Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 61


__ADS_3

Plak...! suara pukulan yang cukup keras dibahunya dari arah belakang, membuatnya terkejut merasakan sedikit sakit dibahunya.


“Sialan! Kenapa kau memukulku?” kesal Dion melihat Erwin yang terkekeh.


“Air liurmu tolong dikondisikan,” ejek Erwin.


Refleks Dion langsung menyapu dengan tangannya, namun ia baru menyadari jika dirinya dikerjai oleh sahabatnya.


“Shit...!” umpat Dion.


Erwin terkekeh melihat wajah kesal Dion, menggeser paksa tubuh sahabatnya agar tidak menghalangi jalannya.


“Minggir kau! Tubuhmu menghalangi jalan!” ucap Erwin.


“Kau ini sungguh menyebalkan!” gerutu Dion.


Tanpa mereka sadari, akibat perdebatan kecil mereka membuat gadis yang masih diambang pintu tertawa kecil melihat tingkah mereka.


“Kakak,” panggil gadis tersebut.


Membuat Erwin tersenyum kepadanya.


“Nadia. Adik manisku,” ucap Erwin memeluknya sejenak adik sepupunya dan mengajaknya masuk.


“Bagaimana kabar Paman dan Bibi?” tanya Erwin mengajak adik sepupunya masuk dan duduk di sofa.


“Papa dan Mama baik kak. Papa dan Mama titip salam untuk Kaka,” sahut Nadia.


“kata Mama kakak harus berkunjung ke rumah. Mama dan Papa juga sangat merindukan Kaka,” tambah Nadia.


“Iya, kakak usahakan datang ke rumah. Kau tambah cantik sekarang ya,” puji Erwin melihat Nadia yang semakin besar semakin cantik.


“Sudah dari orok memang cantik kak,” celetuk Nadia.


“Oh iya ya. Bagaimana dengan kuliahmu?”


“Lancar kak, alhamdullilah.”


Dion yang ikut duduk di samping Erwin, hanya menjadi pendengar setia. Namun, matanya sesekali melirik Nadia.


“Apa kakak sudah mempunyai kekasih? Papa selalu bertanya ini kepadaku,” ucap Nadia.


Uhuk..,uhuk..! pertanyaan Nadia membuat Erwin tersedak.

__ADS_1


“Batuk pak haji?” tanya Dion dengan nada mengejek.


“Diam kau!” celetuk Erwin kepada sahabatnya.


Membuat Dion terkekeh.


“Kalian tidak pernah berubah ya kak. Masih sama seperti dulu, seperti tom dan Jerry,” ucap Nadia tertawa kecil, merasa sangat lucu melihat kedua pria yang ada di hadapannya.


“Kau juga, tambah cantik.”


Pujian tersebut tanpa sadar di lontarkan oleh Dion, membuat wajah Nadia bersemu merah. Namun, ia berusaha menyembunyikannya.


“Jangan dengarkan buaya jomblo,” gumam Erwin, namun masih terdengar oleh Dion.


“Dasar tidak waras!” gerutu Dion dalam hati.


Erwin melihat jam yang melingkar ditangannya.


“Kakak tinggal sebentar ke kamar. Kakak mau bersiap, karena sebentar lagi kakak ada meeting,” pamit Erwin.


“Aku juga kak, sebentar lagi mau masuk ke kampus,” ucap Nadia.


“Oh ya?”


“Aku hanya mampir sebentar kak,” ucap Nadia tersenyum simpul.


“Aku mau,” sela Dion dengan lantang.


Membuat Erwin dan Nadia menoleh ke arahnya.


“Mau apa?” tanya Erwin.


“Maksudnya, aku saja yang mengantar Nadia. Kau kan sebentar lagi meeting,” ucap Dion dengan lembut, tidak seperti sebelumnya.


“Hahaha.., tak perlu kak! Nadia membawa mobil sendiri,” tolak Nadia.


“Oh,” sahut singkat Dion ada raut kecewa di wajahnya.


Dion terkulai lemas mendengar tolakan Nadia, ia langsung bersandar di sofa. Erwin yang melihatnya terkekeh.


Dion sudah sejak lama menyukai Nadia, Erwin pun tahu akan hal itu.


Ia pernah mengutarakan perasaannya kepada Nadia, namun ditolak oleh Nadia alasan masih fokus dengan kuliah s2 nya.

__ADS_1


“Aku pamit dulu kak,” pamit Nadia.


Erwin mengangguk, dan mengantar adik sepupunya ke depan pintu.


“Hati-hati bawa mobil, jangan terlalu ngebut,” ucap Erwin memperingati adik sepupunya.


“Iya kak,” sahut Nadia.


Erwin melambaikan tangannya, melihat kepergian adik sepupunya. Lalu kembali ke ruang tamu, melihat Dion masih dengan posisi yang sama.


“Kau tidak ingin bersiap?” tanya Erwin.


“Cepatlah bersiap, kau ini malas sekali! Apa kau mau gajihmu ku potong,” ucap Erwin terkekeh.


“Kau ini banyak bicara!” celetuk Dion beranjak dari duduknya.


Mereka bersiap untuk pergi ke hotel, dimana tempat yang sudah disediakan sebelumnya.


“Apa semua berkasnya sudah kau bawa?” tanya Erwin saat di lift.


“Sudah beres,” sahutnya singkat.


“Yakin tidak ada yang tertinggal?” tanya Erwin lagi.


“Hm,” deham Dion.


“Kenapa wajahmu di tekuk begitu? Tunjukan pesonamu,” goda Erwin.


“Ck...! Banyak tanya kau ini!” celetuk Dion yang masih merasa kesal dengan sahabatnya.


Erwin terkekeh, hari ini ia merasa puas sudah mengerjai sahabatnya. Dengan begitu, pikirannya sedikit teralihkan yang sebelumnya hanya ada nama Nisa diisi kepalanya.


Dion mengendarai mobil dengan cukup sedang, karena apartemen dan hotel tempatnya pertemuan tidak lah jauh.


Saat hendak masuk ke area hotel, mata Dion langsung menangkap wanita yang ia kenal sedang berada di hotel yang sama.


“Apa yang kau lihat? Apa kau tuli, mobil di belakang sejak tadi membunyikan klakson!” ucap Erwin.


“Hah...? maaf,” sahut Dion kembali masuk menuju ke tempat parkir.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih atas dukungan kalian semua🙏🙏


__ADS_2