
Di dapur, Nisa menatap bergantian pria dan putranya. Pria tersebut menyuapi Reyhan, karena sebelumnya ia meminta izin kepada Nisa untuk menyuapi Reyhan.
“Aku akan kembali,” pamit Nisa.
Ia melangkah ke arah dapur yang ada di belakang dan membiarkan Reyhan bersama pria tersebut.
Setelah kepergian Nisa, pria tersebut mendengus kesal.
“Lama sekali anak ini makan!” gumamnya dalam hati.
Ia kembali menyuapi Reyhan, dengan sedikit kasar. Sehingga membuat sendok tersebut melukai gusi Reyhan hingga mengeluarkan darah sedikit.
“Aw...! sakit,” teriak Reyhan.
Pria tersebut langsung membungkam mulut Reyhan dengan tangannya.
“Awas saja kau berteriak dan mengadu kepada ibumu. Aku akan memasukkan ke dalam karung dan membuangmu ke laut. Kau mau?!” ancam Bambang.
Reyhan mengangguk sambil menahan air matanya.
“Cepat makan lagi!” benaknya.
Reyhan yang ketakutan, mulai makan dengan tangan yang gemetar sambil menghapus air matanya.
“Nah begini kan bagus,” ucap Bambang tersenyum.
“Kenapa sayang? Mama dengar suara Reyhan berteriak tadi,” tanya Nisa yang baru saja kembali dari dapur belakang.
“Loh, kenapa? Kok Reyhan nangis?” tanya Nisa sedikit cemas.
Reyhan melirik Bambang yang menatapnya sambil tersenyum. Nisa mengikuti arah netra Reyhan yang seperti ketakutan.
“Enggak Ma. Reyhan mengantuk,” sahut Reyhan sambil menunduk.
“Kalau begitu habiskan makannya dulu, setelah itu istirahat di kamar.”
Reyhan mengangguk.
“Bagaimana? Apa kau mengingat sesuatu setelah melihat ku?” tanya Nisa duduk di depan pria tersebut.
Bambang menggelengkan kepalanya.
“Pelan-pelan saja. Semuanya akan kembali jika kau mau bersabar,” tutur Nisa memaksakan senyumnya.
Nisa sudah mengetahuinya, jika pria yang ada di hadapannya bukan lah Bara.
“Huh...” keluh nenek yang baru saja ikut bergabung di meja makan.
“Nenek pusing mendengar perdebatan di luar sana!”
Nisa menatapnya jika ada orang asing di meja makan tersebut.
“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka Nek,” sahut Nisa.
“Eh Nak Bara? Apa kau juga tidak mengingat nenek?” tanya nenek.
Terbesit di pikirannya ingin mengerjai pria tersebut.
“Tidak Nyonya.”
“Aku heran! kau terlihatnya sangat segar, tidak terlihat sakit. Apa kau benar-benar sakit?” tanya nenek.
“Aku sakit Nyonya.”
Ia memperlihatkan wajah lesu yang di buat-buatnya.
“Apa kau mempunyai surat keterangan dari Dokter, jika kau memang mengalami amnesia?”
“A-ada Nyonya. Hanya saja aku lupa membawanya,” sahut Bambang sedikit gugup.
“Hm... baiklah. Bagaimana jika aku membantumu, agar ingatanmu Kembali?”
“Dengan senang hati Nyonya. Semakin cepat kembali ingatanku, semakin bagus. Aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku.”
“Apa kau mengenal wanita yang bersama datang kemari, tadi?” tanya nenek.
__ADS_1
“Iya. Awalnya aku tidak mengenalinya, tapi Miranda sudah menceritakan semuanya.”
“Hm, bagus lah kalau kau tahu. Aku juga mau memberitahumu sesuatu,” Bisik nenek.
Nisa menjadi pendengar yang baik, ia tahu jika nenek saat ini sedang mengerjai pria yang ada di hadapannya itu.
“Apa itu Nyonya?”
“Miranda itu, mantan kekasihmu dan juga Erwin.”
Pria tersebut mengerutkan keningnya.
“Nek, aku akan mengantar Reyhan ke kamar dulu! Sepertinya Reyhan sangat mengantuk,” pamit Nisa.
Nenek Dira mengangguk.
Nisa mengajak Reyhan ke kamarnya, setelah menghabiskan makanannya. Mereka melewati ruang tengah, Nisa melirik Miranda yang menangis sambil memeluk Erwin.
Erwin berusaha melepaskan pelukan Miranda, namun gagal. Tanpa berkata apapun, Nisa dengan sabar mengajak putranya naik ke lantai atas.
“Sayang,” panggil Erwin.
Nisa berhenti sejenak.
“Selesaikan masalah kalian, aku akan mengantar putraku untuk tidur siang,” ucap Nisa dingin.
Sementara di dapur, nenek berbincang hangat dengan Bambang di meja makan.
“Miranda itu wanita ular. Dia pernah menguras uangmu dulu, hingga kamu tidak punya uang sepersen pun.”
“Bahkan, aku mendengar jika ia memohon untuk kembali kepada Erwin di ruang tamu tadi,” tambah nenek.
“Kenapa jadi begini? Apa Miranda memanfaatkan ku?” tanya Bambang dalam hati.
“Kenapa melamun?” tanya nenek.
“Hah, tidak Nyonya. Aku hanya sedang mengingat, aku sepertinya pernah bertemu dengan Nyonya tapi aku lupa dimana?”
“Hm... berusaha lah lagi. Agar kamu bisa mengingat semuanya,” ujar nenek beranjak dari duduknya.
Nenek mengambil gelas untuk mengisi air putih, karena tenggorokannya terasa kering.
***
Di ruang tamu.
Semenjak kepergian Nisa dari Raung tamu itu menuju ke dapur. Miranda berusaha memeluk Erwin yang berulang kali menepis tangannya.
“Apa kau tidak ingin memberiku satu kesempatan lagi? Aku akan berjanji untuk setia kepadamu,” ucap Miranda yang bersimpuh di depan Erwin.
“Aku sudah mempunyai istri! Pergi dan cari laki-laki yang mudah kau tipu!”
“Istri mana yang kau sebut? Nisa itu masih sah istri dari Bara, pernikahan kalian tidak sah!”
“Tutup mulut mu itu!” bentak Erwin.
Melihat kemarahan Erwin, Miranda menciut ia langsung terdiam.
“Kalau tujuanmu datang ke rumah ini hanya untuk mengatakan itu! Sebaiknya kau pergi dari rumah ini sekarang, aku tidak sudi melihat wajahmu itu!”
“Hiks... Hiks... Erwin. Beri aku satu kesempatan saja, aku akan berubah,” tutur Miranda.
Miranda berdiri langsung memeluk Erwin, karena sebelumnya ia melirik ke arah dapur, jika Nisa melangkah menuju ke arah ruang tengah.
“Lepaskan, bodoh!”
Berusaha melepaskan Miranda dari tubuhnya.
Erwin melihat Nisa menggandeng tangan Reyhan, dengan raut wajah yang tidak terbaca.
“Sayang,” panggil Erwin.
“Selesaikan urusan kalian, aku akan mengantar putraku untuk tidur siang,” sahut Nisa dingin.
Erwin menghela napas kasar, lalu melepas pelukan Miranda dengan kasar.
__ADS_1
“Kau sengaja kan?!”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Aku sungguh muak denganmu!” Erwin sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
“Tuan,” panggil Toni yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
“jangan kotorkan tangan anda untuk wanita seperti dia!”
“Hei! Kau bicara apa?!” bentak Miranda.
“Biarkan polisi yang bekerja!” tambah Toni lagi.
“Polisi? Apa maksudmu?” tanya Miranda lagi.
Ia terlihat gugup mendengar kata polisi.
“Angkat tanganmu Nona!” teriak polisi tersebut dengan menodongkan senjata ke arah Miranda.
“Apa salah saya Pak?” tanya Miranda dengan suara gemetar.
“Kita akan jelaskan di kantor polisi,” sahutnya.
Tak lama, muncul polisi lain muncul dari arah dapur, dengan tangan sudah ter borgol, Bambang berjalan pasrah.
“Apa ini Erwin? Kau menjebakku!”
“Aku tidak menjebakmu, tapi kau yang masuk ke dalam perangkap mu sendiri.”
“Kurang ajar! Aku akan membalas perbuatan mu nanti!”
“Cepat jalan!” bentak polisi melihat Miranda tidak mau melangkah kan kakinya.
“Sebentar, aku ingin berbicara dengan Erwin dulu!”
“Biarkan dia berbicara dulu pak,” ujar Erwin.
“Cepat katakan!” bentak Erwin karena sudah geram dengan tingkah Miranda.
“Asal kau tahu, aku pernah mengandung anakmu dan saat ini putrimu ku titipkan kepada orang,” ujar Miranda.
“Omong kosong!” pungkas Erwin.
Polisi membawa paksa Miranda dan Bambang.
Toni yang menghubungi pihak polisi, ia juga menyerahkan bukti jika Miranda menyalahgunakan obat-obatan. Bahkan Miranda merencanakan pembunuhan terhadap Nisa, beruntung Toni cepat mengetahui ini dari anak buahnya dan segera melapornya ke polisi.
“Terimakasih Toni. Polisi datang di waktu yang tepat, huh... aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku lagi!”
Erwin bernapas lega, lalu berpamitan kepada Toni dan nenek untuk menemui istrinya.
Dari raut wajah Nisa tadi, ia tahu jika istrinya tersebut sedang marah kepadanya.
Ia berlari kecil melangkah menuju kamar Reyhan, akan tetapi saat memutar kenop pintu kamar, pintu tersebut terkunci dari dalam.
“Sayang, buka pintunya!” teriak Erwin berulang kali mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
“Reyhan, buka pintunya nak! Ini papa sayang,” ujar Erwin.
Tak lama, pintu kamar tersebut terbuka.
Ceklek!
“Sayang,” panggil Erwin melihat Nisa menatapnya.
Bahkan saat ini, Erwin sangat sulit menelan salivanya.
.
__ADS_1
.
.