
Saat Erwin menutup kembali pintu kamarnya, tanpa ia sadari jika maminya menatapnya dengan tajam.
Plak...!
Pukulan mendarat di bahunya, membuat Erwin mengaduh kesakitan.
“Aw...! sakit.”
Erwin membalikkan badannya, melihat sang Mami menatapnya.
“Mami, kenapa memukulku?” kesal Erwin mengusap bahunya.
“Apa yang kau lakukan di kamar ini? Bukankah Nisa tidur di kamar ini?! Kau mau berbuat apa kepadanya?” tanya Maminya penuh selidik.
“Mami selalu berpikir negatif kepada anaknya sendiri! Aku hanya mengantarnya makan dan memastikan Nisa minum obat. Itu saja Mi, sumpah...” ucapnya memperlihatkan dua jarinya.
“Hm...! cepat pergi ke kamarmu dan istirahat, ini sudah sangat malam. Oh ya... apa luka di kepalamu masih sakit?”
Erwin menggelengkan kepalanya.
Saat hendak melangkah ke kamarnya, Erwin menghentikan langkahnya dan langsung berbalik arah ke belakang.
“Ada apa?” tanya maminya yang masih di depan pintu kamar, sedang menatap kearahnya.
“Mami kapan pulang ke luar negeri?”
“Rencana besok. Tapi mami tunda, setelah melihatmu pulih total, baru kami akan kembali.”
“Oh... Terima kasih Mam,” ucap Erwin yang langsung memeluk Maminya.
“Eh tumben anak Mami manja? Sudah tua, tahu!” ejeknya.
“Mami kan ingin Erwin cepat menikah, bantu Erwin Mam,” bisik Erwin.
Seketika sang Mami mengerti apa yang di maksud oleh putranya tersebut.
Plak...! suara pukulan tersebut kembali mendarat di bahunya.
“Aw... sakit Mam!” keluh Erwin melepas pelukannya.
“Berusaha sendiri!” ketus Maminya.
“Tega!” ucap Erwin dengan wajah sedih yang di buat-buatnya, Maminya terkekeh melihat wajah Erwin yang cemberut.
Ia kembali masuk ke dalam kamar lain, yang berada persis di samping kamarnya.
***
Jam dua dini hari, Dion kembali ke hotel untuk menemui istrinya.
Mimpi apa baginya, malam ini yang harus menjadi malam pertama dengan istrinya. Tapi menjadi malam penculikan, untuk Nisa.
“Siapa pria itu? Aku seperti pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana?” gumam Dion masih memikirkan kejadian tadi.
“Ah sudah lah. Biarkan saja, ada Toni yang mengurusnya,” gumam Dion.
Ia memarkirkan mobilnya setelah tiba di hotel tersebut. Sebelum ia naik ke atas, dimana kamarnya berada, ia lebih dulu menuju ke meja resepsionis untuk meminta kunci serep. Karena istrinya pasti sudah tidur nyenyak, sebelumnya ia juga berpesan kepada istrinya agar mengunci pintunya.
“Terima kasih,” sahut Dion ketika sudah menerima kunci tersebut.
Dion memasuki lift, sambil bersiul menunggu pintu lift itu terbuka. Setelah pintu lift terbuka, entah kenapa tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding saat melewati pintu kamar yang terbuka sebagian. Dion samar-samar mendengar seseorang pria bernyanyi dari dalam kamar tersebut.
“Ampun... aku permisi hanya lewat! aku tidak mengganggumu,” gumam Dion.
__ADS_1
“Ada apa Pak?” tanya seseorang yang tiba-tiba berada di sampingnya.
“Eh buset... kaget tahu!” ucap Dion langkahnya langsung terhenti, sambil mengelus dadanya.
“Loh... maaf Pak, jika membuat Bapak terkejut. Saya sedang membersihkan kamar. Ada apa pak?”
“Tidak... aku hanya ingin kembali ke kamarku,” sahut Dion berlalu pergi.
“Aneh,” gumam pria tersebut melihat kepergian Dion.
Dia adalah petugas kebersihan yang membersihkan kamar tersebut, karena penghuninya baru saja meninggalkan kamar tersebut.
Sesampainya di kamarnya, ia melihat sang istri sangat terlelap tidur.
Dion masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Nadia samar-samar mendengar gemercik air dari arah kamar mandi.
Ia perlahan membuka kelopak matanya, lalu duduk bersandar di bahu kasur.
“Kak Dion sudah pulang?” gumamnya sambil menguap.
Dion keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
“Kau bangun?” tanya Dion yang melihat istrinya dengan posisi duduk.
“Iya. Aku mendengar suara Kaka mandi,” sahutnya dengan suara parau khas bangun tidur.
“Maaf aku mengganggu tidur mu. Tidur lah lagi, ini baru jam dua lewat.”
Dion mengambil baju kaos dan celana boxer dari dalam kopernya dan tanpa ragu mengenakannya di depan Nadia.
Nadia langsung menutup wajahnya dengan selimut.
“Astaga... aku melihatnya dengan jelas!” gumam Nadia dari dalam selimut.
“Ti—tidak,” sahut Nadia gugup.
Dion melempar handuknya ke sofa, dan segera menyusul istrinya ke tempat tidur. Ia menarik selimut yang menutup wajah istrinya.
“Ada apa?” tanya Dion lagi.
Nadia menggelengkan kepalanya.
“Tidurlah lagi,” ucap Dion merebahkan tubuhnya di sampingnya.
Nisa juga ikut merebahkan kembali tubuhnya, ia memiringkan badannya menghadap suaminya.
Dion juga memiringkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan.
“Bagaimana dengan kak Nisa?” tanyanya.
“Sudah di temukan. Saat ini Nisa sedang berada di rumah Erwin,” sahut Dion lembut sambil mengelus pipi mulus Nadia.
“Syukurlah,” sahut Nadia bernapas lega.
“Aku tidak mengerti, kenapa ada yang tega menculiknya? Apa motif penculik tersebut?”
“Entahlah, kita lihat saja besok. Penculiknya sudah di serahkan kepada pihak polisi.”
Nadia mengangguk.
“Kau tidak bertanya keadaan suamimu ini, hah?” menatap Nadia.
“Aku yakin kakak pasti baik-baik saja. Kalau tidak, siapa yang bersama ku saat ini,” sahutnya.
__ADS_1
Dion tersenyum.
“Mendekatlah,” ucap Dion.
Nadia mengernyitkan kening bingung.
“Apa yang kau lihat? Kemarilah,” ujar Dion sambil menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
“Maaf aku meninggalkan mu di malam pertama kita.”
Nadia mengangguk, ia juga sangat mengerti.
“Ayo kita tidur, aku sungguh sangat lelah,” ucap Dion mulai memejamkan matanya, sebelum itu ia mencium kening istrinya.
“Kenapa dia malah tidur?” tanya Nadia dalam hati, menatap suaminya.
“Kenapa menatap ku seperti itu?” tanya Dion.
“Hah... bagaimana dia bisa tahu?” tanya Nadia.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Dion membuka matanya.
Ia mendekat wajahnya agar sejajar dengan wajah istrinya hingga jarak satu senti, jantung Nadia berdetak sangat kencang, bahkan Dion pun sangat jelas mendengarnya.
“Kau gugup?” tanya Dion menatapnya.
Nadia mengangguk pelan.
“Ini juga yang pertama bagiku,” bisik Dion.
Nadia menyembunyikan wajahnya yang merah merona, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kau malu?” tanya Dion menarik tangannya istrinya.
“Lihat aku,” ucap Dion menarik dagu istrinya.
Mereka saling menatap satu sama lain, semakin dekat, bahkan Nadia menutup matanya menandakan ia akan memberikan sepenuhnya malam ini kepada suaminya tersebut.
Cup ! Cup !
Dion mengecup bibir ranum istrinya dua kali.
“Tidur lah. Hari ini aku sangat lelah, mengejar penculik itu lebih susah ternyata! tidak bisa ku bayangkan bagaimana bisa polisi seperti terlihat mudah menangkap pencuri di luar sana,” ucap Dion lembut.
“Maafkan aku,” ucap Dion lagi mengelus lembut pipinya, terlihat matanya yang sayu dan kemerahan menahan kantuknya.
“Iya. Istirahatlah,” sahut istrinya lembut.
Dion tersenyum, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya. Dimalam pertama mereka, tidak ada kegiatan yang mereka lakukan layak seperti suami pada umumnya.
Nadia menarik selimut, untuk menutupi sebagian tubuh mereka.
“Bersama mu saat ini adalah kebahagiaan terbesar bagiku, Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, sayang,” ucap Nadia dalam hati.
Menatap suaminya yang terlihat tidur dengan napas yang beraturan, terdengar dengkuran kecil dari mulut suaminya tersebut.
“Selamat malam kak,” ucapnya pelan, lalu kembali masuk ke dalam pelukan suaminya.
.
.
.
__ADS_1