Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 139


__ADS_3

“Nama kamu siapa?” tanya Miranda lembut.


Sebelumnya ia melihat anak kecil yang baru saja menuruni tangga dan hendak melangkah ke dapur.


Miranda sudah menduga jika, bocah laki-laki tersebut adalah putranya Nisa.


Dengan cepat, Miranda menyapanya dan mengajaknya berbicara, bahkan ia memberikan mainan kepada Reyhan yang sempat ia beli sebelum ke rumah Nisa.


“Reyhan Tante,” sahut Reyhan.


“Makasih Tante mainannya.”


“Sama-sama. Sini duduk sama Tante,” ajak Miranda agar Reyhan duduk di sampingnya.


“Oh, jadi nama kamu Reyhan?”


Reyhan mengangguk.


“Wajahmu sangat mirip dengan Bara,” ujar Miranda.


“Papa Bara?” tanya Reyhan melihat Miranda.


Miranda mengangguk.


“Apa Reyhan belum pernah bertemu dengan Papa Bara?”


Reyhan menggeleng.


“Papa Bara adalah ayah kandung Reyhan. Tante bisa mengajakmu bertemu dengannya,” tutur Miranda.


“Papa sudah di kubur dalam tanah, Tante. Jadi, Reyhan tidak bisa bertemu dengan Papa,” sahut polos Reyhan.


“Siapa yang bilang Papa sudah di kubur?”


“Mama,” sahutnya lagi.


“Mama Reyhan berbohong,” bisik Miranda di telinga Reyhan.


“Enggak, Mama baik!” ketus Reyhan.


“Kalau Reyhan tidak percaya, Tante akan menyuruh Papa Bara datang kesini. Reyhan bisa bertemu dengannya,” ujar Miranda lagi berusaha meyakinkan Reyhan.


“Tante berbohong!”


“Sebentar lagi Papa Bara akan datang. Tante gak berbohong kok!”


“Apa Reyhan tahu? Kalau Papa Erwin itu sebenarnya bukan Papa Reyhan!” tambah Miranda lagi.


Reyhan menggeleng kepalanya.


Tanpa Miranda sadari, jika Nisa melihat mereka dan mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Jangan menghasut putra ku dan berbicara yang tidak-tidak!” geram Nisa menatap tajam Miranda.


“Aku bicara fakta. Rupanya kau berbohong kepada anakmu sendiri dan mengatakan jika Reyhan putranya Erwin. Cih... apa pantas kau di panggil ibu, atas semua kebohongan mu itu!”


“Kau siapa? Berani sekali mencampuri urusan rumah tanggaku!”


“Aku masih kekasih Erwin, bahkan hingga saat ini kamu masih belum putus,” ucap Miranda dengan lantang.


“Ada apa ini?” tanya nenek yang baru saja keluar dari kamar karena mendengar keributan.


“Wanita gila ini datang tidak di undang dan mengatakan yang tidak-tidak kepada Reyhan, Nek,” sahut Nisa.


“Kau siapa?” tanya nenek menuruni tangga.


“Anda tidak perlu tahu saya siapa? Kalau ingin tahu, Kalian bisa langsung tanya kepada Erwin!” ketus Miranda.


“Eyang Putri. Kata Tante itu, Papa Bara masih ada. Reyhan mau bertemu, Eyang,” ucap polos Reyhan menghampiri neneknya.


“Reyhan, Apa Reyhan masih ingat pesan Eyang?”


Reyhan diam sejenak, lalu mengangguk.


“Apa?” tanya nenek Dira.


“Jangan percaya sama orang yang baru kita kenal,” lirih Reyhan.


“Nah pintar cicit Eyang,” ujar nenek Dira menatap Miranda tersenyum licik.


“Mala!” panggil Nisa.


Art tersebut berlari kecil mendengar teriakan Nisa.


“Iya, Nona.”


“Berikan Reyhan makan siang dan bawa dia ke kamar,” ucap Nisa.


Art tersebut mengangguk.


“Kau dengar sendiri, bukan. Jika putraku di ajarkan agar tidak percaya dengan orang asing!” ketus Nisa menatap Miranda yang juga menatapnya.

__ADS_1


“Kalau aku bisa membuktikan, jika Bara masih hidup. Bagaimana?”


“Ck... buktikan saja. Kau pikir aku tidak tahu kau siapa? Kau adalah mantan kekasih mendiang mas Bara, bukan? Semua uangnya kau kuras habis, hingga dia jatuh miskin!”


Nisa menyeringai jahat.


“Apa tujuanmu datang ke rumah ini?!”


Miranda sedikit terkejut, ia berusaha menyembunyikannya.


“Bagus kalau kau tahu, jika aku adalah mantan Bara. Oh ya... asal kau tahu, aku tidak pernah meminta uang kepada Bara! Dia sendiri yang memberikannya kepadaku.”


“Jadi yang mana yang benar? Kau mantannya Bara atau kekasihnya Erwin?”


Nenek hanya diam melihat perdebatan mereka.


“Nisa, cukup. Jangan lupa, disini masih ada Reyhan!” ujar nenek mengingatkan jika putranya masih berada di sampingnya.


Nisa menghela napas, ia lupa jika masih ada putranya disini.


“Dimana Mala?” gumam Nisa.


“Mala masih di dapur,” sahut nenek.


“Reyhan, kita ke kamar yuk. Nenek antar ya?” ajak nenek.


Reyhan mengangguk pelan.


“Reyhan, apa kamu tidak ingin bertemu dengan Papa Bara?”


“Diam kau, Miranda! Dia masih kecil,” bentak Nisa.


“Aku tidak melakukan apapun kepadanya, aku hanya ingin dia bertemu dengan Bara,” pungkas Miranda.


“Bara siapa yang kau maksud, Bara itu sudah meninggal saat Reyhan masih dalam perutku! Kau jangan...”


“Bara masih hidup!” sela Miranda.


“Aku akan membuktikan jika Bara itu masih hidup!” tambahnya lagi.


Ting, Tong!


Bel berbunyi.


“Itu pasti Bara,” ujar Miranda.


Ia melangkah untuk membuka pintu, nenek dan Nisa hanya menatapnya.


“Ayo ke kamar sayang. Reyhan harus makan dulu, Reyhan baru saja sembuh,” ajak nenek melihat Mala membawakan nampan berisi makanan.


“Tunggu Reyhan, sebelum pergi Reyhan harus bertemu Papa Bara dulu!” ujar Miranda sedikit berteriak.


Miranda menarik tangan Bambang, pria yang sangat mirip dengan Bara.


“Lihatlah Reyhan, ini Papa Bara!”


Reyhan menatap pria tersebut, Bambang bersandiwara seperti orang yang kebingungan.


Nisa juga menatap pria tersebut, ia melihat secara langsung. Pria tersebut benar-benar sangat mirip, hampir tidak ada celah.


“Bara, anak kecil itu adalah putramu dan wanita yang berdiri di hadapanmu itu adalah istrimu.”


“Anak? Istri?” tanya Bambang seperti kebingungan.


Nisa mengernyit heran, jika dia memang Bara. Pasti Bara sangat mengenali istrinya.


Bara menatap Nisa dan Reyhan secara bergantian.


“Apa kau ingat, dia?” tanya Miranda.


Bara menggelengkan kepalanya, lalu bersandiwara seakan kepalanya sangat sakit. Hingga terduduk lemas di lantai, Miranda berusaha membantunya.


Nisa dan nenek hanya menatapnya, tanpa berniat membantunya.


“Bara, apa kau baik-baik saja?” tanya Miranda memperlihatkan wajah cemasnya.


“Ini minum dulu,” Ujar Miranda menyodorkan gelas yang berisi air di dalamnya.


“Kenapa dengannya?” tanya Nisa.


“Bara sakit. Sekarang, apa kau percaya jika Bara masih hidup?” tanya Miranda.


Nisa menggelengkan kepala.


“Jika dia benar suamiku, pasti dia sangat mengenaliku!”


“Bagaimana bisa dia mengenalimu, sedangkan namanya sendiri saja dia lupa,” sahut Miranda.


“Maksudnya?”


Miranda menghela napas kasar.

__ADS_1


“Bara mengalami amnesia!”


“Reyhan, apa Reyhan tidak ingin memeluk Papa Bara,” teriak Miranda melihat Reyhan yang masih mematung.


Reyhan melihat Eyang putrinya, nenek Dira mengangguk. Ia membiarkan Reyhan menemui pria tersebut.


Reyhan perlahan menuruni tangga kembali.


“Reyhan,” panggil Nisa.


Reyhan tak menghiraukan panggilan Nisa.


Nenek juga mengekori Reyhan, Nisa menatap neneknya, seakan memberi pertanyaan kenapa Reyhan di biarkan.


“Biarkan saja, ikuti saja permainan mereka,” bisik nenek.


“Hai Om Bara,” sapa Reyhan.


Tanpa mereka duga, Reyhan memanggil Bambang dengan panggilan om.


Pria tersebut menatapnya, lalu memeluk Reyhan.


“Kau adalah anakku, wajahmu sangat mirip denganku.”


Bambang berusaha mengeluarkan air matanya, agar terlihat seperti orang menangis.


“Reyhan,” panggil Erwin yang baru saja tiba di ambang pintu, ia tidak datang sendirian ada Toni di belakangnya.


Semua orang menoleh ke arah suara, tak terkecuali Bambang.


“Erwin,” lirih Nisa.


“Berani sekali kau masuk ke dalam rumahku?!” bentak Erwin kepada Miranda.


“Keluar kalian!” bentaknya lagi.


“Sabar Tuan,” bisik Toni mencoba menenangkan Erwin.


Erwin menghela napas kasar.


“Aku datang kesini dengan niat baik. Lihatlah, aku mempertemukan anak dan bapak yang sudah lama tidak pernah bertemu!” ujar Miranda tersenyum bangga.


“Omong kosong!” geram Erwin.


“Kalian harusnya berterima kasih kepadaku, karena aku sudah menyelamatkan nyawa Bara. Termasuk kau!” menunjuk Nisa.


“Oh ya...!” pungkas Erwin.


“Iya. Aku membawanya berobat ke luar negeri, ia di nyatakan sembuh dari sakitnya. Namun, ia harus kehilangan ingatannya. Maka dari itu aku membawanya kemari, agar bisa bertemu dengan keluarganya.”


“Wow. Kami sangat berterima kasih kepadamu, nona Miranda.”


Erwin menyatukan kedua tangannya menghadap Miranda.


“Jadi, apa yang kau inginkan, sebagai ucapan Terimakasih kami kepadamu?”


“Aku tidak ingin apapun. Hanya ingin Bara dan keluarganya kembali dan kita juga kembali seperti dulu,” ujar Miranda.


Erwin yang mendengarnya tersenyum kecut.


Nenek, Nisa dan Toni hanya jadi pendengar, sedangkan Reyhan masih sibuk berbicara dengan Bambang pria yang sangat mirip dengan Bara.


“Apa aku tidak salah dengar?” tanya Erwin yang tidak bisa menahan amarahnya.


“Aku minta maaf sudah meninggalkan mu dulu. Bahkan hingga saat ini, kita belum putus.”


“Kau dengar baik-baik ya. Setelah kau pergi dari kehidupanku, disaat itu juga kita sudah tidak punya hubungan lagi!” geram Erwin menunjuk wajah Miranda.


Melihat suaminya yang mulai tidak bisa mengendalikan emosinya, Nisa mendekatinya.


“Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”


Mengambil tangan Erwin, sambil memberi kode bahwa ada Reyhan di ruangan itu.


“Selesaikan dulu urusan kalian, aku akan ke dapur,” ujar Nisa.


“Reyhan. Ayo makan dulu sayang,” ajak Nisa mengambil tangan putranya.


Reyhan mengangguk.


Miranda memberi kode kepada Bambang, agar mengikuti Nisa. Bambang mengerti kode yang di berikan Miranda, lalu mengikuti Nisa dan Reyhan yang lebih dulu melangkah.


“Mau kemana kau?” tanya Erwin menatapnya dengan tajam.


“Aku ingin menghabiskan waktu dengan putraku, agar ingatanku bisa kembali,” sahut Bambang.


Toni yang berdiri di belakang Erwin, malah terkekeh mendengar tutur pria tersebut.


“Biarkan dia! Dia benar, siapa tahu dengan banyak mengobrol dengan Reyhan, ingatannya bisa kembali,” ujar Nisa dingin.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2