
“Sialan!” gerutu Erwin.
Bara terpaksa membawa mobil Erwin, diri nya berniat membawa istrinya naik taksi. Namun di urungkan nya, melihat Nisa sudah duduk di dalam mobil.
“Awas saja kau!” ancam nya dalam hati.
Bara mengendarai mobil milik Erwin, sesekali ia melirik kursi belakang dari kaca spion. Nisa hanya duduk diam melihat ke arah luar jendela.
“Apa kamu baik-baik saja? Apa masih ada yang sakit?” tanya Erwin penuh perhatian.
“Aku baik-baik saja,” sahut Nisa dengan senyum paksa.
Beberapa menit, mereka tiba di halaman rumah. Bara lebih dulu turun dan membuka kan pintu untuk Nisa.
“Ayo,” ajak nya.
Nisa perlahan keluar, karena kaki nya belum sembuh total.
“Terima kasih atas tumpangan nya,” ucap Bara dengan melebarkan senyum paksa nya.
Erwin mengangkat kedua bahu, dengan senyum mengejek.
“Erwin, terima kasih banyak ya,” ucap Nisa.
“Sama-sama Nisa, jangan sungkan untuk meminta bantuan,” sahut Erwin dengan senyum.
Hingga membuat Bara murka.
“Enggak masuk dulu?”
__ADS_1
“Tidak Nisa, maaf lain kali saja. Aku masih ada urusan di luar,” tolak Erwin.
“Iya, terima kasih ya,” ucap Nisa lagi. Erwin mengangkat jempol nya dan berlalu pergi.
“Ayo masuk,” ajak Bara.
Bara menggandeng bahu Nisa, membawa nya masuk ke dalam kamar nya.
“Istirahat lah dulu. Tapi sebelum itu, ganti dulu pakaian mu,” ucap Bara penuh perhatian.
Nisa mengangguk patuh.
“Aku akan ke kamar ku,” pamit Bara.
Saat di depan pintu kamar, Langkah Bara terhenti ketika Nisa memanggilnya.
“Mmm Bara,” panggil Nisa.
“Iya,” sahut Bara berbalik badan.
“Terima kasih sudah membantu ku,” ucap Nisa lembut.
Bara tersenyum mendengar ucapan Nisa, hingga membuat Nisa terpana akan senyum manis suami nya.
“Istirahat lah,” ucap Bara.
Nisa mengangguk lalu memalingkan wajah nya ke arah lain tanpa melihat kepergian Bara. Nisa menutup pintu kamar nya, ia merebahkan tubuh nya di kasur empuk nya sambil memandang langit-langit rumah.
***
__ADS_1
Dua bulan sudah berlalu, tidak ada perubahan dengan hubungan mereka. Bara memang berubah, tidak pernah kasar lagi dengan nya dan perhatian nya sekedar mengingatkan makan, minum obat dan istirahat.
Siang ini, Nisa memasukkan semua baju milik nya ke dalam koper.
Ini yang terbaik pikir nya, ia sudah menyelesaikan tugas nya membuat Bara berubah menjadi pria yang baik.
“Aku akan memberikan ini kepada nya,” Ujar Nisa membawa dua amplop coklat di tangannya.
Nisa menuruni tangga perlahan, dengan membawa koper kecil milik nya.
Tok, tok, tok. Nisa mengetuk pintu kamar Bara.
“Masuk,” sahut Bara dari dalam kamar.
Tampak Bara sibuk dengan laptop nya, tanpa menoleh karena ia sudah tahu siapa yang datang.
“Ada apa Nis? Apa kau butuh sesuatu?” berbalik ke arah Nisa, ia mengerutkan kening nya melihat Nisa sudah rapi tak seperti biasa nya dengan tas selempang di bahu.
“Kamu mau kemana?” tanya Bara heran.
“Aku mau memberikan ini,” ucap Nisa menyerahkan dua amplop di tangan nya.
“Apa ini?” menyambut amplop tersebut. Ia membuka nya membaca nya dengan teliti dan ada tanda tangan Nisa disitu.
Deg, jantung Bara seakan terhenti. Nisa benar- benar menandatangani surat cerai itu, itu artinya ia akan siap bercerai.
Saat hendak bertanya, Nisa tidak ada di hadapan nya. Ia berlari keluar rumah namun terlambat Nisa pergi dari rumah.
Bara terduduk lemas di sofa.
__ADS_1
Bersambung...