
Setelah puas bermain, Erwin mengajak untuk makan malam di restoran yang ada di mall tersebut.
“Reyhan mau makan apa sayang?” tanya Erwin memperlihatkan buku menunya.
“Yang ini Pa,” sahut Reyhan menunjuk steak bersama dengan kentang goreng.
“Kamu?” tanya Erwin kepada Nisa yang ada di hadapannya.
Nisa berpikir sejenak, melihat menu yang ada di dalam buku tersebut.
“Sama seperti Reyhan saja,” sahut Nisa.
Erwin mengangguk.
Ia memanggil pelayan restoran dan menyerah nama makanan yang mereka makan.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka bercanda gurau di meja tersebut. Reyhan selalu saja mengoceh, membuat Nisa dan Erwin tertawa kecil mendengarnya.
“Oh iya Nis, aku ingin bertanya ini sejak tadi. Siapa wanita yang bersamamu tadi?” tanya Erwin.
“Oh itu, dia ibu dari teman Reyhan di sekolah. Tapi, suaminya rekan kerja mu,” tutur Nisa.
“Siapa?”
“Entah,” sahut Nisa mengangkat kedua bahunya.
Pembicaraan mereka terputus, ketika pelayan datang membawa pesanan mereka.
“Permisi Tuan!” ucap pelayanan tersebut, ia meletakkan makanan di meja satu persatu.
“Terima kasih,” ucap Nisa.
“Sama-sama,” sahut pelayan tersebut.
Nisa mengambil piring dan memotong daging tersebut menjadi beberapa bagian, lalu mengambilnya dengan menggunakan garpu dan menyodorkannya kepada putranya.
“Mau di suapi Papa, Ma.”
“Jangan manja Reyhan. Papa juga ingin makan, biar Mama yang suapi!”
“Gak mau!” Reyhan kembali cemberut.
Nisa membuang napas kasar.
“kemari, biar aku yang menyuapinya.”
“Reyhan jangan terlalu dimanja! Dia itu lelaki!” ketus Nisa kepada Erwin.
“Dia masih kecil. Jangan terlalu membebaninya, dia masih kecil, wajar jika ingin bermanja dengan kedua orang tuanya! Bahkan ia masih belum mengerti semuanya.”
Nisa diam dan pasrah, mendengar ucapan Erwin.
Erwin dengan sabar menyuapi Reyhan, hingga makanannya itu habis. Setelah selesai menyuapi Reyhan, ia kembali melanjutkan makanan yang belum ia sentuh, karena harus menyuapi Reyhan terlebih dahulu.
Saat ini Erwin fokus dengan makanannya, tidak ada percakapan di antara mereka. Nisa sibuk dengan ponselnya, sedangkan Reyhan sibuk merakit robot yang ia beli tadi.
Erwin memanggil pelayan untuk meminta Bill nya, lalu memberikan kartunya kepada pelayan tersebut. Tak lama pelayanan itu kembali lagi untuk mengembalikan kartu tersebut kepada pemiliknya.
__ADS_1
“Kalian sudah selesai? Atau ada yang ingin di belikan lagi?” tanya Erwin sambil memasukkan kartu ke dalam dompetnya.
“Tidak ada, sepertinya. Kita langsung pulang saja, aku khawatir dengan nenek,” tutur Nisa.
“Baiklah, ayo sayang.”
“Pa, gendong. Reyhan cape,” ucap Reyhan.
“Reyhan, Papa cape sayang. Gendong sama Mama ya?”
Reyhan menggelengkan kepalanya.
“Sini sayang, Papa gendong.”
Erwin merentangkan kedua tangannya. Erwin kembali menggendong Reyhan, karena terlihat dari matanya jika ia sedang mengantuk. Belum sampai di mobil, Reyhan sudah tertidur di gendongan Erwin. Karena terlalu bersemangat untuk bermain, hingga membuatnya kelelahan.
Nisa mengikuti langkah mereka dari belakang, dengan menenteng beberapa paper bag di tangan kanannya.
“Dia tidur,” ucap Nisa melihat putra sudah tertidur pulas.
“Iya. Biarkan saja,” sahut Erwin.
“Apa kau tidak lelah? Biarkan aku yang menggendongnya, sejak tadi Reyhan selalu menyusahkanmu,” usul Nisa.
“Tidak perlu, malah membuatnya terbangun jika kau mengambilnya, Biarkan dia tidur, aku tidak merasa lelah kok.”
Nisa kembali membuang napas kasar.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di mobil Erwin. Nisa lebih dulu masuk, setelah itu Erwin meletakkan Reyhan di pangkuan Nisa.
Sebelum masuk ke mobil, Erwin melihat mobil yang mengikutinya sejak dari makam dan masih terparkir di tempat sebelumnya.
Nisa yang melihat Erwin dari dalam mobil, memandang ke arah mobil yang terparkir.
“Ada apa?” tanya Nisa melihat Erwin sudah masuk mobil.
Erwin menggelengkan kepalanya.
“Apa kau mengenali mobil itu? Sejak tadi kau menatapnya.”
“Tidak, aku tidak mengenalinya.”
“Oh...” sahut Nisa singkat.
“Apa kita langsung pulang?” tanya Erwin lagi.
“Iya. Jika kau banyak pekerjaan, aku bisa naik taksi untuk pulang,” usul Nisa.
“Aku tidak akan membiarkan kalian naik taksi! Pekerjaanku memang banyak, tapi kalian lebih utama bagiku. Masalah pekerjaan, aku punya banyak asisten!”
“Iya, maaf. Terima kasih sudah menjaga kami.”
Erwin tidak menjawab ucapan Nisa, ia fokus mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik Reyhan yang tertidur pulas di pangkuan Nisa.
“Apa aku boleh bicara sesuatu?” tanya Erwin.
“Bicaralah.”
__ADS_1
“Apa tidak ada tempat di hatimu sedikit saja untukku? Apa kamu tidak kasihan melihat Reyhan?”
“Kita sudah pernah membahas ini, bukan?” tegas Nisa.
“Sedikit pun tidak ada kau menaruh perasaan cinta terhadapku? Jika kau tidak mencintaiku, tapi lakukan ini demi Reyhan dan menikah denganku!”
“Ini yang terakhir kalinya aku bertanya! Kau tidak mau menikah denganku demi Reyhan?”
Cukup lama Nisa diam, ia bahkan tidak mengangguk atau pun menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, aku sudah mengetahui jawabannya. Melihat dari caramu ini, aku memberi kesimpulan bahwa kau menolak lagi diriku!” ucap Erwin, rasa kecewa yang cukup dalam yang Erwin rasakan.
“Beberapa hari lagi aku akan keluar kota dan mungkin akan menetap di sana.”
Nisa melihat Erwin sekilas, lalu kembali menghadap ke arah depan seperti semula.
“Jaga diri kalian baik-baik. Jangan terlalu sering membentak Reyhan, dia masih kecil,” nasihat Erwin.
Nisa sempat meneteskan air matanya, lalu dengan cepat ia menghapusnya agar Erwin tak melihatnya.
“Jika Reyhan merindukan ku, berusahalah menghiburnya. Jangan mencoba menghubungiku, hanya itu caranya agar dia perlahan lahan melupakanku,” tambah Erwin lagi.
Nisa masih bertahan dengan diamnya.
Setelah mengatakan itu semua, Erwin tidak berbicara apa-apa lagi. Ia hanya fokus mengendarai mobilnya.
Pukul sembilan malam, mereka baru tiba di rumah nenek Dira, sejak tadi sore keluar.
“Biar aku yang menggendongnya,” ucap Erwin melepaskan seatbel nya, lalu keluar dari mobil.
Tanpa menunggu persetujuan Nisa, Erwin mengambil Reyhan dari pangkuannya. Nisa menatap punggung Erwin yang lebih dulu masuk ke rumah.
Erwin mengantar Reyhan masuk ke kamarnya dan perlahan meletakkan Reyhan di kasur empuknya, lalu melepaskan sepatu yang masih melekat di kakinya.
Sebelum Erwin keluar kamar tersebut, ia memberi ciuman di beberapa bagian wajah Reyhan yang masih tertidur pulas tersebut.
“Maafkan Papa sayang, Papa harus menjauh dari kalian. Ini demi kebaikan kalian,” gumam Erwin.
Setelah puas memandang wajah Reyhan, Erwin keluar dari kamar. Erwin berpapasan dengan Nisa yang baru datang dan hendak memasuki kamar.
Namun, Erwin hanya melihatnya sekilas, lalu melangkah keluar.
“Erwin, aku...”
Nisa tidak melanjutkan lagi ucapannya, melihat Erwin yang langsung pergi tanpa berpamitan dengannya.
“Maafkan aku. Aku hanya bingung dengan hatiku saat ini,” lirih Nisa.
Nisa masuk ke kamar Reyhan, ia melangkah ke arah jendela dan memperhatikan mobil Erwin yang sudah menjauh pergi.
Nisa membuang napas kasar.
“Kamu itu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik, bukan wanita sepertiku.”
.
.
__ADS_1
.