Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 100


__ADS_3

Setelah mendapatkan alamat rumah Erwin, Nenek langsung menuju lokasi rumah yang diberikan oleh Dion.


Sebelumnya, Nenek meminta Dion untuk tidak memberitahu Erwin, kalau Reyhan datang ke rumahnya.


Sesampainya di alamat tersebut, Nenek sangat takjub melihat interior rumah Erwin yang begitu megah.


“Wow ...,” ucap nenek sangat takjub.


“Ini rumah siapa Eyang?” tanya Reyhan melihat rumah yang begitu asing.


Karena sebelumnya, Erwin tidak diperbolehkan oleh Nisa untuk mengajak Reyhan ke rumahnya.


“Ini rumah Papa, sayang.”


Reyhan tampak bingung, mendengar tutur Neneknya. Melihat Reyhan seperti bingung, Nenek Dira langsung mengajak Reyhan untuk keluar dari mobil.


“Ayo turun. Reyhan mau bertemu Papa atau tidak? Kok malah bengong.”


“Iya Eyang, mau.”


Bocah tersebut, dengan semangat keluar dari mobil.


Nenek menggandeng tangan bocah enam tahun tersebut, lalu menekan bel rumah.


Ting, Tong.


Ting, Tong.


Tak lama, terlihat wanita yang setengah baya membuka pintu tersebut.


“Iya, cari siapa?” tanya perempuan tersebut.


“Maaf. Apa ada Erwin di rumah?”


“Ada Nyonya. Apa ini dengan Nyonya Dira?”


Nenek Dira mengerutkan keningnya, Art tersebut mengetahui namanya.


“Iya benar. Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Silahkan masuk dulu Nyonya. Tuan Dion baru saja menghubungi saya, beliau mengatakan jika Nyonya akan berkunjung untuk menemui Tuan Erwin,” sahut wanita tersebut.


“Oh begitu.”


“Eyang, Papa di mana?” tanya Reyhan mengayunkan tangan Eyangnya.


“Sebentar sayang.”


“Langsung ke kamar saja Nyonya. Saya baru saja mengantarkan sarapan untuk Tuan,” ucap Art tersebut.


“Iya Terimakasih.”


Wanita tersebut mengantar Reyhan dan Eyangnya hingga ke depan pintu kamar.


"Pintunya tidak dikunci Nyonya, silahkan masuk saja."


“Terima kasih, sudah memperbolehkan kami masuk.”


Art itu sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Sama-sama Nyonya. Saya permisi,” pamit Art tersebut.


Nyonya Dira mengangguk sambil tersenyum, melihat punggung Art tersebut yang sudah menjauh.


“Eyang. Apa papa ada di dalam?” tanya Reyhan.


“Iya. Biar Eyang yang membuka pintunya.”


Melihat cicitnya yang sedikit tidak sabar.

__ADS_1


Ceklek, suara kenop pintu.


Perlahan Nenek Dira membuka pintu, terlihat Erwin yang fokus dengan layar laptopnya.


Niat awal Erwin ingin menghabiskan waktunya pagi hingga siang ini di tempat tidur, karena sedikit lelah mempersiapkan berkas penting hingga begadang sampai jam 3 dini hari.


Erwin begitu serius membaca dokumen di laptopnya, hingga tak menyadari jika Reyhan sudah berdiri di belakangnya.


“Papa ...,” bisik Reyhan di belakang Erwin.


Erwin terdiam sejenak, ia seperti mengenali suara tersebut. Namun, di tepisnya, bahwa ia berpikir itu hanyalah halusinasinya saja.


“Papa,” panggil Reyhan lagi. Namun kali ini sedikit lebih kencang, membuat Nenek Dira terkekeh melihat tingkah Reyhan yang mengerjai Erwin.


Tiba-tiba saja Erwin di buat merinding, lalu mengusap tekuk lehernya. Erwin memperhatikan layar laptopnya, seperti ada bayangan anak kecil.


Erwin langsung menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya melihat Reyhan berdiri di belakangnya, sambil tersenyum memperlihatkan gigi susunya yang masih bagus.


“Reyhan ...,” lirih Erwin.


Bocah kecil yang sangat ia rindukan, membuatnya selama seminggu terakhir tidak bisa tidur, karena terus memikirkannya.


“Papa,” tutur Reyhan langsung memeluknya.


Membuat Erwin tersadar, jika Reyhan yang ada di hadapannya tersebut adalah nyata.


“Sayang. Anak Papa disini?” Erwin langsung menarik tubuh Reyhan agar duduk di pangkuannya dan mencium pipi gembul Reyhan berulang kali.


“Ih ..., geli pah.”


Reyhan mengusap bekas cium Erwin, hingga membuat Erwin terkekeh.


“Sayang, Papa sangat merindukanmu,” ucap Erwin memeluk tubuh Reyhan dan tak berhenti memberi ciuman di kedua pipi Reyhan secara bergantian.


“Sepertinya Reyhan tidak merindukan Papa.” Berpura-pura sedih.


“Enggak Pa, Reyhan sangat merindukan Papa kok.”


“Muach, muach. Reyhan sangat merindukan Papa,” tutur Reyhan setelah memberi ciuman di kedua pipi pria yang di panggilnya Papa tersebut.


Erwin tersenyum, kembali memeluk erat Reyhan. Tanpa sadar, Erwin menitikkan air matanya. Dengan segera ia menghapusnya agar tidak terlihat oleh Reyhan.


Nenek membiarkan mereka saling melepaskan rindu, ia duduk di sofa empuk Erwin yang berada di kamar. Namun, Erwin belum menyadari jika nenek Dira juga berada dalam kamar tersebut.


“Papa kok gak pulang ke rumah, sih? Setiap hari Reyhan menunggu Papa pulang loh!” protes Reyhan.


Erwin terdiam.


“Mamamu melarang Papa untuk bertemu denganmu, sayang,” batin Erwin menatap bocah tersebut.


“Papa sibuk sayang, pekerjaan Papa banyak,” sahut Erwin lembut.


“Oh iya, Reyhan datang bersama mama ya? Dimana mama sayang?” tanya Erwin tanpa mengalihkan pandangannya dari Reyhan.


Tak dapat di pungkiri jika ia juga begitu merindukan Nisa, walau berulang kali Nisa memintanya menjauh dari kehidupannya. Namun, sedikit pun tidak ada rasa benci di hatinya terhadap Nisa.


Mungkin karena cinta Erwin begitu yang besar terhadap Nisa, hingga tidak mampu untuk membencinya, walaupun tanpa memilikinya.


Reyhan menggelengkan kepalanya.


“Itu. Reyhan datang bersama Eyang,” sahut Reyhan menunjuk Eyangnya yang duduk bersandar di sofa, sambil tersenyum memperhatikan mereka.


Nenek merasa sangat terharu, melihat pertemuan Ayah dan anak yang 1 bulan lebih tidak bertemu, karena keegoisan cucunya yang tidak memperbolehkan Erwin menemui Reyhan.


“Nenek. Nenek juga disini?” tanya Erwin.


Ia beranjak dari duduknya, sambil menggendong Reyhan. Ia melangkah mendekati dimana nenek Dira duduk.


“Iya. Nenek yang membawa Reyhan datang kemari.”

__ADS_1


“Jadi ..., kalian datang kemari tanpa sepengetahuan Nisa.”


Erwin duduk di depan nenek, hanya meja kecil yang jadi penghalang mereka.


Nenek Dira mengangguk.


“Bagaimana jika Nisa mengetahuinya? Aku tidak mau jika Nenek jadi ...”


“Kamu tenang saja,” sela Nenek Dira.


“Sudah seminggu Reyhan sakit, dia selalu mengigau memanggil mu. Aku tidak tega dan aku memutuskan untuk menemui mu tanpa sepengetahuan Nisa.”


“loh. Anak Papa sakit? Dimana yang sakit sayang?” tanya Erwin dengan raut wajah khawatir.


“Sudah sembuh Pa,” sahut Reyhan kembali masuk ke dalam dekapan Erwin.


“Apa sudah di bawa ke Dokter Nek?”


“Sudah. Hanya demam biasa.”


“Syukurlah.” Bernapas lega.


“Pantas saja. Aku tidak menemukan Reyhan di sekolah, selama seminggu. Aku pikir, Reyhan pindah sekolah.”


Nenek tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


“Nak Erwin datang ke tempat Reyhan sekolah?”


“Iya Nek. Walau hanya menatapnya dari kejauhan. Itu sudah cukup untuk pengobat rasa rinduku.”


“Maafkan keegoisan Cucuku. Nenek yakin, suatu saat hatinya yang dingin itu, akan meleleh.”


“Iya Nek.”


“Papa,” panggil Reyhan yang masih bergelayut manja dengan Erwin.


“Iya, sayang. Apa Reyhan butuh sesuatu?” tanya Erwin menatap Reyhan.


“Pa, Reyhan mau ke mall. Mau bermain sama papa, boleh gak Pa?”


Erwin melirik jam dinding, menunjukkan pukul 10 pagi.


“Masih ada waktu 2 jam lagi,” batin Erwin.


Erwin menatap Nenek untuk meminta persetujuan, Nenek yang mengerti langsung mengangguk pelan.


“Baiklah Tuan muda. Papa akan mengabulkan permintaanmu,” tutur Erwin.


Membuat Reyhan melompat kegirangan.


“Hore ..., ye, ye.”


“Tapi, papa ganti pakaian dulu.”


“Iya pah.”


Erwin mengusap rambut Reyhan, lalu melangkah menuju kamar gantinya.


Sambil menunggu Erwin, Nenek Dira berkeliling di sekitar kamar yang sangat luas tersebut. Karena untuk pertama kalinya mereka ke rumah Erwin, ada beberapa piala penghargaan yang tersimpan rapi di lemari berwarna keemasan tersebut.


Nenek Dira tertarik dengan pintu kecil yang berada di kamar Erwin, membuatnya penasaran apa isi dalam kamar tersebut.


Nenek Dira melangkah, ke arah kamar tersebut dan memutar kenop pintu yang kebetulan tidak terkunci.


Betapa terkejutnya Nenek Dira melihat isi yang ada di dalam kamar kecil tersebut. Mendengar langkah Erwin, dengan cepat Nenek menutup kembali pintu tersebut.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2