
Bara seperti enggan untuk melepaskan penyatuan mereka, setelah mereka menyelesaikan puncak surga dunia masing-masing.
Tentu nya dengan sedikit drama oleh istrinya, yang merasa kesakitan ketika hendak mulai penyatuan.
Karena Nisa benar-benar merasakan sakit yang luar biasa, mungkin karena ini yang pertama baginya. Dengan keahlian Bara, hingga membuat mereka sama -sama menikmatinya.
Setelah selesai, Bara masih bertahan di atas tubuh mulus istrinya. Nisa sedikit memberontak, agar suaminya turun dari atas tubuhnya. Akan tetapi, tidak di hiraukan olehnya. Bara memandang mimik wajah istrinya, membuat sang pemilik bersemu merah dan memalingkan wajahnya.
“Ini yang pertama kalinya untukmu?” pertanyaan Bara membuat Nisa memicingkan matanya.
“Tentu saja!” ketus Nisa.
“Aku hanya bertanya! serius sekali,” ucap Bara terkekeh.
Bara perlahan melepaskan penyatuan mereka, mengingat olahraga raga yang mereka baru lakukan. Olahraga malam membuat mereka berkeringat sekaligus mengenakkan.
“Aw, pelan-pelan mas. Sakit!” desis Nisa merasakan nyeri di bawah pangkal pahanya.
“Maaf,” lirih Bara ketika sudah berhasil melepaskan penyatuannya.
“Kalau pertama memang sakit sayang, besok-besok tidak akan sakit lagi.”
“Hm,” deham Nisa dengan mata yang masih tertutup..
“Kamu marah? Maafkan aku jika membuatmu kesakitan,” ucap Bara merasa bersalah.
“Enggak mas,” sahut Nisa lembut.
Nisa membuka matanya, terlihat Bara memandangi dirinya tanpa henti.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
Bara menggelengkan kepalanya, Bara menarik selimut, untuk menutupi tubuh polos mereka. Ia mencium sekilas bibir istrinya dan menarik ke dalam pelukannya.
“Terima kasih telah menjaganya untukku,” bisik Bara merasa terharu.
Karena mendapati istrinya yang masih utuh dan bersegel.
“Iya,” sahut Nisa dari dalam pelukan suaminya.
“Sayang,” panggil Bara.
“Hm,” deham Nisa masih pelukan suaminya.
“Apa kau sudah mau tidur?” tanya Bara mengelus rambut halus istrinya.
“Ada apa mas?”
“Dengarkan aku baik-baik.”
Nisa mendongakkan kepalanya, menghadap suaminya.
“Ada apa? Sepertinya sangat serius!”
“Jika terjadi sesuatu denganku nanti, aku minta jangan pernah kau menjual rumah ini sayang. Rumah ini atas namamu, dan rumah ini kuhadiahkan untukmu.”
Bara menatap bola mata istrinya serius.
“Memang nya mau kemana? Seperti mau meninggal saja! memangnya sudah siap?” Gurau Nisa.
Bara terkekeh, lalu mencubit pelan hidung istrinya.
“Aku hanya memberitahumu saja,” ucap Bara.
“Jangan bicara seperti itu! Ucapan adalah doa,” tegas Nisa.
“Aku sangat berharap, kau tidak meninggalkan ku lagi,” menatap mata istrinya.
__ADS_1
Masih ada rasa bersalah yang sangat luar biasa pada dirinya, walaupun sang istri sudah memaafkannya.
“Aku merasa sangat bersalah, atas perlakuanku terhadapmu dulu,” Tambah Bara lagi.
“Memang siapa yang mau meninggalkan mu? Aku sudah melupakan semua itu, jangan mengingatnya terus mas! Semua itu sudah berlalu.”
“Aku hanya mengingatkan saja! Aku takut jika suatu saat nanti kau berubah, dan pergi bersama pria yang lebih kaya,” Tutur Bara.
“Ide bagus! Aku akan mencari pria kaya dan membuang mu ke pantai selatan,” ucap Nisa terkekeh.
“Berani nya kau!” seru Bara menggapit kedua pipi istrinya dengan tangannya. Namun, tidak membuat Nisa sakit.
“Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan mu. Jadi, jangan yang pernah berpikir yang bukan-bukan!”
“Maafkan aku,” tutur Bara.
Ia mencium lagi pipi istrinya.
“Ayo tidur! Ini sudah jam tiga pagi. Kau sejak tadi banyak bicara!”
Menarik ke dalam pelukannya.
“Bukan kah dirimu yang banyak bicara! Aku sudah mulai terlelap, tapi kamu membangunkan ku,” protes Nisa.
“Sudah diam lah! Atau kau mau mengulang lagi aktivitas yang baru saja kita lakukan,” goda Bara.
Dengan cepat Nisa menggelengkan kepalanya.
“Tidak, ini saja masih terasa sangat sakit,” protes Nisa.
“Tapi kau menikmatinya kan? Kau berteriak begitu nyaring. Bagaimana? kau sangat menikmatinya kan,” goda Bara memainkan kedua alis nya.
“Banyak bicara!” ujar Nisa menirukan gaya suaminya berbicara.
“Dasar aneh!” gerutu Nisa di dalam pelukan suaminya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mimpi, dalam keadaan saling berpelukan.
***
Berbeda dengan dua orang ini, Erwin masih terjaga duduk di balkon kamarnya.
Erwin memandangi ke arah kamar Nisa, dengan lampunya yang masih menyala.
“Kamu ngapain sih?” tanya Dion yang datang dari arah belakang.
Dion menginap di rumah sahabatnya, karena mereka besok mereka akan pergi ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama.
“Kau belum tidur?” tanya Erwin melirik sahabatnya duduk di sebelahnya.
“Seharusnya pertanyaan itu untukmu! Bagaimana aku bisa tidur, pintu ini terbuka lebar. Banyak hewan vampir yang ingin menghisap darah manisku!” protes Dion.
“Hewan Vampir?” tanya Erwin bingung.
“Nyamuk, bodoh!” geram Dion.
“Sialan kau! Kenapa kau tidak tidur di kamar tamu saja?”
“Kau itu tidur seperti orang mati! Kalau aku tidak tidur di kamarmu, kau tidak akan bangun! Mesti menggedor pintu kamarmu hingga kuncinya lepas, kau tetap tidak bangun!” ketus Dion.
“Aku curiga, ibumu dulu minum obat tidur berlebih. Jadi, efeknya ke kamu!” ucap Dion terkekeh.
Erwin hanya tersenyum, mendengar gurau sahabatnya itu.
Hening sejenak, lalu Dion membuka obrolan lagi.
“Apa yang kau lakukan disini? Bukan kah kita akan berangkat besok pagi, kau tidak lupakan?”
__ADS_1
Erwin menggelengkan kepalanya. Mata Dion mengikuti arah mata Erwin yang sedang memandangi kamar Nisa.
“Itu bukannya rumah Nisa?” Batin Dion.
“Kau sedang memandangi kamar Nisa, bukan? Itu kan rumah nya Nisa.”
“Move on dong! Kau masih mengharapkan dia?” tanya Dion penuh selidik.
Erwin hanya diam, tanpa ingin membalas pertanyaan sahabatnya.
“Sekarang Nisa sedang apa ya?” lirih Erwin.
“Sedang bercinta di atas ranjang!” jawab Dion asal.
karena merasa sangat kesal dengan sahabatnya ini.
“Dasar tidak waras!” gerutu Dion.
“Cepat masuk! Kau ini sudah menjadi gila, karena wanita yang sudah bersuami! Apa kau benar-benar ingin menjadi pebinor, hah?,” geram Dion menarik tangan sahabatnya paksa.
“Sadar, Erwin! Sadar! Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi sekarang,” tambahnya lagi.
Dion menutup kasar pintu balkon dan menguncinya.
“Sekarang fokus dengan pekerjaan, ini proyek besar! Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini, kau paham!” ujar Dion yang masih kesal terhadap sahabatnya.
Erwin seperti tersadar dengan lamunannya, melihat sekelilingnya.
“Aku di kamar? Kapan aku masuk?” tanya kepada Dion yang menatapnya dengan tajam.
“Kau memang sudah tidak waras!” gerutu Dion.
Ia ke dapur mengambil air putih untuk sahabatnya, di balik kesal terhadap sahabatnya. Ia juga sangat kasihan, melihat Erwin seperti terpuruk.
“Ini minum lah!” menyerahkan gelas berisi air putih.
“Apa ini?” mengerutkan keningnya.
“Itu kopi berisi sianida! Memangnya kau lihat apa? Tentu saja air putih!” kesal Dion.
“Kenapa kau jadi marah-marah? Seperti ibu-ibu saat tanggal tua,” ledek Erwin.
Erwin mengambil gelas di tangan Dion lalu meminumnya hingga habis.
“Ku sarankan, kau jual saja rumah ini,” saran Dion mulai naik ke atas ranjang.
“Tidak akan!” ketus Erwin.
Ia berbaring di samping sahabatnya.
“Kalau kau tidak mau, aku akan menceritakan semuanya kepada ayahmu! Kalau kau beberapa bulan tidak pernah masuk kantor, sekarang kau mengejar istri orang dan ingin merebutnya!” ancam Dion.
Lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Sialan kau!” seru Erwin.
“Iya baiklah, aku akan pindah rumah dan kembali ke rumahku. Tapi,...” Erwin menggantungkan ucapannya.
“Apa?” Dion kembali membuka selimutnya.
“Jangan suruh aku melupakan Nisa, karena tidak semudah itu melupakannya,” ucap Erwin.
“Terserah kau saja! Memang kau sudah tidak waras sekarang!” gerutu Dion masuk kembali ke dalam selimut tanpa menghiraukan ucapan sahabatnya lagi.
.
.
__ADS_1
.