Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 104


__ADS_3

Selesai meeting, Miranda kembali ke kantor bersama Bosnya.


Sesampainya di kantor, mereka jalan beriringan menuju ruangan layaknya seperti bos dan asisten.


“Miranda, kemari!” panggil bosnya saat sudah tiba di ruangan.


Miranda datang langsung duduk di pangkuan pria tersebut.


“Aku sungguh merindukan mu, seharian penuh tidak ada memelukmu.”


Pria tersebut mendekap erat tubuh Miranda.


Setelah berhasil menguras habis harta Bara, Miranda beraksi lagi. Kali ini ia mendapatkan pria yang lebih kaya dengan alasan melamar sebagai asisten pria kaya tersebut dan sekaligus untuk teman tidur pria hidung belang tersebut.


Pria paruh baya tersebut adalah, duda beranak 3. Namun ia tak berkeinginan untuk menikahi Miranda, hanya sekadar pemuasan nafsunya saja.


“Aku juga merindukanmu,” bisik Miranda.


“Oh ya?”


Miranda mengangguk.


“Aku mau menanyakan ini waktu di mobil tadi.”


“Mau bertanya apa sayang?” tanya Miranda membenarkan posisi duduknya.


“Mm ... apa kau mengenali pengusaha muda itu? Sepertinya kau menatapnya begitu dalam, saat di ruangan meeting tadi.”


Miranda tampak gugup. Namun ia berusaha menyembunyikan kegugupannya tersebut.


“Kenapa kau diam saja? Apa sesuatu di antara kalian?”


Miranda mengangguk pelan.


“Itu hanya masa lalu. Aku hanya milikmu untuk saat ini, sayang!” ucap Miranda kembali merangkul leher pria tersebut.


Bermaksud ingin menggodanya, agar melupakan pembicaraan mereka.


“Maksudmu, kau dan Pak Erwin pernah menjalin hubungan?” tanyanya lagi.


Sebenarnya, ia sudah mengetahui tabiat Miranda, karena sebelumnya Dion memberitahunya agar berhati-hati dengan Miranda.


“Iya. Tapi, itu dulu. Sudah sangat lama.”


“Oh ya ... kenapa kalian berpisah?” tanyanya lagi penuh selidik.


Membuat Miranda mengerutkan keningnya.


“Kenapa kau begitu ingin tahu? Aku kan sudah bilang, jika dia hanya masa laluku,” protes Miranda.


“Kau mau tahu?”


“Karena dirimu, aku gagal bekerja sama dengan perusahaan mereka!” bentaknya mendorong Miranda dari pangkuannya.


Membuat Miranda hampir terjatuh, beruntung ia mampu mengimbangi tubuhnya.


“Gara-gara aku? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!” tanya Miranda menatapnya.


“Cih ... aku sudah tahu niat burukmu itu! Sekarang kau mau menipuku kan?! Jawab ...!” bentaknya mengambil pergelangan tangan Miranda memegang dengan sangat erat.

__ADS_1


“Kau ini bicara apa? Lepaskan ... sakit!”


“Tidak akan ku lepaskan! Sebelum kau mengaku!” geramnya.


“Aku sungguh tidak mengerti! Kalau kau ingin aku jujur, aku sungguh menyukaimu. Kau lihat, aku rela bekerja jadi asistenmu. Bahkan sedikit pun tidak ada niat untuk menipumu, sungguh ... aku berbicara jujur,” ucap Miranda masih berusaha melepaskan genggamnya.


“Bohong ...!”


“Terserah jika kau tidak percaya. Tapi sungguh, aku memang benar-benar menyukaimu,” tutur Miranda.


“Benarkah?”


“Iya sayang.”


Pria tersebut, melepaskan tangannya.


“Awas saja kau berbohong, aku tidak akan mengampuni mu! Dan tidak segan-segan melemparmu masuk ke dalam penjara!” ancamnya lalu meninggalkan Miranda sendiri keluar ruangannya.


“Sialan!” umpat Miranda melihat kepergian bosnya tersebut.


“Dari mana dia mengetahuinya? Aku harus waspada mulai sekarang. Kalau tidak aku akan kehilangan sumber uangku, bagaimana caraku membayar biaya rumah sakit dan kebutuhanku,” gumam Miranda sambil mengelus tangannya yang memerah akibat cengkeraman kuat bosnya tersebut.


“Dasar wanita ular! Kau pikir aku tidak tahu niat burukmu. Beruntung asisten pak Dion memberitahuku, tentang tabiat mu yang jahat itu. Tapi aku ikuti permainanmu sekarang!” gumam pria tersebut dengan menyeringai jahat, setelah keluar dari ruangannya.


***


Di tempat lain, Nenek terlihat cemas. Iya baru saja tiba di rumah, akan tetapi ia mendapatkan kabar dari Toni, jika Nisa dan Erwin tak sengaja bertemu di restoran yang sama.


“Pasti Nisa menyalahkan Erwin dalam hal ini. Bodoh! Kenapa aku mengizinkan Erwin membawa Reyhan? Pasti Reyhan bersedih lagi tidak bisa bertemu Erwin lagi. Tuhan, kenapa cucuku sekarang sangat egois?”


“Eyang putri ...” panggil Reyhan yang baru masuk ke rumah dengan wajah yang sangat gembira.


“Eh, sayang. Sepertinya ada yang sangat senang hari ini?” tanyanya melihat cicitnya yang langsung memeluknya.


“Coba ceritakan sama Eyang. Apa yang membuat Reyhan sangat senang.”


“Mmm ... Rahasia,” ucap Reyhan membuat sang Eyang menjadi gemas ingin mencubit pipinya.


Tapi, ia tak benar-benar melakukannya.


“Hm, baiklah. Sekarang Reyhan mandi, karena sudah sore.”


“Oke ... Dadah Eyang.”


Reyhan melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


“Toni. Bagaimana dengan Nisa? Kenapa kau meninggalkan mereka?”


“Nona sendiri memintaku membawa Tuan Reyhan untuk pulang Nyonya. Anda tidak perlu khawatir, tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka.”


“Bukan masalah itu. Aku hanya tidak bisa melihat Cicitku bersedih lagi, kau lihat sendirikan. Betapa bahagianya Reyhan hari ini,” ujar Nenek Dira terlihat cemas.


“Kita berdoa saja. Semoga ada jalan yang terbaik untuk mereka,” tutur Toni.


“Apa kau mempunyai rencana?”


Toni mengerutkan keningnya.


“Rencana?” tanya Toni bingung.

__ADS_1


“Rencana agar mereka bisa bersatu. Aku sangat yakin, jika Erwin itu orang yang sangat baik.”


“Aku juga yakin, Bara juga pasti tahu kalau Erwin itu orang yang baik dan tulus. Buktinya sebelum dia meninggal, Bara menitipkan Nisa dan calon anaknya kepada Erwin,” tutur nenek.


“Nenek Benar. Saat ini aku belum punya rencana, Nyonya. Tapi alangkah baiknya, Nyonya bicara dengan Nisa terlebih dahulu. Jika ini gagal, terpaksa kita harus membuat rencana agar mereka bisa bersatu,” usul Toni.


“Iya kau ada benarnya. Aku coba membujuknya lagi, demi kebahagiaan Reyhan.”


Hening sejenak.


“Apa kau tahu ... aku hari ini bersama Reyhan ke rumah Erwin.”


“Iya Nyonya. Aku tahu, kemana pun Nyonya pergi.”


“Oh iya, aku lupa. Jika kau itu banyak mata-mata.”


“Iya, itu semua demi keselamatan semua yang ada di rumah ini, Nyonya.”


“Hm ... Kau memang yang terbaik.”


“Terima kasih Nyonya.”


“Eh sampai dimana tadi? Huft ... semua ini karena dirimu! aku melupakan apa yang ingin kubicarakan!” ketus Nenek Dira.


Bukannya tersinggung, Toni malah terkekeh melihat Majikannya tersebut.


“Nyonya hari ini ke rumah Erwin,” Tutur Toni mengingatkan ucapan majikannya tersebut.


“Oh iya.”


“Aku melihat sebuah pintu di kamar Erwin. Aku tahu ... jika tindakan ku itu tidak sopan, tapi aku sangat penasaran dengan isi kamar tersebut. Aku membukanya dan ternyata ...” nenek menggantungkan ucapannya.


“Ada apa Nyonya?” tanya Toni penasaran.


Tidak ada batasan antara Toni dan nenek Dira. Bahkan Nenek menceritakan semuanya kepada Toni, karena sebelum Nisa datang, Toni lah yang selalu mengurus semua kebutuhan nenek Dira.


“Eyang ...” panggil Reyhan.


Membuat percakapan mereka kembali terhenti.


“Ada apa Sayang?” tanya Nenek Dira melihat Reyhan menuruni tangga.


“Baju ultraman yang di belikan Papa tadi mana? Reyhan mau memakai baju baru,” ucap Reyhan.


“Itu ...” ucap Nenek menunjuk Paper bag di sofa.


“Terima kasih Eyang.”


“Sama-sama sayang.”


Reyhan mengambilnya dan Kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Nenek hendak kembali bercerita, melihat Toni sudah tidak ada di sofa tersebut.


Melihat sekelilingnya, tampak Toni ada di luar rumah seperti sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.


“Huft ... sepertinya semua orang di rumah ini sangat sibuk!” gumam nenek Dira.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2