
“Siapa dia? Sepertinya kalian sangat mengenalnya?” sela Erwin yang juga penasaran.
“Dia adalah mantan karyawan di kantor, orang sangat di percayai setelah Pak Zaky. Namun, ia terbukti melakukan penyalahgunaan uang perusahaan,” tutur Nisa menjelaskan.
Erwin mengangguk mengerti.
“Sepertinya dia sangat membenci kalian, hingga begitu nekat menculikmu!”
“Entahlah...” sahut Nisa.
“Maafkan saya nona, ini semua salah saya. Sebenarnya saya hanya ingin memberinya pelajaran, saya tidak tahu jika Andi senekat itu.”
“Memangnya apa yang kamu lakukan? Andi pernah bilang, jika anak dan istrinya menangis karena kelaparan! Apa semua ini ada hubungannya?” tanya Nisa penuh selidik.
“Maafkan saya Nona,” sahut Toni merasa bersalah.
“Astaga Toni. Jika kau ingin menghukum seseorang atas perbuatannya, hukum saja dia tapi tidak dengan keluarganya. Mereka tidak mengerti apapun, astaga...!” Nisa menghela napas berat.
Ia begitu kesal terhadap Toni saat ini.
“Sekali lagi saya minta maaf Nona.”
Toni menunduk karena merasa sangat bersalah.
“Bagaimana dengan Andi sekarang?” Tanya Nisa lagi.
“Saat ini sudah di tangani polisi, saya menyerahkan semuanya kepada pihak kepolisian.”
“Biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi, sekarang jangan biarkan keluarganya kelaparan. Aku harap kamu mengerti, aku tidak mau mengulang pembicaraanku lagi,” Tegas Nisa.
“Iya Nona.”
Tanpa mereka sadari, jika nenek Dira sejak tadi mendengar jelas percakapan mereka dari luar ruangan.
Nenek segera pergi dari pintu tersebut, setelah mendengar Nisa berpamitan.
“Aku permisi,” pamit Nisa beranjak dari duduknya.
Erwin dan Toni mengangguk.
Disaat itu Erwin juga ingin pergi dari ruangan tersebut, akan tetapi di tahan oleh Toni.
“Tuan, berhati-hatilah dengan mantan kekasih Tuan!”
Erwin mengernyit heran.
“Maksudnya? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?”
Toni melihat pintu yang sedikit terbuka, sebelum melanjutkan pembicaraannya, Toni lebih dulu menutup pintu.
“Aku hanya ingin mengingat Tuan Erwin, jika berhati-hatilah dengan mantan kekasih Tuan! Yaitu Miranda,” ujar Toni kembali memberikan peringatan.
“Ada apa dengannya?”
“Entahlah... aku hanya mencurigainya saja. Aku merasakan jika wanita itu punya niat jahat.”
“Bagaimana kau bisa tahu? Eh... memang seminggu yang lalu, Miranda ke kantorku. Ia bekerja sebagai asisten dari klienku itu.”
“Anda yakin jika dia bekerja sebagai asisten? Wanita seperti dia jangan terlalu mudah di percaya,” tutur Toni.
Erwin mengangguk mengerti, waktu itu juga sahabatnya Dion pernah mengingatkannya.
“Terima kasih sudah mengingatkan ku.”
“Sama-sama Tuan. Sudah tugas saya mengingatkan Tuan. Karena anda juga sangat dekat dengan Reyhan, itu tugas saya untuk melindungi kalian semua. Tapi...” Toni menggantungkan ucapannya.
“Tapi apa?” tanya Erwin penasaran.
“Tapi saya gagal melindungi Nona Nisa kemarin. Hingga dia culik oleh Andi, aku benar-benar mengutuk diriku sendiri.”
“Manusia wajar melakukan kesalahan, kita hanya manusia biasa. Tapi, lain kali lebih hati-hati lagi.”
Toni mengangguk.
“Ke depannya saya akan lebih berhati-hati lagi, Tuan.”
__ADS_1
Erwin berdiri menepuk pelan bahu Erwin, memberinya semangat.
“Aku percaya kepadamu. Melihat caramu melindungi Nisa kemarin, aku yakin kau orang yang sangat baik, jujur dan bertanggung jawab. Tak salah, jika nenek sangat mempercayaimu,” tutur Erwin.
“Terima kasih Tuan.”
Erwin hendak melangkah keluar, Toni kembali memanggilnya.
“Tuan,” panggil Toni.
“Iya, ada apa? Apa ada yang perlu aku bantu?”
“Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu Tuan Erwin,” ucap Toni tampak ragu mengucapkannya.
Erwin kembali melangkah menuju kursi yang ia duduki sebelumnya, Toni beranjak dari duduknya untuk mengunci pintu terlebih dahulu.
“Ada apa?” tanya Erwin yang mengernyit heran, melihat Toni mengunci pintu.
“Aku tidak tahu, ini asli atau hanya penglihatanku yang mulai menurun!”
“Saat menuju kemari pagi ini, aku tidak sengaja bertemu dengan Miranda...!”
“Lalu?”
“Saat di lampu merah, aku melihat pria yang bersama Miranda Tuan!”
“Siapa pria itu? Oh... mungkin pria yang kau maksud adalah, pria tersebut adalah bos yang bersama ke kantor ku Minggu lalu.”
“Tidak Tuan. Pria tersebut sangat mirip dengan Tuan Bara, hampir tidak ada celah. Mereka begitu sangat akrab berbicara di mobil tadi pagi!”
Erwin kembali mengernyit keningnya heran, bagaimana bisa Bara hidup kembali, sementara ia ikut memakamkan jenazah Bara.
“Bara? Mungkin saja kau salah lihat, atau hanya sedikit mirip. Bara tidak mungkin hidup kembali,” tutur Erwin.
“Semoga saja yang ku lihat itu hanya mirip saja. Aku hanya takut, jika Miranda memanfaatkan wajah pria tersebut.”
“Aku satu pemikiran denganmu!”
“Bagaimana jika Miranda mengusik kehidupan Nona Nisa? Semua orang sudah tahu, jika nona Nisa adalah cucu dari pemilik perusahaan yang cukup terkenal.”
Ia juga tidak mau jika Miranda mengusik kehidupan wanita yang ia kagumi sejak dulu.
“Baiklah. Untuk sementara, rahasiakan ini dari Nisa dan Nenek. Ini belum terbukti, kita harus memastikannya terlebih dahulu.”
“Iya Tuan.”
“Aku permisi. Aku ingin menemui Reyhan sebentar,” pamit Erwin.
Toni mengangguk, melihat kepergian Erwin ia menghela napas berat.
“Selesai masalah lain, masalah satu lagi muncul,” gumam Toni.
Setelah keluar dari ruang kerja Nisa, Erwin memasuki kamar bocah tersebut. Ternyata di dalam kamar tersebut, Erwin tidak menemukan Reyhan.
“Dimana dia?” gumam Erwin.
Ia kembali keluar kamar tersebut, saat melintasi kamar Nisa. Reyhan ternyata ada di dalam kamar tersebut, Reyhan memegang sebuah bingkai foto.
Foto tersebut, adalah foto pernikahan Nisa dan Bara saat dulu.
“Reyhan,” panggil Erwin.
Reyhan menoleh ke sumber suara, lalu kembali menatap foto tersebut. Erwin sempat terkejut melihat foto itu berada di tangan Reyhan.
“Pa, ini foto siapa? Wanita ini sangat mirip dengan Mama? Terus ini siapa?” tanya Reyhan menunjuk pria yang ada di dalam foto tersebut.
“Dimana Reyhan menemukan foto ini?” tanya Erwin.
“Disitu. Reyhan tadi mencari mainan robot Reyhan.”
Erwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Pa, ini Mama kan?”
“Apa yang sedang kalian lakukan di kamar ku?” tanya Nisa menatap mereka yang duduk di lantai.
__ADS_1
“Ma, ini foto Mama kan? Ini siapa Ma?” tanya Reyhan dengan polosnya menghampiri Nisa yang baru saja masuk ke kamar.
Langkah Nisa terhenti, melihat Reyhan menunjuk foto Bara. Erwin dan Nisa sejenak saling bertatapan, Erwin mengangguk pelan, Erwin mengerti apa yang ada di pikiran Nisa saat ini.
Nisa menghela napas, ia berpikir jika saat ini ia harus menceritakan kepada Reyhan, siapa Ayahnya yang sebenarnya.
“Kemari. Duduk bersama Mama dan Papa disini, Mama akan memberitahu, pria yang ada bersama Mama di foto itu.”
Reyhan mengangguk patuh, ia melangkah mendekati Nisa yang duduk di sofa, Erwin juga duduk di sofa bersama dengan mereka.
Nisa mengambil bingkai foto tersebut dari tangan Reyhan, lalu mengambil tisu untuk membersihkan bingkai tersebut, karena sedikit berdebu.
“Ini adalah foto Papanya Reyhan.”
Nisa terdiam sejenak, melihat ekspresi putranya tersebut.
“Hah? Papanya Reyhan?”
Reyhan menatap Erwin sejenak, lalu kembali menatap foto tersebut.
“Tapi, kok gak mirip Ma?” tanya Reyhan lagi.
Nisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung menjelaskan kepada putranya.
“Biar aku saja,” sela Erwin mengerti dengan kebingungan Nisa.
“Sayang, sebenarnya Papanya Reyhan ada dua sayang. Ini namanya Papa Bara!” tutur Erwin menunjuk foto tersebut.
“Wah, Papanya Reyhan ada dua yah Pa?” tanyanya antusias menunjukkan dua jarinya.
Erwin mengangguk.
“Iya, sayang.”
Nisa melihat Erwin yang begitu sabar menjelaskan kepada putranya tersebut.
“Tapi... dimana Papa Bara? Rey tidak pernah melihatnya?”
“Reyhan ingin bertemu Papa Bara?” tanya Erwin.
Reyhan mengangguk.
“Besok sore Papa akan mengajakmu bertemu dengan Papa Bara, oke?”
Reyhan mengangguk lagi, dengan antusias di iringi dengan senyumannya.
“Baiklah. Papa pergi dulu ya! Besok Papa akan menjemputmu,” pamit Erwin.
Reyhan mengangguk.
“Mama juga ikut, besok?”
Erwin melihat Nisa, agar menjawab pertanyaan putranya.
“Iya sayang. Mama usahakan besok ikut bersama kalian,” sahut Nisa mengusap lembut kepala putranya.
Reyhan dan Nisa mengantar Erwin hingga ke teras rumah.
“Hati-hati dijalan,” tutur Nisa melihat Erwin yang sudah masuk ke dalam mobil.
“Kalian juga. Jaga diri baik-baik, untuk berapa hari ini, jangan pergi ke kantor dulu!”
Nisa mengangguk, membuat Erwin tersenyum simpul.
“Dadah Papa...”
Reyhan melambaikan tangannya, kepada Erwin.
“Dah sayang...”
Erwin pun membalas lambaian tangan bocah tersebut.
.
.
__ADS_1
.