
Pagi menjelang, terdengar kicauan halus burung-burung di balik jendela.
Nisa menggeliat dari selimut, membuka mata nya kamar yang terlihat asing baginya.
Nisa baru menyadari nya, bahwa dirinya sudah menikah. Namun pernikahan demi menebus sertifikat rumah, lalu menikah dengan pria tidak ia kenal dan malam pertama pun tidak melakukan apa-apa.
“Huft.., sakit sekali badanku,” gumamnya duduk.
Bagaimana tidak sakit, Nisa tidur di sofa panjang dengan ukuran sebadannya.
“Sebaiknya aku cepat mandi.”
Lalu bergegas ke kamar mandi.
Ia sekilas melihat Bara yang masih dengan posisi tidur masih tengkurap.
Setelah selesai dengan urusan nya, Nisa keluar lalu memoleskan wajahnya dengan makeup tipis.
Ia hendak membangunkan suaminya, namun ragu-ragu.
“Biarkan saja, nanti aku salah lagi! Tapi..., aku coba saja, tidak salahnya mencoba,” ucap nya menggantung.
“Tuan..,” panggil nya pelan. Ia ragu-ragu memegang bahu nya.
Namun, tidak ada pergerakan darinya.
“Sudah lah, mungkin dia akan bangun sendiri.” Berlalu pergi.
“Nona sudah bangun?”
“Iya Bu,” sahut nya ramah.
“Saya bantuin ya Bu?”
“Jangan nona, nanti tuan besar marah,”
“Gak apa-apa Bu, ini kan sudah tugas saya sebagai menantu.”
Pelayan tersebut akhirnya mengalah dan membiarkan Nisa membantunya.
“Bi, saya mau tanya? Boleh gak?”
“Kenapa harus minta ijin Nona? Tanya kan saja, semoga saya bisa menjawabnya,” sahutnya ramah.
“I—itu Bi? Makanan kesukaan mertua saya dan su—suami saya itu apa?” tanya Nisa terbata, apalagi menyebutnya dengan panggilan suami.
Bi Minah tersenyum simpul, melihat Nisa terlihat gugup.
“Simpel saja nona.”
Bi Minah memberitahukan nya, Nisa tersenyum mendengar penjelasan Bi Minah.
“Hei, kamu! Naik!” teriak Bara dari arah belakang. Membuat Nisa dan Bi Minah menoleh ke belakang.
“I—iya.”
Nisa bergegas naik menuju kamar, mengikuti Bara.
Bi Minah heran melihat Bara dengan berteriak memanggil istrinya, namun ia tak mau ikut campur.
“Ada apa Tuan?” tanya pelan.
Ia seperti bersikap biasa saja namun, jantung nya berdetak kencang seperti sehabis lari maraton.
__ADS_1
“Bereskan ini!” perintah nya menunjuk ada beberapa botol minum yang kosong berserakan.
Seperti kerbau di cocok hidung nya, Nisa menurut dengan segera membersihkan nya. Namun, tak lepas dari tatapan tajam Bara.
Bara melangkah mendekati nya, lalu menarik tubuhnya agar berhadapan dengannya.
“Ingat baik-baik! Hal ini ayah tidak boleh tahu, paham!!” ucapnya dengan mencengkeram dagu Nisa kuat.
“Iya,” lirih Nisa.
“Bagus,” ucap nya sumringah. Ia melepaskan cengkeramannya lalu dengan tiba-tiba bibir nya mendarat di leher mulus Nisa, meninggalkan jejak disana.
Nisa bersusah payah mendorong nya, hingga akhirnya terlepas.
“Aku bisa menerima perlakuan kasar mu! Tapi jangan bersikap kurang ajar kepadaku!” geram Nisa menatap nya dengan tajam.
“Dasar bodoh! Siapa yang kurang ajar kepada mu? Tanda ini agar tidak ada yang curiga, bodoh!!”
“Turunkan pandangan mu itu! Atau mau ku keluarkan biji mata mu itu,” kesalnya.
“Pergi kau dari sini, buatkan aku sarapan!” bentak nya lagi.
Bara bergegas masuk ke kamar mandi, meninggalkan Nisa yang masih mematung masih menahan emosi atas perlakuan Bara.
“Sialan, aku akan membuat mu pergi dari rumah ini! Dasar hama pengganggu,” umpat Bara di kamar mandi.
Nisa segera menghapus air matanya, yang lolos begitu saja.
lalu turun mengambil sarapan untuk di bawa ke kamar.
“Apa Bara sudah bangun?” tanya pak Burhan yang tiba di belakangnya.
“Sudah yah, masih mandi. Ini Nisa mau membawa kan sarapan untuk nya ke kamar.”
“Iya ayah, nanti Nisa sampaikan. Nisa permisi ya,” pamit nya.
Setalah menyiapkan sarapan Bara, ia juga menyiapkan sarapan untuk mertuanya.
“Tunggu!”
“Apa Bara memperlakukan mu dengan baik?” pertanyaan ayah mertua nya, membuat Nisa mematung.
Ingin rasanya ia mengadu, namun itu semua mustahil baginya.
“Mas Bara memperlakukan ku dengan sangat baik ayah,” sahut nya sambil tersenyum.
“Aku permisi ayah,” Pak Burhan mengangguk, tanpa sengaja melihat leher Nisa sedikit kemerahan.
“Semoga cepat dapat pewaris, usia ku kini sudah tidak muda lagi!” gumamnya sambil tersenyum.
Lalu melanjutkan sarapan nya dengan tenang.
Ceklek, bersamaan dengan Bara yang baru saja keluar kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Seketika Nisa langsung membalikkan badannya.
“Hei, kenapa kamu membalikkan tubuh mu? Bukan kau sudah sering melihat nya di luar sana!”
Tanpa mempedulikan ucapan Bara, Nisa meletakkan sarapannya di meja.
Bara berjalan mendekati tempat duduknya, dan mulai memakan sarapannya.
“Hei kamu, ambil kan pakaianku berwarna navy! Kau tahu warna navy kan?” Nisa mengangguk dengan cepat untuk mengambil baju Bara. Namun, saat membuka lemari tidak menemukan setelan berwarna navy.
“Tuan, tiada ada warna navy disini.”
__ADS_1
“Dasar wanita bodoh! mencari pakaian warna navy saja tidak bisa,” kesalnya.
Lalu berjalan menghampiri Nisa dengan amarah.
“Minggir, begitu saja kamu tidak becus!” bentak nya.
Nisa memundurkan langkah nya, melihat Bara yang sibuk mencari pakaiannya.
“Ini apa? Mencari itu saja tidak bisa,” bentaknya.
Nisa mengerutkan kening, melihat baju yang di pegang oleh Bara. “Bukan kah itu warna hitam?” tanya Nisa mengulum senyumnya.
Bara melihat kembali baju yang ia pegang, dan benar saja baju tersebut berwarna hitam.
“Diam kau, minggir!” dorong Bara hingga membuat tubuh kecil Nisa terjatuh dalam posisi duduk.
“Aw...,” Nisa meringis memegang bokongnya. Bara berjalan melewati Nisa tanpa berniat menolongnya.
“Dasar manusia tidak waras,” umpat Nisa dalam hati.
“Apa sekarang kau mengumpati ku?”
“Hah? Bagaimana dia tahu?” pikir Nisa.
“Ti—tidak tuan.”
Nisa mencoba berdiri dari duduknya.
“Tuan, tadi ayah meminta anda untuk menemuinya di kamar,” ucap Nisa.
“Hhmm.”
“Aku permisi,” pamit Nisa. Hendak melangkah ke pintu.
“Hei kamu!” panggil Bara.
Nisa berbalik, “ Iya.”
“Tutup mulut mu itu ya, awas saja kau mengadu ke ayah! Akan ku habisi kau hari ini juga dan ku buang mayat mu ke laut, untuk santapan ikan hiu,” ancam Bara.
Nisa bergidik ngeri mendengar ancaman Bara.
“Iya,” jawab singkat Nisa.
Lalu melanjutkan langkah nya, ia mengambil ponsel dari dalam sakunya.
“Kenapa ponsel ibu masih belum aktif?” gumamnya melihat pesan yang ia kirim hanya centang satu.
"Aku coba menghubungi telepon rumah saja," ia menekan nomor telpon rumah ibunya.
namun, hasil nya sama, nomor tidak bisa di hubungi.
"Kemana ibu?"
"Aku akan meminta ijin saja untuk ke rumah ibu," gumamnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bara menatap nya tajam.
"Tidak ada Tuan, aku hanya mencoba menghubungi ibu ku, namun....,"
"Minggir...! aku tak butuh penjelasan mu," mendorong bahu Nisa, hingga membuat nya oleng dan hampir terjatuh.
"Tuan, apa aku boleh keluar?" Bara menghentikan langkah nya, Kembali menatap nya.
__ADS_1
"Terserah."