Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 31


__ADS_3

“Apa yang kalian ributkan?” Tanya seorang perempuan yang berdiri di ambang pintu.


Bara dan Erwin menoleh ke arah suara tersebut.


“Mohon kerja sama nya pak, jangan membuat keributan! Pasien sedang beristirahat.”


“Maaf,” ucap Erwin dan Bara bersamaan.


Perawat tersebut kembali menutup pintu. Saat hendak melintas tanpa sengaja perawat tersebut mendengar keributan.


“Kau pulang lah, aku akan menjaga istri ku,” ucap Bara pelan.


“Tidak, aku akan menunggu Nisa disini. Aku tidak percaya sama sekali dengan mu!”


“terserah!” ketus Bara.


“Dasar keras kepala,” gerutu Bara dalam hati.


Bara bersandar di kursi tempat duduk nya, namun membelakangi Erwin. Ia memandang wajah istrinya yang masih terlihat pucat, ia merasa sangat bersalah.


Sementara Erwin membuka ponsel nya, sambil memeriksa email yang masuk.


***


Di pagi hari, Nisa mulai membuka matanya. Ingin menggerakkan tangan, namun terasa berat.


Ia hendak menarik tangan nya yang terasa kebas, namun di urungkan nya ketika melihat Bara begitu pulas tidur.


“Kasihan, pasti sangat sakit tidur seperti itu,” gumam Nisa dalam hati.


Saat mengalihkan pandangan nya, Nisa melihat seseorang yang tidur di sofa.


“Erwin, dia ada disini juga?”


Karena merasa ada pergerakan, Bara membuka matanya. Mereka saling bertatapan sejenak, Nisa langsung memalingkan wajah nya ke arah lain.


“Kau sudah bangun? Maaf aku tertidur di lengan mu, pasti sangat sakit ya?” ucap Bara memijat pelan tangan istrinya.


“Ti-tidak! maksud ku tangan ku tidak apa-apa,” ucap Nisa gugup.


Karena baru pertama kali nya, Bara menyentuh tangan nya dengan lembut.


“Nis...,” panggil Erwin. Yang baru saja membuka mata nya.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Erwin. Berjalan menghampiri dirinya.


“Iya, aku baik-baik saja.”


Nisa perlahan duduk, saat Bara ingin membantu nya namun di tolak oleh Nisa.


“Syukur lah, jika terjadi sesuatu dengan mu, aku tidak akan mengampuni nya!” menunjuk Bara.


Melihat ancaman Erwin, Bara hanya tersenyum kecut.


“Ini masih pagi, jangan memancing ku!” ketus Bara berlalu pergi untuk masuk ke kamar mandi.


“Apa ada yang sakit?” tanya Erwin hendak menyentuh pipi Nisa.


Namun, Nisa sedikit menjauhkan wajah nya, Karena kurang nyaman di sentuh oleh Erwin.


“Aku sudah sehat,” ucap nya tersenyum simpul.


“Hem, baiklah, aku percaya,” ucap Erwin tersenyum mengusap rambut Nisa pelan.


Pintu terbuka, petugas rumah sakit membawakan nampan yang berisi makanan.

__ADS_1


“Permisi pak, Bu.”


Petugas meletakkan makan di meja.


“Terima kasih banyak Bu,” ucap Nisa sambil tersenyum.


“Sama-sama,” sahut nya.


Setelah kepergian petugas rumah sakit, Erwin mengambil makanan, bermaksud ingin menyuapi Nisa.


“Cepat! Habiskan sarapan mu. Setelah itu minum obat,” ucap Erwin sambil membuka penutup makanan.


“Nanti saja, aku harus cuci muka terlebih dahulu,” tolak Nisa dengan wajah memelas.


“Hm, baiklah.”


“Permisi nona, kami ingin memeriksa tekanan darah nona,” ucap perawat yang baru saja masuk.


“Iya, silahkan,” sahut Nisa lembut.


“Sudah normal ya, hari sudah boleh pulang. Ini resep tambahan dari Dokter, silahkan di tebus ke apotek yang di depan ya. Oh ya, antibiotik nya harus di habiskan ya nona,” ucap perawat dengan lembut. Sambil melepaskan selang infus di tangan Nisa.


“Iya, terima kasih,” sahut Erwin dan Nisa bersamaan.


Setelah kepergian perawat, Erwin mengambil resep tersebut.


“Aku mengambil obat mu, jangan lupa habis kan sarapan mu!”


Nisa mengangguk patuh.


Erwin mengambil dompet nya, sebelumnya ia letakkan di meja lalu bergegas pergi.


“Aku merasa sangat canggung, di jaga dua lelaki disini! Hufft..,” ujar Nisa sambil membuang napas kasar.


“Kau bicara dengan siapa?” tanya Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Kemana si cunguk itu? Apa dia sudah pulang? Tapi, bagus lah, aku sudah muak melihat wajah nya!” ucap nya sambil tersenyum.


“Kenapa kau belum sarapan?” tanya Bara melihat makanan yang di pegang oleh Nisa masih utuh.


“Emm i-itu, aku ingin ke kamar mandi,” lirih Nisa.


“Oh, sini aku bantu.”


“Ta-tapi...!”


“Tapi apa? Kenapa kau terlihat gugup?”


“Aku tidak gugup, hanya saja aku...,”


“Aku apa? Kenapa kamu bicara setengah-setengah sih?” kesal Bara.


“Tidak ada! aku bisa sendiri,” ucap Nisa.


Perlahan ia berjalan dengan kaki pincang, tak tega melihat istri nya. Bara langsung mengendong istri nya hingga ke dalam toilet.


“Sudah, sudah turunkan aku!” kesal Nisa.


“Aku hanya ingin membantu mu, bukan membunuh mu!”


“Iya, sekarang keluar lah,” perintah Nisa.


Bara keluar dan menunggu Nisa di luar kamar mandi. Beberapa menit, Nisa membuka pintu terlihat Bara masih setia menunggu nya.


“Tuan masih disini?”

__ADS_1


“Iya, aku menunggu mu.”


“Kenapa menunggu ku?”


“Banyak bicara kau ini! Mau ku tumpahkan bubur panas ke mulut mu? Dan berhenti memanggil ku Tuan, sudah berapa kali aku beritahu!” kesal Bara. Tanpa menunggu lama, Bara langsung menggendong Nisa menuju ke kasur. Namun, saat Bara menggendong Nisa, bersamaan dengan Erwin membuka pintu melihat dengan jelas Nisa di gendong oleh Bara.


Ada rasa kesal, sedih, cemburu dan marah. Namun, Erwin tidak bisa melakukan apa pun.


“Kau kembali lagi? Kenapa kau tidak pulang?” ketus Bara melihat Erwin kembali lagi.


“Kau mengusirku?” ujar Erwin.


“Iya...!” Jawab Bara dengan lantang.


“Sialan kau! Aku tidak akan pergi, sebelum memastikan Nisa baik-baik saja! Aku tidak percaya sama sekali dengan mu!” ketus Erwin.


“Terserah kau!” ketus Bara.


Ia perlahan meletakkan Nisa di ranjang.


“Kalian ini, selalu saja ribut!”


“Erwin, kamu pasti lelah. Pulang dan istirahat lah, lihat wajah mu terlihat sangat lelah,” ucap Nisa lembut.


Sambil memasukkan makanan ke dalam mulut nya.


“Tidak! Aku akan mengantar mu terlebih dahulu pulang,” ucap Erwin bersikeras.


Hingga membuat Bara berdecap kesal.


“Aku sudah tidak apa-apa,” sahut Nisa.


“Kau tidak dengar?” ketus Bara.


“Tidak!” ucap Erwin.


“Ck..., dasar keras kepala,” gerutu Bara.


Erwin duduk dengan santai di sofa, tanpa mempedulikan ocehan Bara. Sambil membuka benda pipih tersebut, sesekali ia melirik Nisa.


Setelah memastikan Nisa meminum obat, mereka bersiap untuk pulang.


“Aku akan menggendong mu,” ucap Bara.


“Tidak usah, aku bisa jalan sendiri,” tolak Nisa.


“Kamu yakin?” tanya Bara.


“Iya,” sahut nya. Mereka keluar dari ruangan menuju parkiran mobil, terlihat Bara masih setia memegang tangan Nisa.


Sesampai nya di mobil, tiba-tiba Erwin melempar kunci mobil ke arah Bara.


“Hap, tangkap,” ujar Erwin melempar kunci, dengan sigap Bara menangkap nya.


“Apa ini?” Tanya Bara.


“Kau buta?” ketus Erwin.


“Aku tahu ini kunci mobil! Tapi, kenapa kau memberikan nya padaku!”


“Sudah, sudah! Kalian ini selalu ribut!” ketus Nisa.


Erwin tanpa dosa, menarik pelan tangan Nisa untuk duduk bersama nya di kursi belakang.


“Apa yang kau pikir?” tanya Erwin dengan senyum kemenangan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2