Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 34


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di parkiran Apartemen. Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju lift, dan menekan tombol lift untuk naik ke lantai atas.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di kamar milik Erwin.


“Masuk dan istirahat lah, sebelum itu mandi lah dulu dengan air hangat,” perintah Erwin melihat Nisa masih kedinginan.


Nisa mengangguk patuh, Erwin menunjukkan kamar Nisa dan meletakkan koper kecil milik nya.


“Aku akan pulang, ada kerjaan yang harus ku selesaikan,” pamit Erwin.


“Emm, Erwin, terima kasih banyak ya. Oh ya, aku akan pergi besok pagi.”


“Aku akan mengantar mu besok, jangan pergi sebelum aku datang. Jadi, tunggu aku, oke!” ucap Erwin.


“Jangan lupa makan, sebentar lagi ada asisten rumah tangga yang akan datang,” tambah Erwin lagi.


“Erwin, itu tidak per—...” ucap Nisa terpotong.


“Jangan membantah, ini apartemen ku aku yang berkuasa.”


“Hhmm, baiklah. Aku minta maaf,” ucap Nisa pasrah.


Erwin tersenyum simpul, lalu mengelus pipi Nisa.


“Lupakan, sekarang pergi mandi! Wajah terlihat pucat karena kedinginan, aku akan pergi sekarang.”


Nisa mengangguk patuh, melihat kepergian Erwin Nisa menutup pintu dan mengunci nya.


Nisa bergegas masuk ke kamar, dan mengeluarkan pakaian nya untuk ia pakai setelah mandi.


***


Sementara Bara masih duduk termenung di sofa.

__ADS_1


“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” gumam nya.


“Apa aku akan mengejar nya? Atau aku, ahkkh,” ucap Bara prustasi menarik rambut nya.


“Tidak, Aku tidak mau kehilangan nya. Aku harus mencari nya sekarang,” gumam nya sambil menggelengkan kepalanya.


Ia bergegas mengambil kunci mobil, dan berlari kecil menuju mobil nya yang terparkir di garasi.


Saat mengeluarkan mobil, terlihat mobil Erwin masuk ke halaman rumah nya. Terlihat Erwin sangat terburu-buru keluar mobil dan menutup pintu mobil nya dengan keras karena emosi yang sudah tidak terbendung lagi. Melihat Erwin yang baru datang, Bara langsung keluar dari mobil nya.


“Ada urusan apa lagi kau kemari?” bentak Bara.


“Brengsek kau Bara!” geram Erwin menghampiri Bara yang bersandar di mobil.


“Kau pantas di sebut lelaki tidak berguna!” dengan emosi yang memuncak.


Bugh, Bugh, suara pukulan dua kali. Erwin yang di penuhi emosi meninju wajah Bara tanpa ampun, pukulan Erwin tepat mengenai hidung Bara hingga mengeluarkan darah.


“Kurang ajar!” geram Bara.


Bara mendorong tubuh Erwin dengan kuat, hingga terpental ke tembok.


Bara menarik kembali kerah baju Erwin. Bugh, bugh, Bara membalas pukulan Erwin tepat di perut nya, hingga Erwin lemas tak berdaya.


“Berani sekali dirimu, brengsek!” geram Bara masih memukul perut Erwin.


Beruntung saat itu, Dion asisten Erwin datang ke rumah Erwin hendak mengantarkan berkas penting.


Melihat mobil bos nya terparkir di rumah Bara, terdengar nyaring suara pukulan dan teriakan membuat Dion berlari cepat.


Melihat bos nya sudah terkulai lemas di lantai, Dion segera memisahkan mereka walaupun beberapa kali kena pukulan oleh Bara tepat di wajah nya, ia tak gentar untuk memisahkan mereka.


“Cukup! Cukup!” teriak Dion.

__ADS_1


“Apa yang kalian ribut kan, hah?” teriak Dion setelah berhasil memisahkan mereka.


“Heh! Tanya kepada majikan mu yang tidak tahu diri ini!” bentak Bara dengan nafas terengah-engah sambil menyapu darah di hidung nya yang mengalir.


Erwin tersenyum kecut, mendengar nya.


“Yang pantas di sebut lelaki tidak tahu diri itu adalah, kau!” tunjuk Erwin.


“Lelaki seperti mu tidak pantas untuk Nisa! Kau dengar ya, aku akan mengurus untuk mempercepat perceraian kalian! Agar Nisa cepat terbebas dari pria seperti mu!” ancam Erwin.


“Kurang ajar kau!” geram Bara hendak menarik kembali kerah baju Erwin. Dengan cepat di tahan oleh Dion.


“Hei, hei, bro santai,” ucap Dion menahan tubuh Bara.


“Ini bisa di bicarakan baik- baik, tanpa perlu emosi,” tambah Dion lagi.


“Harus nya, ucapan mu itu untuk majikan mu itu, bodoh! Dia lebih dulu menyerang ku!” bentak Bara.


“Hei kau, dimana istri ku sekarang?” tanya Bara menunjuk Erwin.


“Sampai kapan pun, aku tidak akan memberi tahunya! Untuk apa kau mencari nya? Bukan kah ini yang kau ingin kan, bukan!” ucap Erwin tersenyum licik.


“Sialan kau! Aku akan melaporkan mu ke polisi, karena kau telah menculik istri orang,” ancam Bara.


Namun, tidak membuat Erwin takut sehingga membuat Erwin tertawa.


“Hahaha..., silahkan laporkan! Kalau kau punya bukti kuat!” ucap Erwin tertawa puas dan berlalu pergi meninggalkan Bara.


“Brengsek kau,” geram Bara menendang pintu mobil nya.


Dion juga ikut meninggalkan Bara sendirian, dan ikut masuk ke dalam mobil Erwin lalu menjalan kan mobilnya lalu memarkirkan nya dan masuk ke rumah nya.


“Aku akan membalas mu!” geram Bara melihat Erwin sudah masuk ke dalam rumah nya, karena pintu rumah Erwin menghadap dengan rumah nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2