Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 7


__ADS_3

Setelah melihat kepergian Ibunya, Nisa menghela nafas berat. Ia berusaha menahan air mata yang hampir menetes.


"Mba Nisa, jangan nangis ya, nanti riasan nya luntur," Ucap yang mua, Nisa mengangguk sambil menahan air mata agar tidak menetes keluar.


"Ya Allah, semoga jalan yang ku ambil ini, adalah jalan yang benar," Batin Nisa.


Setelah selesai Nisa keluar kamar dan di bantu seseorang yang memegang tangannya untuk menuruni tangga.


Semua orang terpana melihat kecantikan Nisa, tak terkecuali calon suami nya. Pernikahan yang di laksanakan di rumah dan Nisa meminta pernikahan yang sederhana saja, hanya mengundang beberapa orang kerabat dari keluarga pria dan keluarga ibu nya Nisa dan tetangga sekitar.


Nisa berjalan perlahan dan duduk di samping calon suaminya.


"ekhem, ekhem." Suara ayah nya berdeham, hingga membuat calon suaminya sedikit terkejut.


"Bisa kita mulai ijab Kabul nya?" Tanya pak penghulu, ayah dari calon suami Nisa mengangguk dan juga wali dari Nisa.


"Baik, Bismillah, saya nikah kan dan kawin kan, Annisa Putri Fatimah binti almarhum Hendra Saputra, dengan Bara Tanuwijaya bin Burhan Tanuwijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin lima gram, di bayar tunai," Ucap pak penghulu dengan suara lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Annisa Putri Fatimah binti almarhum Hendra Saputra, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan cincin lima gram, di bayar tunai." sahut Bara dengan suara lantang dan satu kali pengucapan.


"Bagaimana saksi?"


"Sah...." Ucap saksi, Nisa hanya bisa memejamkan mata dan air mata yang tidak bisa ia tahan lagi, mengalir di pipinya.


"Alhamdulilah, barakauallah!" Sahut orang bersama dan lanjut pembacaan doa, setelah selsai Nisa mengambil tangan pria yang sudah menjadi suaminya tersebut lalu mencium nya, lalu bersalaman kepada orang tua mereka.


Setelah acara selesai dan tinggal beberapa orang dari keluarga suami Nisa termasuk mertuanya, Nisa berpamitan masuk ke kamar untuk menggantikan baju nya.


Saat di kamar Nisa dikejutkan ada beberapa tas yang sudah tersusun rapi di dekat tempat tidur.


"Kenapa tas ku berada disini?" gumam Nisa merasa heran, lalu ia berjalan ke arah lemarinya dan membuka lemari nya terlihat semua isi lemari nya kosong. Tidak lama terdengar seseorang membuka pintu kamar nya.

__ADS_1


"Ibu," Ucap Nisa lirih.


"Iya Nisa, kamu pasti heran melihat semua tas mu berada di luar? Ibu yang menyiapkan semuanya," Ucap ibunya sambil berjalan masuk menghampirinya.


"Tapi kenapa semuanya Bu?" Sahut Nisa dengan nada lembut.


"Iya, kamu kan akan tinggal bersama suami mu mulai sekarang," Sahut Ibunya, lalu membantu Nisa melepaskan semua aksesoris nya yang menempel.


"Apa Nisa boleh menginap semalam lagi disini Bu?" Tanya Nisa merasa tidak ingin berpisah dari ibunya.


"Tidak boleh! mertua mu sudah menunggu mu di bawah, mereka ingin membawa mu ke rumah mereka sekarang!" Tolak Ibu nya.


"Tapi Bu," Ucap Nisa langsung terpotong.


"Tidak ada tapi tapian! Ibu tidak mau membuat mereka kecewa, dan kamu masih ingat kan perjanjian kita," Tolak ibu nya tegas, lalu memberikan baju ganti kepada Nisa.


"Setelah selesai cepat lah turun!" Perintah Ibu nya, lalu keluar kamar dengan menutup pintu sedikit keras, hingga membuat Nisa melonjak kaget.


Tok, tok, tok, terdengar ada yang mengetuk pintu kamar Nisa.


"Iya sebentar," Sahut Nisa.


lalu menghapus air mata nya. ia bergegas masuk ke kamar mandi lalu mencuci wajahnya dan memakai baju gantinya, setelah selesai Nisa kembali ke kamar dan membuka pintu kamarnya.


terlihat seseorang pria paruh baya yang masih setia berdiri di depan kamar nya.


"Iya, ada apa? dan maaf, bapak siapa ya? sepertinya saya baru melihat bapak," Ucap Nisa dengan nada sopan kepada seseorang yang berdiri menunduk di depan kamarnya.


"Saya pelayan dari rumah pak Burhan nona, saya di perintah untuk mengambil barang nona yang akan di bawa," sahut nya.


"Oh, baiklah pak silahkan masuk pak," ucap Nisa mempersilahkan pria tersebut masuk.

__ADS_1


"Oh iya pak, jangan panggil saya nona, panggil Nisa saja," ucap Nisa dengan tersenyum simpul, pria yang sempat berhenti lalu tersenyum membalas senyuman Nisa lalu mengangguk mengerti.


Nisa menuruni tangga perlahan lahan, ia melihat ibu nya tertawa lepas dengan mertuanya dan beberapa orang, ia tersenyum melihat nya setelah sekian lama baru kali ini melihat ibu nya tertawa lagi.


"Nah itu pengantin baru nya sudah turun," Ucap ibu nya.


Melihat Nisa yang berhenti di tengah tengah anak tangga, lalu Nisa kembali turun setelah mendengar ibunya memanggil namanya dan menemui ibunya.


"Loh dimana suamimu nak?" Tanya pak Burhan.


Ia heran melihat Nisa hanya turun sendiri, hingga membuat Nisa mengerutkan keningnya.


"Suami?" Nisa mengerut keningnya.


"Iya Bara, suamimu,"Ucap pak Burhan lagi.


"Aku tidak melihatnya sejak tadi Tuan," ucap Nisa.


"Bukan kah, dia berpamitan ingin menemui mu di kamar tadi?" Ucap pak Burhan merasa heran.


Saat Nisa berpamitan ke kamar Bara juga berpamitan kepada ayahnya untuk menemui Nisa.


"Tidak ada Tuan, saya belum bertemu beliau," Sahut Nisa.


"Pergi kemana anak itu? tidak tahu malu, tunggu kau Bara," Batin pak Burhan geram.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2