
“Jangan gila!” kesal Nisa langsung memalingkan wajah nya.
“Iya, aku memang sudah gila!”
Erwin mengambil tangan Nisa, Namun Nisa langsung menepis nya dan sedikit menjauh.
“Ada apa dengan mu Erwin? Kita sudah berteman lama, aku menganggap mu tidak lebih dari seorang sahabat!”
“Kenapa, apa seorang sahabat tidak boleh menikah? Atau mencintai? Tidak ada undang-undang yang melarang itu, bukan!”
“Omong kosong!” gumam Nisa.
“Nisa, beri aku satu kesempatan.”
Erwin menatap wajah Nisa dengan wajah memelas.
“Erwin, maaf. Aku tidak bisa!” ucap Nisa melepas tangannya dari genggaman Erwin. Namun, Erwin kembali mengambil tangannya.
“Kenapa? Apa kamu sudah mencintai pria itu, pria yang selalu menyiksa mu? Katakan!” bentak Erwin.
Erwin tanpa sadar menggenggam erat tangan Nisa, hingga membuat Nisa meringis.
“Erwin, lepas!” menarik paksa tangan nya.
“Maaf Erwin, aku tidak bisa! Terima kasih sudah baik kepada ku selama ini.”
“Aku akan pergi,” ucap Nisa mengambil koper nya dan melangkah keluar.
“Apa aku salah jika mencintai nya?” batin Erwin memandang kepergian Nisa.
__ADS_1
Erwin terduduk lemas di sofa, sambil memijit pelipis nya. Dion datang menghampiri nya dan duduk di samping nya.
“Jangan tanya apa pun sekarang! Pergi lah antar Nisa sekarang! aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan nya!” perintah Erwin.
Dion mengangguk patuh, dan berlari kecil mengejar Nisa yang terlebih dulu pergi.
“Nisa, tunggu,” panggil Dion.
Melihat Nisa sudah masuk ke dalam lift, Nisa mengerutkan kening, pria yang belum ia kenal mengetahui namanya.
“Kamu siapa? Kamu tahu dari mana nama ku?” melihat Dion sudah di hadapan nya.
“Kenalkan, aku Dion Sahabat nya Erwin sekaligus asisten nya,” ucap nya mengulur tangan nya.
Nisa menyambut nya dengan senyum ramah.
“Aku akan mengantar mu,” ucap Dion memencet tombol lift.
“Tidak perlu, aku bisa...,” ucapan Nisa langsung di potong oleh Dion.
“Aku tidak terima penolakan,” ucap Dion.
Nisa mengangguk pasrah, hingga di parkiran tidak ada percakapan antara mereka. Dion hanya melirik tanpa berniat membuka pembicaraan, mendengar perdebatan mereka tadi, Dion mengerti situasinya.
“Turun kan aku di sini saja,” ucap Nisa menunjuk halte bus.
“Aku akan mengantar mu, kamu mencari rumah sewa kan? Aku tahu tempat nya,” ujar Dion.
Karena sebelum nya Erwin sudah menceritakan kepada nya.
__ADS_1
“Tap...,” ucapan nya di sela oleh Dion.
“Sudah, turuti saja! Erwin hanya melindungi mu, dia tak ingin terjadi apa-apa dengan mu,” ucap Dion.
Mendengar ucapan Dion, Nisa merasa sangat bersalah.
“Suatu saat nanti kamu akan mengerti Erwin, maaf kan aku. Kamu terlalu baik untuk ku, kamu pantas mendapatkan wanita lebih baik dari pada aku,” batin Nisa sambil memejam kan matanya.
Seminggu sudah berlalu, perdebatan kemarin benar-benar menguras pikiran Nisa.
Ia menganggap Erwin sebagai teman baik nya sejak masa sekolah dulu, namun ia ternyata salah. Kebaikan Erwin itu hanya karena Erwin mencintai nya.
Seminggu juga Nisa sudah pergi dari rumah Bara, ada rasa kerinduan di hati kepada suami nya.
Setelah pulang bekerja, Nisa ingin pulang dengan berjalan kaki. Karena ingin menikmati matahari sore, kebetulan tempat kerja tidak terlalu jauh dari tempat tinggal nya.
Saat Nisa asyik berjalan, tanpa ia sadari mobil berhenti di belakang nya.
Hap, seseorang memeluk nya dari arah belakang.
“Hei, lepaskan! Siapa kau berani memeluk ku!” bentak Nisa.
Nisa menyikut seseorang itu dengan siku tangan nya, hingga orang tersebut melepaskan nya.
“Aduh...,” ucap pria tersebut mengaduh sakit di perut nya.
Nisa seperti mengenal suara tersebut, ia membulat kan mata setelah melihat pria tersebut.
Bersambung...
__ADS_1