
Keesokan paginya, Nisa lebih dulu membuka matanya. Tampak Bara masih terlelap tidur masih mendekapnya dengan erat.
Perlahan Nisa melepaskan dekapan dari suaminya, agar tidak membangunkannya. Nisa memungut baju nya yang berserakan di lantai, akibat kelakuan bar-bar suaminya.
Nisa masuk ke kamar mandi, melakukan mandi wajib. Lalu melakukan Shalat subuh sebagai umat muslim.
Ia melepas mukena yang ia kenakan, setelah selesai melakukan Shalat. Berjalan menuju pintu balkon, membuka sedikit tirai yang menutupi jendela kaca membiarkan cahaya masuk ke kamarnya.
Membuka pintu balkon, membiarkan angin pagi masuk ke kamar. Nisa berjalan ke arah balkon untuk melihat sekeliling, tanpa sengaja melihat Erwin begitupun sebaliknya. Mata mereka saling bertemu per sekian detik, pandangan mereka terhenti ketika mendengar gumam Bara di balik selimut.
Nisa masuk ke dalam, tanpa menghiraukan Erwin yang sejak tadi menatapnya.
“Apa yang kau lihat? Cepat masuk! Kita sudah hampir terlambat,” ucap Dion menurunkan kaca mobil.
Mendengar teriakan Dion, Erwin dengan segera masuk ke dalam mobil.
Nisa masuk kembali ke kamarnya, perlahan membangunkan suaminya.
“Mas, bangun. Hari ini hari pertama kerja loh,” ucap Nisa lembut.
Merapikan kamarnya yang sedikit berantakan, mengambil pakaian suaminya meletakkan di keranjang baju.
“Jam berapa sekarang?” gumam Bara di balik selimut.
“Jam enam,” sahut Nisa.
Terdengar suara mobil yang perlahan menjauh.
“Erwin pergi bekerja sepagi ini?” batin Nisa.
Namun, ia mencoba tidak memikirkannya.
“Sebentar lagi,” Gumam Bara tidak jelas.
“Aku akan turun membuatkan mu sarapan,” pamit Nisa.
Tidak ada sahutan dari suaminya, Bara pasti melanjutkan tidurnya kembali pikirnya.
Nisa bergegas ke dapur, membuatkan sarapan untuk suaminya beserta bekal makan siang. Cukup lama berkutik di dapur, dengan tangan yang lihai memasak.
Terdengar suara bel pintu berbunyi, menandakan ada tamu yang datang.
“Siapa yang bertamu sepagi ini,” gumam Nisa heran.
Ia mencuci tangannya terlebih dahulu, dan bergegas membuka pintu.
“Selamat pagi Nisa,” sapanya.
“Paman,” ucap Nisa lalu tersenyum mempersilahkan masuk.
“Maaf paman bertamu sepagi ini. Apa Bara sudah bangun?” tanyanya.
“Mas Bara masih tidur paman. Nisa akan membangunkannya paman,” ucap Nisa hendak berlalu pergi.
“Sebaiknya biarkan saja Nisa, paman tidak enak jika mengganggu tidurnya.”
“Tidak mengganggu paman, sebentar lagi mas Bara akan pergi bekerja.”
__ADS_1
Paman Ridwan mengangguk.
Nisa naik menuju kamarnya, ia berpikir bagaimana pamannya tahu alamat rumah mereka. Mungkin Bara yang memberitahu pikirnya.
Ceklek, suara pintu terbuka. Tampak Bara baru membuka matanya, duduk bersandar di ranjang sambil menutup mulut karena menguap.
“Sudah bangun?” sapa Nisa menutup pintu kamarnya dan duduk di sebelah suaminya dengan posisi berhadapan.
“Hm,” jawab Bara bernada malas, karena masih merasakan kantuk.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Bara.
Melihat istrinya sejak tadi menatapnya.
“Ada paman datang,” ucap Nisa.
Bara mengernyitkan kening heran.
“Paman, Sepagi ini datang?” tanya nya memastikan.
Nisa mengangguk.
“Apa kamu memberitahu paman kalau kita sudah pindah rumah?”
“Tidak, aku belum berkomunikasi dengan paman selama beberapa Minggu ini. Entah dari mana paman mengetahuinya,” ucap Bara.
“Ya sudah, cepat mandi lah! Paman sedang menunggumu di bawah,” ucap Nisa hendak berlalu pergi.
“Eits, mau kemana?”
Dengan satu tarikan, Nisa jatuh ke dalam pelukannya.
“Diam, banyak bicara! Suaramu mengalahkan burung beo,” ejek Bara.
Ia mendekatkan wajahnya, lalu memberi ciuman selamat pagi di kedua pipi istrinya.
“Apaan sih, suaraku bagus kok!” protes Nisa sambil mengerucutkan bibirnya.
Bara terkekeh, dengan gemas mencium kembali pipi istrinya.
“Sudah, turunlah! Aku akan mandi dulu,” ucap Bara melepaskan dekapannya.
“Kau ini,” protes Nisa membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Bara beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi.
“Sayang,” panggil Bara ketika sudah di depan pintu kamar mandi.
“Iya,” sahut Nisa.
Melihat suaminya hanya memakai celana boxer, membuatnya segera memalingkan wajahnya.
“Aku sedang bicara padamu,” panggil Bara bernada kesal, karena melihat istrinya memalingkan wajahnya.
“Apa?” tanya Nisa terpaksa menoleh.
“Tolong ambilkan pakaian kerjaku di kamar ya,” ucap Bara.
__ADS_1
Melihat Nisa mengangguk, Bara kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar mandi.
Nisa masuk ke kamar Suaminya, dan membuka lemari mencari pakaian kerja yang cocok untuk suaminya.
“Sepertinya ini cocok,” gumamnya mengambil pakaian yang berwarna navy.
Teringat di benaknya, bagaimana Bara memperlakukannya dulu karena mencari pakaian yang berwarna navy.
Ia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
“Semua itu sudah berlalu,” gumamnya.
Ia bergegas keluar untuk kembali lagi ke kamarnya. Meletakkan baju di meja samping tempat tidur.
Pandangannya teralih melihat alas kasur, ada bekas bercak darah. Dengan segera melepaskannya lalu meletakkannya di keranjang tempat pakaian kotor.
“Aku akan mencucinya nanti,” gumamnya.
Nisa kembali ke dapur, untuk menyiapkan sarapan. Berserta teh hijau hangat, untuk suaminya dan juga paman dari suaminya yang sedang menunggu di ruang tamu.
Bara yang baru saja menyelesaikan mandinya, tersenyum tak pernah lepas dari bibir ranumnya. Ia melirik pakaian yang sudah tersedia di meja, lalu mengambil pakaian tersebut dan memakainya.
Setelah memakai pakaiannya, Bara duduk di kursi hendak memakai sepatunya. Namun, ketika hendak berdiri matanya terasa berkunang-kunang. Bahkan ia hampir terjatuh, dengan cepat meraih meja di sampingnya untuk berpegangan.
“Kenapa tiba-tiba kepala ku sangat sakit sekali?” gumam Bara terduduk di lantai.
Bara menarik nafas, lalu membuangnya begitupun seterusnya hingga merasa kepalanya sedikit ringan dan sakit nya mulai mereda.
Bara perlahan keluar dan turun menemui istrinya untuk sarapan pagi.
Di tengah tangga ia berhenti sejenak, melihat sang istri yang sangat cantik dengan rambut yang tergerai. Nisa masih sibuk mengaduk teh hijau kesukaan suaminya, tanpa ia sadari suaminya memperhatikannya sejak tadi.
“Sayang,” panggil Bara.
Nisa menoleh ke arah suara, Bara menghampirinya dan memeluknya.
“Mas ayo sarapan,” ajak Nisa melepaskan dekapan suaminya.
“Paman sudah menunggumu sejak tadi. Temuilah dulu dan ajak sarapan bersama, aku sudah menyiapkan semuanya,” ucap Nisa.
“Baiklah, aku akan menemui paman sebentar,” ucap Bara mencium pipi istrinya sekilas dan berlalu pergi.
“Paman,” panggil Bara.
Paman Ridwan yang awalnya sibuk dengan ponselnya, teralih kan dengan suara panggilan Bara.
“Bara, apa kabar mu nak?” tanya paman yang langsung memeluknya.
“Aku baik, seperti yang paman lihat. Bagaimana dengan paman, bibi dan juga Reyhan? Sudah sangat lama tidak bertemu dengan mereka,” ucap Bara yang ikut duduk bersama pamannya di sofa empuk miliknya.
“Mereka baik. Kau bekerja dimana sekarang? Aku dengar bisnismu sedang bangkrut sekarang!”
Membuat lidah Bara tak mampu untuk berkata-kata, bagaimana pamannya mengetahui itu semua. Padahal, ia belum menceritakannya.
.
.
__ADS_1
.