
Sebuah tangan kekar melingkar di perut nya dan memeluknya dari arah belakang.
Betapa terkejutnya Nisa, melihat sebuah tangan melingkar di perut nya. Ia ingin melepaskan nya namun, suara yang begitu tajam menusuk di telinga nya.
“Biarkan seperti ini! jangan mencoba untuk melepaskan nya!” Nisa menelan ludah kasar, hati nya saat ini campur aduk.
“Kenapa dengan nya?” batin Nisa.
“Maaf!” keluar dari mulut Bara.
Nisa mengerutkan dahinya, bingung dengan pernyataan maaf dari suaminya.
“Apa kamu mau memaafkan ku?”
Nisa mengangguk pelan, tanpa terasa bulir air mata membasahi pipi mulusnya. Ini pertama kalinya suaminya berkata lembut kepada nya.
“Maaf, atas perlakuan kasarku padamu,” ucap nya membalikkan tubuh istri nya menghadapnya.
Nisa membulatkan mata nya, terlihat wajah sang suami penuh dengan luka lebam dan sedikit membiru di sudut bibir Bara.
“Ini...!” tanya Nisa bingung sambil meraba luka di wajah suaminya.
“Ini tidak apa-apa.” Bara membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamar dan Nisa pun mengekori sang suami.
“Siapkan aku makan, dan bawa kemari! Aku ingin makan di kamar,” perintah Bara. Nisa mengangguk cepat dan berlalu keluar kamar menuju dapur.
Di perjalanan menuju dapur, Nisa masih bingung dengan sikap sang suami yang tiba-tiba berubah.
“Eh, Nisa! Ada yang bisa Bi Minah bantu?”
__ADS_1
“Hah, eh tidak Bi, Nisa ingin mengambil makan untuk Bara.”
“Oh, Tuan Bara sudah pulang. Mari saya bantu.”
“Tidak perlu Bi, Bi Minah istirahat saja! Nisa bisa ambil sendiri,” tolak lembut Nisa.
Ia mengambil makanan dan meletakkan nya di nampan untuk di bawa ke kamar. Nisa masih heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah, hingga dirinya tiba di pintu kamar.
Ceklek.., suara pintu kamar terbuka. Terlihat Bara sedang memejamkan matanya dengan meletakkan kedua tangan di bawah kepalanya untuk bantalan.
Terdengar suara langkah kaki masuk, Bara sudah menebak siapa yang datang.
Dengan senyum nya Bara langsung duduk dan berjalan menuju sofa.
Bahkan Nisa baru pertama kali melihat senyuman dari wajah suami nya sejak pertama kali bertemu.
“Kenapa bengong?” Tanya Bara heran.
“Apa kamu sudah makan?”
“Sudah,” sahut Nisa. Mengambil piring dari nampan.
Bara hanya mengangguk mengerti dan mendekatkan piringnya ke hadapannya. Nisa hanya berdiri melihat suaminya yang begitu lahap makan. Bara menyadari sesuatu ternyata Nisa sedang melihat nya sejak tadi.
“Kenapa kamu melihat ku seperti itu?”
“Hah..?” Nisa gelagapan ketahuan oleh suaminya dan hendak berbalik badan.
“Cepat ganti baju mu sekarang! Setelah selesai aku makan, kita akan pergi,” perintah Bara tanpa melihat nya.
__ADS_1
“Kemana?”
“Bertemu ayah!”
“Ayah..? memang ayah dimana? Apa Ayah baik-baik saja?” menghujani Bara dengan pertanyaan.
“Ayah sedang di rawat di rumah sakit sekarang, cepat bersiap lah! Berapa banyak waktu ku yang terbuang untuk menjawab pertanyaan mu itu!!” Bara menatap nya dengan tajam.
“Baiklah.., maaf!” lirih Nisa.
“Tidak perlu minta maaf, cepat bersiaplah,” ujar lembut Bara.
Nisa mengangguk dan pergi menuju lemari, masih dengan pikiran bertanya kenapa dengan ayah mertua nya.
Setelah selesai berganti pakaian, Nisa memberi sedikit polesan di wajah nya. Tanpa ia sadari Bara sedang menatap nya sedari tadi.
“Apa sudah selesai?” tanya Bara yang masih duduk di sofa setelah menyelesaikan makannya.
“Iya,” sahut Nisa menghampirinya.
“Ayo kita berangkat,” ajak Bara.
Bara beranjak dari duduknya hendak keluar kamar dan di ikuti oleh istrinya.
Sesampai nya di dalam mobil, Nisa begitu kasihan melihat sudut bibir suaminya yang sedikit membiru.
“Luka mu apa tidak di bersihkan dulu, agar tidak infeksi,” ujar Nisa melihat lebam di wajah suaminya.
“Tak perlu memikirkan hal yang tidak penting,” sahut Bara dengan tajam. Hingga membuat Nisa menelan ludah kasar, lalu membenarkan duduk di kursi dengan menatap ke arah depan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada percakapan antara suami istri tersebut hanya suara deru mesin mobil yang memecahkan keheningan.
Bersambung...