Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 102


__ADS_3

Di restoran, ada drama yang diciptakan oleh Reyhan, ia menangis kencang karena tidak mau di tinggal oleh Papanya.


Erwin sudah berusaha membujuknya, untuk tetap tinggal bersama Eyang putrinya. Karena siang ini Erwin ada meeting bersama kolega penting.


“huhuhu Papa, Reyhan mau ikut. huhuhu!” Reyhan menangis sambil memeluk papanya dengan sangat erat.


“Eyang, Rey mau ikut Papa!” teriak Reyhan.


“Besok lagi Papa jemput di rumah ya. Sekarang Papa harus bekerja sayang.”


“Papa bohong! huhuhu, Rey ikut Papa pokoknya!” jerit Reyhan yang masih memeluk erat leher Erwin.


“Sayang. Jangan seperti ini, Papa mau berangkat kerja. Besok Papa akan mengajakmu lagi untuk bermain,” ucap Nenek Dira berusaha membujuk cicitnya tersebut.


“Gak mau! Papa berbohong Eyang! Huhuhu.” Reyhan semakin kencang menangis.


Beberapa pegawai restoran pun, ikut membujuknya. Namun Reyhan tetap kekeh dengan pendiriannya.


“Nek. Bagaimana jika aku membawa Reyhan ke kantorku? Aku akan mengantarnya pulang setelah meeting ku selesai.”


Nenek masih terdiam, ia bukan tidak mengizinkan. Nisa akan marah jika membawa putranya tanpa sepengetahuannya.


“Aku akan bertanggung jawab Nek. Aku tidak tega melihat putraku menangis, seperti ini.”


Erwin mengerti, apa yang dipikirkan oleh Nenek Dira saat ini.


“Baiklah. Antar Reyhan sebelum Nisa pulang kerja.”


“Baik Nek. Kamu permisi Nek,” pamit Erwin.


Tapi sebelum melangkah keluar restoran, Erwin membersihkan wajah Reyhan yang basah karena air mata bercampur keringat.


“Cup, cup anak Papa. Sudah sayang menangisnya, Reyhan akan ikut Papa ke kantor. Oke,” tutur Erwin menggendong Reyhan menuju mobilnya.


“Ben-eran, Pa?” tanya Reyhan yang masih sesegukan akibat terlalu banyak menangis.


“Iya sayang. Reyhan jelek kalau nangis seperti ini.”


“Ayo, kita pergi. Papa sudah sedikit terlambat sayang.”


Nenek yang melihat kasih sayang Erwin yang begitu besar, pantas saja Reyhan tidak mau di tinggal oleh Erwin.


Di dalam mobil, Reyhan berbaring dan meletakkan kepalanya di paha Erwin. Reyhan hanya diam tidak seperti biasanya selalu mengoceh.


“Apa Reyhan baik-baik saja?” tanya Erwin masih memegang berkas di tangannya.


Karena tidak dengar sahutan dari Reyhan, Erwin menoleh ke sampingnya dan melihat Reyhan tertidur pulas di sampingnya dengan posisi kepalanya di paha Erwin.


“Astaga, ternyata dia tidur.”


Erwin tersenyum melihat wajah Reyhan yang begitu pulas tertidur.


“Kamu sangat mirip seperti ibumu, jika tidur begini. Doakan Papa sayang, agar bisa meluluhkan hati Ibumu kembali,” batin Erwin.


Tidak butuh waktu lama, mereka kini tiba di depan kantor miliknya.


Erwin meminta sopirnya yang membawa tas kecil yang berisikan berkas penting, karena dirinya menggendong tubuh Reyhan yang cukup berat.


“Selamat siang Tuan.”


Sapa karyawan yang melintas, Erwin hanya menganggukkan kepalanya.


Ketika di dalam lift, Erwin tampak kesusahan menggendong bocah tersebut.

__ADS_1


“Apa perlu saya bantu Tuan?”


“Hah ... tidak perlu, aku masih bisa,” sahut Erwin pelan.


Pintu lift terbuka, beberapa karyawan berlalu lalang di koridor kantor, untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing karena jam istirahat sudah habis.


Sang sopir membantu untuk membuka pintu ruangannya, tampak Dion juga baru saja menyelesaikan makan siangnya.


“Erwin. Anak siapa yang kau culik?” celetuk Dion melihat seorang anak kecil di gendong oleh Erwin.


Karena Dion tak melihat wajah anak yang di gendong oleh sahabatnya tersebut.


Bukannya menjawab, Erwin melewati Dion yang sedang memberinya pertanyaan.


Erwin masuk ke kamar kecil yang ada di ruangannya tersebut, tempat Erwin biasanya istirahat sejenak untuk melepaskan rasa penatnya bekerja.


ia perlahan meletakkan Reyhan di kasur, dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


Sebelum ia keluar, Erwin memberi ciuman di kedua pipi tersebut.


Dion menatap sahabatnya tersebut, masih menunggu jawaban darinya.


“Itu Reyhan. Huft ...” dengan napas yang turun naik.


Sukses membuat Erwin berkeringat, menggendong Reyhan dengan badan yang cukup berisi.


“Oh, aku kira kau sudah frustasi hingga menculik anak orang,” tutur Dion terkekeh.


“Sialan kau!” umpat Erwin.


Ia membenarkan pakaiannya, yang sedikit kusut.


“Bagaimana? Apa mereka sudah datang?” tanya Erwin.


“Ayo kita ke ruang meeting. Jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama,” tutur Erwin hendak beranjak dari duduknya.


“Tapi ... bagaimana dengan Reyhan? Tidak mungkin kita membiarkan dirinya tidur sendiri, kalau Reyhan bangun dan mencarimu, bagaimana?”


Erwin berpikir sejenak.


“Nadia,” ucap mereka secara bersamaan.


“Cepat kau hubungi dia sekarang. Aku akan ruangan meeting duluan.”


“Setelah Nadia datang, cepat kau menyusulku.”


Dion mengangguk.


Dion meminta bantuan Nadia untuk menjaga Reyhan, Karena jarak apartemen Nadia dan kantor Erwin, hanya berjarak beberapa meter saja.


Erwin keluar lebih dulu, meninggalkan Erwin yang masih berbicara dengan Nadia di telepon, lalu menuju ruangan meeting.


Erwin masuk ke ruangan tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika melihat wanita yang tidak asing juga berada di ruangan meeting tersebut.


Netra mereka saling bertemu satu sama lain. Erwin langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Erwin. Kenapa berdiri disini?” bisik Dion yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.


Namun, Dion tak kalah terkejutnya, melihat perempuan yang ia sangat kenal dan pernah meninggalkan sahabatnya dulu tanpa alasan yang jelas.


“Miranda. Dia disini, apa yang dia lakukan?!” ujar Dion dalam hati.


“Maaf, saya terlambat.”

__ADS_1


Erwin duduk di kursi, lalu mengeluarkan berkas dari dalam tas miliknya.


“Iya pak Erwin, kami baru saja tiba disini. Sebelum meeting di mulai, saya ingin memperkenalkan asisten saya.”


Erwin melirik wanita yang ada di samping pria tua tersebut.


“Oh. Jadi ... Miranda ini asistennya,” gumam Dion dalam hati.


Dion mengangguk mengerti.


“Miranda. Dia pak Erwin, pengusaha muda yang sukses,” tutur pria tersebut.


Erwin mengulurkan tangannya kepada Miranda, seakan mereka tidak pernah Kenal sebelumnya.


“Miranda.”


“Erwin,” sahutnya singkat.


Erwin kembali menarik tangannya, enggan untuk bersalaman berlama-lama. Ada raut kecewa terlihat dari wajah Miranda.


“Licik!” ujar Dion dalam hati. Dion bahkan sangat tahu, bagaimana liciknya wanita ular yang ada di depannya tersebut.


“Apa lagi yang direncanakan wanita licik ini?! Aku harus waspada mulai sekarang,” gumam Dion dalam hati.


“Baik. Untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja meetingnya,” ucap Erwin membuka pembicaraan.


Pandangan Miranda tak lepas pada Erwin, dengan senyuman tak hilang dari bibirnya.


Tanpa Miranda sadari, jika Dion menatapnya dengan penuh selidik.


“Dia sangat tampan dan juga sukses. Bodohnya aku meninggalkan dia dulu! Aku yakin bisa merebut hatinya kembali, secara aku kan cantik dan Erwin pun dulu sangat mencintaiku,” batin Miranda dengan percaya diri sambil menyeringai jahat.


“Papa ...!” jerit Reyhan di depan pintu sambil menangis.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu.


“Sayang, anak Papa kok bangun. Sini sama Papa, jangan nangis ya,” ucap Erwin lembut.


Reyhan yang patuh, mendekati Erwin lalu memeluknya.


“Maaf, sudah mengganggu kalian,” tutur Reyhan.


Karena meeting yang sedang berlangsung, seketika terjeda karena Reyhan langsung masuk dan menangis.


“Kak, maaf. Aku tadi ke toilet, jadi ... gak tahu kalau Reyhan menyusul Kaka kesini,” ucap Nadia yang baru datang.


“Biarkan dia disini bersamaku.”


Dion mengambil kursi kosong untuk Reyhan duduk.


Beberapa orang yang ada di dalam bertanya-tanya, tak terkecuali Miranda.


“Ternyata Pak Erwin sudah mempunyai seorang anak. Saya kira pak Erwin masih sendiri.”


Erwin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut.


Miranda yang semula tersenyum, seketika langsung sirna ketika melihat seorang anak kecil masuk dan memanggilnya Papa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2