Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 81


__ADS_3

Tiga hari sudah Bara berada di rumah sakit, di bangsal rumah sakit Bara masih terbaring lemah. Kepalanya yang tanpa rambut terbalut perban putih, sangat memprihatinkan keadaan Bara saat ini dengan tubuh yang semakin kurus.


Nisa menatap suaminya yang masih belum membuka mata, sambil mengusap perutnya yang masih rata.


“Kamu lihat nak, Ayahmu tidurnya begitu sangat pulas. Apa ayahmu tidak merasakan kehadiranmu? Hingga ia begitu lama untuk membuka matanya,” ucap Nisa tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


Berbicara dengan perut yang masih rata, seakan mendengarkan keluh kesahnya.


“Mas, bangun mas. Apa kamu tidak merindukan kami? Aku sudah tidak sabar ingin memberitahumu mas, anak kita sudah tumbuh di dalam rahimku mas.”


“Nisa,” panggil seseorang.


Suara yang sangat ia kenali, Nisa langsung menoleh ke sumber suara.


“Erwin,” lirih Nisa.


Mereka sejenak saling bertatapan, Nisa seketika tersadar dan langsung membuang wajahnya ke arah suaminya.


“Nisa, apa boleh aku masuk?” tanya Erwin yang masih berdiri di luar pintu.


Nisa terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju.


“Nis. Maafkan aku, aku baru mengetahui ini.”


Erwin berdiri di samping Nisa duduk, melihat Bara yang terbaring dengan mata tertutup.


“Kamu tidak perlu meminta maaf,” sahut Nisa tanpa mengalihkan pandangannya dari suaminya.


“Bagaimana keadaan Bara sekarang? Apa kata Dokter?”


“Keadaannya sepertinya yang kamu lihat sekarang. Dokter mengatakan jika Mas Bara positif mengidap tumor otak stadium akhir,” ucap Nisa berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.


“Sudah tiga hari Mas Bara belum juga membuka matanya,” tambahnya lagi.


“Kamu yang sabar Nis,” ucap Erwin.


Erwin bingung harus mengatakan apa, pasalnya ia juga sangat prihatin dengan keadaan Bara. Walaupun mereka tidak pernah akur.


“Aku akan bicara dengan Dokter,” ucap Erwin hendak berlalu pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Nisa memanggilnya.


“Erwin.”


“Iya, ada apa? Apa kau butuh sesuatu? Apa kau sudah makan?” tanya Erwin menghujani Nisa dengan pertanyaan. Tak dapat dipungkiri, jika dirinya juga sangat mengkhawatirkan Nisa dan juga merindukannya.


“Aku hanya ingin meminta maaf, jika suamiku mempunyai salah denganmu.”


Erwin menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Bara orang baik. Apapun yang kami lakukan dulu, aku sudah melupakannya.”


Nisa tersenyum.


“Terimakasih.”


“Apa kamu sudah makan? Jangan abaikan kesehatanmu, karena saat ini Bara sedang membutuhkanmu,” ucap Erwin penuh perhatian.


“Iya. Apa aku boleh meminta sesuatu?”


“Katakan. Apapun yang kamu minta, aku akan berusaha mengabulkannya.”


“Jangan berlebihan!” seru Nisa.


“Aku serius,” ucap Erwin.


“Aku ingin sekali makan gado-gado dan batagor. Apa kamu mau membelikannya untukku?”


Erwin mengerutkan keningnya heran, ia tahu betul jika Nisa tidak menyukai saus kacang.


“Gado-gado? Bukankah kamu tidak menyukai kacang!”


“Tidak boleh ya?” ucapnya dengan wajah sedih.


“Tidak, bukan begitu. Aku akan membelikannya, kamu tunggu ya,” ucap Erwin.


“Terimakasih.”


“Iya. Aku akan ke ruangan Dokter terlebih dahulu, setelah itu aku akan membelikannya untukmu. Kamu senang sekarang?”


“Iya,” sahut Nisa mengangguk tersenyum.


Erwin keluar dengan wajah yang berseri, enam bulan lamanya ia tak melihat wajah Nisa dan untuk pertama kalinya Nisa tersenyum kepadanya setelah kejadian beberapa bulan lalu.


Ia menemui Dokter yang menangani Bara, karena rumah sakit ini milik Pamannya sendiri yaitu Ayahnya Nadia dan ia pun ikut menanam saham di rumah sakit tersebut.


“Selamat pagi menjelang siang Dok,” sapa Erwin yang kebetulan pintu tersebut tidak tertutup rapat.


“Oh Pak Erwin. Selamat siang pak Erwin,” sahut Dokter tersebut langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Apa kabar Pak Erwin? Cukup lama anda tidak berkunjung ke rumah sakit.”


“Kabar baik. Saya baru kembali tiga hari yang lalu dari singapura,” sahut Erwin.


Mereka kembali duduk di kursi.


“Kedatangan saya kesini, ingin bertanya tentang pasien yang sedang di rawat di ruangan ICU. Pasien yang mengidap tumor otak.”

__ADS_1


“Pasien yang bernama Bara Tanu Wijaya?”


Erwin mengangguk.


“Iya pak Erwin. Pasien mengidap penyakit tumor otak dan ini sudah sangat serius.”


“Apa tidak bisa disembuhkan? Aku akan membawanya ke luar negeri, jika rumah sakit ini tak mempunyai alat yang canggih.”


“Bukan begitu Pak. Ini sudah sangat terlambat, tidak bisa di sembuhkan lagi. Operasi ini hanya menghambat pertumbuhan dan penyebaran kanker tersebut.”


“Saya tidak mendahului tuhan, kemungkinan umurnya hanya bisa bertahan 12 bulan hingga 14 bulan.”


Erwin membulatkan matanya.


“Separah itu?”


“Iya Pak.”


“Apa istrinya mengetahui ini?”


Dokter menggelengkan kepala.


“Saya ingin memberitahu istrinya. Akan tetapi, saat ini istrinya sedang mengandung, saya takut akan mempengaruhi kandungannya. Karena sebelumnya ia sempat pingsan.”


“Apa?! Mengandung. Nisa hamil?”


“Iya pak,” sahutnya.


“Pantes Nisa meminta makanan yang ia tidak sukai, ternyata dia sedang mengidam,” gumam Erwin.


“Ada apa Pak?”


“Tapi Nisa harus mengetahui hal ini kan.”


“Kami pasti akan memberitahunya, tapi tidak sekarang. Tunggu Pak Bara sudah sadar dan kondisinya mulai stabil.”


“Baik Dok. Terimakasih waktunya, lakukan yang terbaik untuk pasien ini. Aku yang akan menanggung semua biayanya.”


“Iya Pak, kami usahakan.”


Mereka saling berjabat tangan, Erwin keluar dari ruangan tersebut.


“Sungguh malang nasibmu Bara,” gumam Erwin begitu prihatin dengan nasibnya, sambil melangkahkan kakinya menuju dimana mobilnya terparkir.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2