
Di kamar hotel.
Pengantin baru, baru saja menyelesaikan aktivitas mereka, aktivitas yang harusnya mereka lakukan semalam. namun, tertunda karena membantu Erwin untuk mencari keberadaan Nisa.
“Apa sakit?” tanya Dion yang melihat wajah sang istri menahan sakit.
“Sedikit,” sahut sang istri dengan senyum di paksanya.
“Maaf ya!”
Dion merasa sangat bersalah.
“Tidak apa-apa kak. Ini adalah kewajiban seorang istri,” sahutnya.
Dion tersenyum mendengar jawaban sang istri.
“Apa kamu lapar?” tanya Dion mendengar perut istrinya berbunyi.
“Hehehe... iya,” sahutnya dengan malu-malu.
“Kenapa tidak bilang sejak tadi ? tunggulah sebentar, aku akan memesan makan untuk kita,” ucap Dion.
Istrinya mengangguk.
Dion mengambil pakaian mereka yang tergeletak di sembarang tempat.
Nadia yang mengambil pakaiannya, yang di letakkan suaminya di atas tempat tidur.
Lalu perlahan melangkah menuju kamar mandi, karena gerah akibat aktivitas yang mereka lakukan.
Setelah memesan makanan untuk mereka, Dion melihat sang istri tidak ada di tempat tidur, ia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
“Oh... dia mandi. Aku khawatir jika ia tidak berjalan tadi,” gumam Dion bernapas lega.
Ia tersenyum, mengingat pergumulan panas mereka. Karena ini yang pertama bagi mereka, belum ada pengalaman. Setelah merasa ada kenyamanan, mereka melakukannya hingga berulang kali di waktu yang sama.
Dion duduk di sofa, mengambil ponselnya. Lalu menekan tombolnya, karena sebelumnya ponsel di nonaktifkan olehnya, agar tidak ada yang mengganggu lagi.
Dan benar saja, terlihat panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali dari bos sekaligus sahabatnya tersebut.
“Astaga! Dia benar-benar, tidak membiarkan diriku hidup tenang!” gerutu Dion.
“Bahkan kemarin, dia sendiri yang memberiku satu Minggu untuk cuti. Kenapa selalu menghubungiku terus!” kesal Dion.
“Ini efek kelamaan jomblo! Jadi... ya begini!” tambah Dion.
Walaupun kesal, ia tetap menghubungi Kembali nomor Erwin.
Tut...! Tut...!
“Halo. Ada apa?” ketus Dion saat mendengar suara Erwin dari dalam ponsel tersebut.
“Kau yang menghubungiku, tapi kau yang bertanya?” kesal Erwin.
“Dasar tidak waras. Kau yang berulang kali menghubungi, siang ini! Kau ini aneh sekali,” ucap Dion kalah kesalnya.
Erwin terdiam sejenak.
“Kenapa diam?” tanya Dion.
“Oh iya... aku lupa jika sudah menghubungimu. Aku lupa jika kau sedang bermesraan dengan istrimu, hahaha... maaf ya tuan Dion,” ucap Erwin terkekeh.
“Dasar aneh!” gerutu Dion.
“Sebenarnya, aku ingin menghubungi, karena aku ingin memberikanmu bonus. Tapi, tidak jadi! Kau menghubungi marah-marah begini.”
“Kapan aku marah? Aku tidak marah, hanya kesal saja,” ucap Dion.
“Apa bedanya?!” geram Erwin.
__ADS_1
“Tidak. Itu sangat berbeda, cepat berikan aku bonus sekarang. Aku ingin memanjakan istriku, dengan mengajak nya jalan-jalan,” tutur Dion.
“Kau periksa lah, aku sudah mengirimnya ke nomor rekening mu.”
“Wah, terima kasih bos ku yang...”
“Yang apa?” sela Erwin mendengar Dion mengantungkan ucapannya.
“Yang tampan,” sahut Dion.
“Hm...! ada hal penting yang ingin ku bicarakan, sebenarnya. Tapi... aku juga tidak ingin mengganggu mu,” ucap Erwin dengan nada serius.
“Ada apa?” tanya Dion juga tak kalah serius.
“Nanti saja. Sekarang nikmati bulan madu mu. Ingat!! Jangan lebih dari satu minggu!”
“Iya, iya. Cerewet sekali!” kesal Dion.
“Bagus. Baiklah, nikmati harimu yang indah,” pamit Erwin hendak menutup panggilannya.
“Eh tunggu!”
“Ada apa lagi?” tanya Erwin.
“Aku hanya ingin memberitahumu...” menggantungkan ucapannya.
“Beritahu apa?”
“Jika menikah itu nikmat, segera lah kau menikah!” ejek Dion terkekeh.
“Huft... uang bonusmu tidak jadi ku transfer!” ketus Erwin langsung mengakhiri panggilannya.
“Eh... tunggu. Sialan! Dimatikan,” umat Dion.
“Padahal aku hanya bercanda,” tambahnya lagi.
Dion segara mengecek saldo rekeningnya, melihat saldo tersebut bertambah.
Bernapas lega, ia tahu jika Erwin hanya bergurau.
“Bisa gawat jika ia beneran menarik kembali bonusnya!”
“Gawat apa kak?” tanya Nadia yang keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya.
“Sebentar sayang, aku sedang mengirim pesan kepada Erwin,” sahut Dion.
“Oh...” sahutnya singkat.
Ia tidak melihat istrinya, karena fokus dengan layar ponselnya untuk mengirim pesan kepada bosnya tersebut.
“Sudah,” gumam Dion setelah berhasil mengirim pesan kepada Erwin.
Ia meletakkan kembali ponselnya di meja.
Ia menelan salivanya, melihat istrinya. Terlihat punggung yang sangat putih dan mulus alami, apalagi saat ini istrinya hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya.
Dion melangkah mendekati istrinya, yang seperti sedang mencari sesuatu.
Bruk...! Dion memeluknya dari belakang.
Sesekali mencium bahu mulus istrinya.
“Sayang, cari apa?”
“Geli kak. Jangan seperti ini.” Mencoba melepaskan dekapan Dion.
“Sebentar saja. Kau sangat wangi sekali, Kamu pakai apa?” Kembali mencium bahu istrinya.
“Tentu saja pakai sabun,” sahutnya.
__ADS_1
“Sudah. Lepaskan dulu, aku sangat dingin. Aku ingin memakai pakaianku dulu,” ucap istrinya mencoba melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
“Baiklah, aku akan lepaskan. Tapi, beri aku hadiah dulu.”
“Hadiah? Aku akan membelikan kakak hadiah, tapi nanti.”
“Aku mau sekarang!” bisik Dion.
“Mana bisa sekarang. Aku saja belum mengenakan pakaian! Apa kakak mau, semua orang melihatku?” protes istrinya.
“Bukan itu yang aku maksud,” bisiknya lagi.
“Terus?” tanyanya.
“Aku hanya meminta ciuman di pipi. Itu saja,” ucap Dion.
“Oh... hanya itu? Aku kira kakak meminta hadiah yang aku belikan,” ucapnya polos.
“Astaga! Dia polos sekali,” gumam Dion dalam hati.
Nadia membalikkan badannya menghadap sang suami, lalu memberi ciuman di beberapa bagian wajah suaminya tersebut.
Cup ! cup ! cup !
“Sudah,” sahutnya sambil tersenyum simpul.
Cup ! Dion membalas ciuman dengan singkat di bibir istrinya.
Tok ! Tok ! Tok ! terdengar ketukan.
“Aku tidak akan membiarkan mu duduk tenang, setelah kita makan,” bisik Dion di telinga istrinya.
Membuat wajah sang istri merah merona, seperti kepiting rebus karena malu.
“Cepat buka pintu!”
Mendorong tubuh Dion pelan, agar segera membuka pintu. Dion tersenyum, melihat istrinya yang masih malu-malu.
Ceklek !
Dion membuka pintu tersebut, terlihat seorang karyawan hotel mengantar beberapa makanan yang ia pesan.
Dion mengambil makanan tersebut, karena ia tidak memperbolehkan mereka masuk. Karena sang istri masih belum mengenakan pakaiannya, tidak lupa ia juga memberikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu kepada karyawan yang mengantarnya makanan.
“Ayo kita sarapan dulu,” ajak Dion meletakkan piring yang berisi makanan di meja.
“Setelah itu kita berisap-siap,” tambahnya lagi.
“Bersiap?” tanya Nadia yang sudah mengenakan pakaian lengkap.
“Iya. Sore ini kita berangkat ke Bali. Tapi, setelah mengantar ayah dan ibu ke bandara,” ucap Dion.
“Kakak serius?” tanyanya untuk memastikan.
“Iya. Dua rius!” sahutnya.
Membuat Nadia refleks, langsung duduk dipangkuan suaminya dan memeluknya, karena sangat bahagia.
Sebelumnya, Dion tidak membicarakan ini. Karena ingin memberikan kejutan kepada istrinya.
“Santai sayang. Cepat makanlah, nanti keburu dingin. Atau dirimu yang ingin ku makan?”
Nadia segera melepaskan pelukannya dan duduk langsung duduk di samping Dion.
“Ayo kita makan!” ajaknya tanpa melihat suaminya.
Dion tersenyum melihat wajah sang istri, yang begitu lucu baginya.
.
__ADS_1
.
.