Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 86


__ADS_3

“Hahaha..., Nenek lucu juga. Terimakasih ya nek, sudah menganggap Nisa seperti cucu nenek sendiri.”


Nenek Dira menghela napas, ternyata Nisa masih belum mempercayainya jika dirinya memang benar Nenek kandungnya.


“Mungkin waktunya kurang tepat,” ucap Nenek Dira dalam hati.


Nenek mengangguk tersenyum paksa, menatap Cucunya tersebut.


Tittttt...! Tittttt...!


Tiba-tiba saja alat tersebut berbunyi, semua orang menatap kearah Bara. Dengan sigap Nisa melangkah dan menekan tombol darurat yang terletak di dekat bangsal tersebut.


“Ada apa Toni?” tanya Nenek melihat kepanikan Nisa.


“Aku tidak tahu Nyonya. Sebaiknya kita keluar Nyonya, ini sangat mengganggu pasien,” ucap Toni.


“Tapi, aku ingin bersama cucuku disini.”


“Jangan Nyonya, kasihan pasien. Kita tunggu di luar saja.”


Tak butuh waktu lama Nisa menekan tombol darurat tersebut, petugas rumah sakit masuk ke dalam ruangan tersebut.


Melihat ada beberapa orang di dalam ruangan tersebut, membuat petugas rumah sakit menegur dengan sopan.


“Maaf, Tuan dan nyonya. Tidak boleh lebih dari dua orang berada dalam ruangan ini, kasihan pasien.”


“Iya sus, maaf. Kami akan keluar,” sahut Toni.


Toni mengajak Nenek Dira keluar dan begitupun Pak Zaky. Pak Zaky, pamit untuk pulang terlebih dahulu Karena ada perkerjaan penting menunggunya.


Petugas rumah sakit tersebut mengangguk, lalu memeriksa keadaan Bara.


“Ada apa sus? Apa suami saya baik-baik saja?”


“Maaf Nona, kesehatan Pasien menurun. Kita akan membawanya ke ruangan ICU lagi,” ucap perawat tersebut.


“Iya sus, tolong suami saya,” ucap Nisa dengan suara bergetar.

__ADS_1


“Kami usahakan yang terbaik Nona.”


Perawat tersebut keluar, untuk memanggil beberapa perawat yang lain untuk membantunya membawa pasien ke ruangan ICU.


Nisa mengekori para petugas tersebut. Namun, yang diperbolehkan masuk hanya Nisa saja.


“Toni. Apa sudah cari tahu? Sakit apa sebenarnya suami cucuku.”


“Sudah Nyonya.”


Toni menghela napasnya sebelum menyampaikan kepada Nenek Dira.


“Tuan Bara mengidap tumor otak stadium akhir.”


“Apa? Kau serius?”


“Iya Nyonya.”


Nenek Dira menghela napasnya, ia duduk di kursi.


“Malangnya nasib cucuku. Bagaimana jika kita bawa saja keluar negeri, untuk pengobatannya. Aku tidak bisa melihat cucuku bersedih lagi, dia sudah kehilangan Orangtuanya sejak kecil,” ucap Nenek Dira.


“Saya akan mencoba membicarakan ini dengan Dokter, Nyonya.”


Erwin yang mendengar percakapan mereka, jadi heran. Apakah wanita paruh baya ini, memang benar Nenek Nisa. Karena melihat wajah wanita tersebut sekilas ada kemiripan.


Namun, Erwin mengurungkan niatnya ingin bertanya. Karena situasinya tidak memungkinkan.


“Nyonya, minum lah dulu obatnya. Jangan mengabaikan kesehatan Nyonya,” ucap Toni memberikan obat kepada Nenek Dira.


Toni menyerahkan botol air minum dan obat. Karena sudah masuk jam untuk meminum obat.


“Terimakasih,” ujar Nenek mengambil obat tersebut dari tangan Toni.


Setalah minum obat, masih terlihat raut wajah yang sangat khawatir.


“Toni, bagaimana keadaan Bara di dalam?”

__ADS_1


“Saya kurang tahu Nyonya.”


“Apakah aku boleh masuk?”


“Biarkan Dokter bekerja Nyonya, kita menunggu disini saja.”


“Ck...! kasihan cucuku,” lirih Nenek Dira.


Tanpa Nenek Dira sadari, jika Erwin memperhatikan mereka sejak tadi. Erwin memperhatikan wajah wanita paruh baya tersebut, merasa tidak asing dan Erwin mencoba mengingatnya dimana mereka pernah bertemu.


Karena rasa penasaran yang cukup tinggi, akhirnya Erwin melangkah menghampiri mereka.


“Maaf, Tuan dan Nyonya. Apakah kalian mengenali Nisa?”


Nenek Dira mengerutkan keningnya.


“Iya, saya Neneknya. Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu nama Nisa?”


Erwin itu duduk di kursi kosong, sebelah Nenek Dira.


“Perkenalkan, saya Erwin. Sahabat Nisa,” ucap Erwin mengulurkan tangannya.


“Kamu temannya Nisa? Jadi kamu tahu tentang penyakit suaminya?”


“Iya. Saya mengenali Dokter yang menangani Bara dan kebetulan rumah sakit ini adalah milik Paman saya.”


“Kebetulan sekali. Bagaimana keadaan Bara, aku akan membawanya ke luar negeri.”


“Nanti biar Dokter yang menjelaskannya Nyonya, karena saya bukan di bidang kesehatan.”


“Maaf sebelumnya jika saya banyak bertanya. Nyonya neneknya Nisa? Setahu saya, Nisa tidak memiliki keluarga.”


“Saya bingung harus mulai dari mana menceritakannya. Saya juga baru mengetahui ini, jika Nisa adalah cucu saya yang saya kira selama ini saya tidak mempunyai cucu. Ternyata anak saya melahirkan putri yang sangat cantik, tanpa saya ketahui,” ucap Nenek dengan raut wajah sedihnya.


Erwin yang melongo, mendengar tutur Nenek Dira tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2