkin seminggu lagi,” tutur Dion.
Namun, wajah Dion tidak bisa membohongi jika ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Erwin memegang bahu Dion, agar menghadap ke arahnya.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Erwin.
Dion menghela napas berat, Dion duduk di samping Erwin sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
“Entah lah, aku juga pusing.”
“Apa paman mengatakan sesuatu kepadamu?” tanyanya lagi.
Dion mengangguk.
“Paman mengatakan apa?” menatap Dion serius.
“Ayah meminta Nadia untuk pulang dan tinggal di sana.”
“Terus?”
“Aku tidak mungkin bolak balik Jakarta Singapura. Pekerjaan ku disini, aku tidak mungkin juga tinggal disana. Aku ingin membangun bisnis dengan jerih payahku sendiri.”
__ADS_1
“Apa tanggapan Nadia, ketika ayahnya meminta untuk pulang?”
“Nadia menolak.”
“Bagus. Aku akan berbicara dengan Paman,” Ujar Erwin hendak mengambil ponselnya.
“Tidak perlu! Biarkan aku yang menyelesaikan masalah rumah tanggaku, aku tidak ingin jika Ayah salah paham!”
Erwin mengangguk mengerti.
“Baiklah. Katakan padaku jika kau butuh bantuan,” ujar Erwin menepuk pelan bahu Dion.
“Terima kasih.”
“Oh ya. Kita ada bisnis baru, bukan? jika kau ingin menanam saham di proyek itu, ini kesempatan bagus untukmu.”
“Iya, itu bisa diatur!” sahut Dion.
“Baiklah, aku ke kamar dulu,” pamit Erwin.
Dion mengangguk. Melihat kepergian Erwin, Dion membereskan berkasnya dan menyusul Erwin yang juga keluar dari ruang kerja tersebut.
“Kemana mereka?” tanya Erwin melihat kamarnya kosong.
Tidak ada istrinya ataupun putranya di kamar tersebut.
Dan benar saja, saat membuka pintu, terlihat Sifa berbaring di pangkuan Nisa.
“Ternyata kalian disini, aku mencari kalian di kamar,” ujar Erwin berlalu masuk.
“Hm... Sifa berbohong ya?” bisik Nisa.
“Hehe... maaf kak! Kak Erwin pasti tidak membiarkan kakak ikut bersamaku, jadi aku berbohong.”
Nisa tersenyum, mengangguk.
“Kakak kenapa kemari? Ini adalah area perempuan!” ketus Sifa.
“Aku hanya ingin menemui istriku dan putraku. Tapi, aku tidak melihat Reyhan, dimana dia?”
“Reyhan ikut bersama Mami, sepertinya tidur di kamar Mami,” sahut Nisa.
“Oh, begitu. Sifa, bagaimana kuliah mu?”
__ADS_1
“Hm... ada baik dan buruknya,” ujar Sifa cemberut.
“Semangat berjuang!” ujar Erwin mengusap kepala adiknya tersebut.
“Baiklah, sudah larut malam. Aku kemari menjemput istriku, sudah cukup lama kalian mengobrol,” celetuk Erwin menarik tangan istrinya.
“Hm!”
Sifa memicingkan matanya kepada kakaknya tersebut. Erwin tidak mempedulikan adiknya yang menatapnya tajam, ia malah terkekeh.
“Besok kita mengobrol lagi,” ujar Nisa.
Sifa mengangguk, sembari tersenyum tipis.
“Kasihan Sifa,” ujar Nisa ketika tiba di kamar mereka.
“Besok kalian bisa mengobrol lagi. Kau hanya punya waktu besok untuk bersamaku, karena lusa pagi aku sudah berangkat.”
“Iya,” sahut Nisa merapikan tempat tidur sebelum mereka tiduri.
“Hah, enaknya!” desah Erwin setelah mendaratkan tubuhnya di kasur empuknya.
“Tubuh ku sangat lelah hari ini!” keluh Erwin.
“Sayang,” bisik Erwin langsung menarik tubuh istrinya dan mendekapnya.
“Apa kau bahagia menikah denganku?”
“Mmm...”
“Ada apa? Kok lama jawabnya? Apa kau...”
Menatap istrinya.
“Aku hanya bercanda,” ucap Nisa terkekeh.
“Aku sangat bahagia sayang.”
Nisa menatap suaminya.
Mereka melewati malam yang indah berdua, di temani malam yang cerah akibat cahaya rembulan yang bersinar terang malam itu, langit pun di hiasi bintang yang bertaburan.
\*Sekian Terima kasih\*
__ADS_1
~Ketika kamu sudah menemukan cinta sejati, jangan pernah untuk menemukannya lagi. Peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.~
Eeeitss belum Tamat ya 😊😊