Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 109


__ADS_3

Hari sudah berganti dengan hari, dimana yang hari yang sudah ditunggu kini sudah tiba di hari yang bahagia untuk Dion dan Nadia.


Pengucapan ijab kabul dengan lancar pagi itu, di lanjut siang hari dengan resepsi pernikahan di salah satu hotel bintang ternama.


Dengan dipandu musik dan artis penyanyi papan atas. Senyum mengambang dari wajah kedua mempelai, menyambut tangan beberapa tamu yang memberi mereka selamat.


Erwin yang tampak gelisah, menunggu kedatangan seseorang yang belum menampakkan batang hidungnya. Berulang kali ia menengok ke arah pintu masuk, akan tetapi yang datang bukanlah orang yang ia tunggu. Melainkan para tamu rekan bisnis Erwin dan juga pamannya yang datang secara bergantian.


“Pak Erwin...” ucap beberapa rekan bisnisnya.


“Wah, saya hampir tidak mengenali Pak Erwin. Hari ini anda sangat tampan,” pujian itu di lontarkan oleh rekan bisnisnya.


Erwin hanya tersenyum menanggapinya.


“Saya tunggu undangan dari pak Erwin. Apa perlu bantuan saya untuk mengenalkan gadis cantik?”


“Hahaha, untuk saat ini saya belum kepikiran untuk menikah,” sahut Erwin santai.


“Apa anda menunggu seseorang? Percayalah pak Erwin, menikah itu sangat nikmat. Apalagi dimalam pertama,” bisiknya.


Keduanya tertawa bersama.


“Baiklah, sepertinya gurau kita cukup sampai disini. Aku harus memberi kedua pengantin selamat dulu,” pamitnya.


“Silahkan pak,” sahut Erwin.


Erwin kembali melihat ke arah yang sama. Namun, hanya orang lain terus menerus yang datang.


Namun, ada salah satu tamu yang menarik perhatiannya. Seperti tidak asing, yang baru saja datang.


Ia mendekati orang tersebut, untuk memastikannya.


“Ayah...” panggil Erwin.


Pria tersebut menoleh, memperlihatkan senyumnya.


Erwin langsung memeluknya, karena sudah beberapa bulan tidak bertemu.


“Ayah disini? Kenapa tidak memberitahuku? Jika ayah ke Jakarta. Dimana Mami dan adikku? Apa mereka tidak ikut bersama Ayah?” Erwin menghujani pertanyaan kepada ayahnya.


“Wow... satu persatu dong tanyanya? Ayah jadi bingung harus jawab yang mana dulu,” protesnya.


“Yang ikut bersama ayah hanya mamimu. Adikmu masih sibuk dengan kuliahnya,” ucapnya menggandeng putranya untuk duduk di kursi tamu.


“Lalu dimana mami? Kenapa ayah tidak memberitahuku?”


“Ibumu masih ke toilet. Ayah hanya ingin memberi kejutan untuk kedua anak ayah,” tuturnya.


Ayah Erwin sudah menganggap Dion juga sebagai putranya.


“Ayah mau menemui Pamanmu dan juga kedua pengantin kita,” ucapnya.


“Iya Ayah. Pergilah, mereka pasti sangat senang dengan kehadiran Ayah.”


Ia menepuk bahu putra pelan, lalu meninggalkannya.


Terlihat jelas, Pamannya begitu senang melihat kedatangan ayahnya. Tak terkecuali Dion, yang langsung memeluknya Ayahnya persis apa yang Erwin lakukan ketika melihat Ayahnya baru datang.


“Kemana mereka? Apa mereka lupa?” Gumam Erwin berulang kali melihat pintu masuk.


Ia menghela napas kasar. Merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


“Papa...” panggil Reyhan.


Yang ia tunggu sejak tadi sudah tiba, Erwin langsung menoleh ke arah suara.


Terlihat Reyhan memakai pakaian yang senada dengannya. Karena sebelumnya ia memesan pakaian untuk dirinya dan Reyhan. Reyhan berlari kecil menghampirinya.

__ADS_1


“Papa,” panggil Reyhan lagi.


“Sayang, kenapa terlambat?” tanya Erwin langsung menggendong Reyhan.


“Macet Pa,” sahutnya.


“Dimana Eyang putri dan Mama?”


“Itu...” tunjuk Reyhan kepada Nisa yang baru masuk.


Erwin terpana melihat kecantikan Nisa yang berbeda dari biasanya. Memakai gaun berwarna hijau Tosca, dengan rambut yang di gerai dengan model Curly.


Untuk pertama kalinya, Erwin melihat Nisa memakai gaun. Karena sebelumnya Nisa selalu memakai celana, kemana pun ia pergi.


“Awas lalat masuk,” goda Nenek Dira melihat Erwin mulut Erwin yang sedikit terbuka.


Erwin langsung tersadar.


“Hah... nenek disini?”


“Sejak tadi Nenek disini. Bagaimana, cantik bukan? Dengan bersusah payah Nenek membujuknya, untuk memakai pakaian itu,” bisik Nenek.


“Dia sungguh keras kepala,” protes Nenek.


Erwin terkekeh, melihat nenek cemberut.


“Silahkan duduk Nek,” ucap Erwin menarik kursi.


Nisa yang baru datang langsung menghampiri mereka, karena sebelumnya ia ke toilet terlebih dahulu.


“Maaf aku terlambat,” ucap Nisa merasa bersalah.


“Iya, gak apa-apa.”


Erwin menarik kursi untuk Nisa duduk.


Erwin menoleh, melihat wanita yang selama ini ia rindukan.


“Mami,” tutur Erwin langsung memeluknya.


Setelah puas berpelukan, mereka saling melepaskan pelukan mereka.


“Mami sejak tadi berdiri disini. Tega sekali kau mengabaikan Mami!” protes maminya.


“Maaf mi. Mami apa kabar? Sungguh Erwin sangat merindukan Mami.”


“Baik sayang. Anak mami sekarang tambah ganteng dan sedikit berisi,” pujinya.


Netranya teralihkan, ketika melihat Nisa yang duduk di kursi tepat di samping Erwin berdiri.


“Bukankah wanita ini yang menolongku tadi saat di toilet?” gumamnya dalam hati.


“Ada apa mi?” tanya Erwin.


Namun, Nisa tidak melihatnya, karena masih sibuk menyuapi Reyhan yang memakan kue yang tersedia di meja.


“Tidak sayang.”


Tak lama, sang Ayah bergabung dengan mereka berdua, Erwin mengajak mereka untuk duduk di kursi. Mereka berbincang hangat, karena cukup lama Erwin tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.


“Papa, Reyhan pengen itu deh,” bisik Reyhan yang tiba-tiba datang, menunjuk kue pengantin.


Membuat kedua orang tuanya menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Nanti Erwin jelasin,” ucap Erwin pelan.


Ia sangat paham apa yang di pikirkan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Erwin mengajak kedua orang tuanya untuk bergabung dengan Nenek Dira dan Nisa.


Nenek memperkenalkan dirinya, begitupun dengan Nisa.


“Bukankah kau wanita yang ada di toilet tadi?” tanya maminya Erwin kepada Nisa.


Nisa terdiam sejenak, lalu mengangguk tersenyum.


“Kita bertemu disini lagi Nyonya.”


“Dia wanita yang sangat cantik!” bisik Ayahnya di telinga Erwin.


Mereka memperhatikan Nisa dan Nenek Dira yang sedang berbincang dengan Maminya.


Erwin hanya tersenyum mendengar pujian dari Ayahnya.


“Terus, anak itu siapa? Jangan bilang jika bocah tersebut anaknya.”


Erwin kembali mengangguk.


“Hah! Serius kamu?” bisik Ayahnya lagi.


“Iya, ayah. Dua rius malahan.”


“Apa ibunya kekasihmu?” tanyanya lagi.


“Masih dalam pendekatan. Doakan Erwin agar bisa mendapatkannya,” bisik Erwin di telinga Ayahnya.


Tanpa ragu Ayahnya menjawab, dengan jari jempolnya.


“Selamat berusaha.”


Membuat Erwin terkekeh.


Ayahnya tidak pernah memilih wanita yang akan hidup dengan anaknya kelak. Yang ia inginkan saat ini adalah Erwin menikah, karena banyak rekan kerjanya sudah menggendong cucu dan ia pun merasa sangat iri.


Perbincangan hangat mereka, teralihkan dengan suara MC. Bahwa pengantin akan melemparkan bunga, dengan hitung mundur, MC mulai menghitungnya.


Tanpa di duga, setelah hitungan ke satu, Dion malah turun menghampiri Erwin yang masih duduk di tempat sebelumnya.


“Selamat untukmu. Kau yang mendapatkan bunganya,” ucap Dion terkekeh.


Beberapa tamu undangan juga ikut tertawa.


Membuat Erwin mengumpat dalam hati.


“Sialan!” umpatnya.


Bahkan orang tuanya sendiri juga ikut tertawa.


Dion kembali menemui istrinya.


MC pun meminta para tamu untuk bertepuk tangan. Suara tepuk tangan sangat riuh di tempat resepsi tersebut.


“Pa, ini bunga untuk Mama aja. Mama kan perempuan, kalau cowok itu mainannya mobil-mobilan!” bisik Reyhan di telinga Erwin.


Ia langsung mengambil bunga tersebut dari tangan Erwin dan memberikannya kepada Mamanya.


Erwin sempat bingung dengan tingkah Reyhan, lalu tersenyum ketika sudah mengerti yang di maksud oleh Reyhan.


“Ini untuk Mama aja,” ucap Reyhan dengan polosnya meletakkannya di tangan Nisa.


“Hah?...”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2