
Setelah selesai memberi makan Reyhan, Nenek tidak mendengar lagi suara Nisa menggedor pintu.
Nenek beranjak dari duduknya, ia melangkah menuju pintu tersebut dan membuka kuncinya.
Dan benar saja, tidak ada Nisa di depan pintu tersebut. Nenek keluar melihat, apakah ada cucunya ada di bawah.
Namun, di ruang tamu pun kosong, hanya ada Art yang berlalu lalang melakukan tugasnya.
Nenek kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponsel, melihat tas Nisa masih tersimpan rapi di sofa.
“Tasnya disini. Aku akan menghubungi Toni saja, pasti dia tahu kemana perginya Nisa,” gumam Nenek juga cemas.
Sebenarnya ia tidak benar-benar mengusir cucunya, karena marah ia tanpa sadar mengeluarkan kata tersebut. Akan tetapi, ia menyesal telah mengatakan itu terhadap cucunya.
“Halo, Toni.”
“Iya Nyonya,” sahut Toni.
“Apa Nisa ada di kantor?” tanya Nenek dengan suara cemas.
“Tidak Nyonya.”
“Kau pasti tahu kemana perginya Nisa kan?”
“Iya Nyonya.”
“Kemana cucuku pergi? Aku sangat menyesal sudah membentaknya, apa dia baik-baik saja?”
“Nona saat ini pergi ke salah satu kota.”
“Kemana? Kenapa dia pergi, aku hanya membentak tadi, tidak benar-benar mengusirnya.”
“Anda tidak perlu khawatir Nyonya, semoga saja Nona Nisa cepat kembali.”
“Huft... baiklah,” sahut nenek pasrah.
“Maafkan Nenek Nisa, nenek sungguh menyesal sudah membentakmu,” lirihnya.
Setelah selesai menghubungi Toni, nenek melihat sang cicit yang sudah tertidur karena pengaruh obat. Suhu badannya sempat panas pagi ini, saat ini sudah kembali turun.
***
Pesawat mendarat dengan sempurna.
Setelah keluar dari pesawat, Nisa mencari taksi di sekitar bandara yang akan mengantarnya menuju ke alamat tersebut.
“Permisi, apa anda tahu alamat ini?” tanya Nisa kepada sopir taksi.
Pria tersebut membaca tulisan alamat yang ada di kertas tersebut.
“Tahu, tapi cukup jauh dari sini.”
“Apa bisa mengantar saya ke alamat ini?” tanya Nisa lagi.
“Iya bisa.”
Nisa masuk ke dalam mobil dan mendaratkan bokongnya dengan sempurna di kursi belakang.
Sopir tersebut, mengendarai mobilnya menuju ke alamat tersebut.
Tatapan kosong, Nisa memandang ke arah luar jendela. Rintik hujan melanda kota itu saat ini.
Badan terlihat sedikit kurus, matanya tampak cekung dan tampak menghitam seperti mata panda karena sudah tiga malam Nisa tak tidur.
Nisa sudah berusaha menghubungi Erwin dan berulang kali ke rumahnya, namun Erwin tak kunjung kembali.
Ditambah lagi pagi ini, ia di bentak oleh neneknya sendiri.
Nisa tidak membenci neneknya, karena dirinya memang bersalah.
“Apa masih jauh?” tanya Nisa.
Sudah cukup lama perjalanan mereka, akan tetapi tidak kunjung tiba di alamat tersebut.
“Sebentar lagi Nona. Ini sudah masuk jalan yang ada di kertas ini.”
“Oh...” sahut Nisa.
Sang sopir melihat Nisa dari kaca, sesekali tampak Nisa menyeka air matanya yang keluar begitu saja.
“Sepertinya dia sedang bersedih,” gumam sopir dalam hati.
“Nona, ini minum dulu.”
Sang sopir menyerahkan botol air mineral yang masih bersegel.
Nisa tampak ragu untuk mengambilnya.
“Jangan khawatir Nona, saya bukan orang jahat.”
Sang sopir taksi, mengerti apa yang dipikirkan oleh Nisa.
Nisa tersenyum, lalu mengambil botol air tersenyum. Nisa membuka tutupnya dan meminumnya hingga menghabiskan setengah botol.
__ADS_1
Ia begitu sangat haus, sejak tadi pagi tidak ada makanan dan air minum sama sekali yang masuk ke dalam perutnya.
“Kita sudah tiba di alamat ini, nona.”
“Benarkah?”
Nisa melihat lagi kertas tersebut dan benar saja dengan alamat yang sama.
Nisa memberikan ongkos kepada sopir taksi tersebut, lalu keluar.
Ia melihat di hadapannya kantor yang tidak terlalu besar, bahkan hanya mempunyai tiga lantai saja.
Nisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia langsung menuju ke meja resepsionis.
“Permisi,” sapa Nisa.
“Iya. Apakah anda bernama Anisa?” tanya karyawan tersebut.
Nisa mengernyit keningnya heran, dari mana mereka tahu namanya. Apakah Erwin sudah mengetahui kedatangannya? Pikirnya.
“Iya,” sahut Nisa tampak bingung.
“Anda yang melamar pekerjaan disini?” tanyanya lagi.
Nisa baru mengerti, jika ada pelamar pekerjaan di kantor ini dengan nama yang sama dengan dirinya.
“I-iya,” ucap Nisa berbohong.
Ini kesempatan pikirnya.
“Oh ya... apa bos kalian disini yang bernama Erwin?” tanya Nisa.
Karyawan tersebut menatapnya bingung, lalu mengangguk perlahan.
Nisa bernapas lega.
“Silahkan naik ke lantai atas, untuk melakukan interview terlebih dahulu,” tutur karyawan tersebut dengan ramah.
Nisa mengangguk.
“Terima kasih,” sahutnya.
Nisa melangkah menuju ke lantai atas. Tidak lama kepergian Nisa, datang seseorang perempuan yang bertanya ke meja resepsionis.
“Maaf, apa nama saya sudah di panggil?”
“Namanya siapa?” tanyanya.
“Nama saya Anisa,” sahutnya.
“Anisa?” tanyanya memastikan.
Wanita tersebut mengangguk, karyawan tersebut mencocok data yang ada di dalam berkas lamaran tersebut.
“Astaga! Jadi... perempuan yang tadi siapa?” gumamnya bingung.
Setelah tiba di lantai tiga, Nisa melihat sekeliling dimana letak ruangan Erwin.
Kebetulan ada seorang pria yang baru saja keluar dari ruangan.
“Permisi. Ruangan Pak Erwin dimana?”
“Ini,” sahutnya menunjuk pintu yang baru saja dia keluar.
“Terima kasih,” ucap Nisa.
Saat hendak membuka pintu ruangan, tangannya di tahan oleh seseorang.
“Anda siapa? Orang tidak berkepentingan di larang masuk ruangan ini!”
“Saya ada perlu dengan Pak Erwin.”
“Anda harus membuat janji terlebih dahulu!” tegasnya.
Nisa tidak peduli, ia tetap ingin membuka pintu tersebut.
“Apa kau punya telinga?! Apa kau tidak mendengar apa yang ku katakan!” bentak satpam.
Karena sebelumnya satpam tersebut di beritahu oleh penjaga resepsionis, jika ada perempuan yang tidak di kenal masuk tanpa ijin.
Satpam tersebut menarik tangan Nisa dengan kasar, lalu membawanya untuk turun.
“Aw... sakit! Lepaskan tanganku!” teriak Nisa.
Nisa mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman pria tersebut.
“Lepas!” bentak Nisa.
“Sebelum kau keluar dari sini, aku tidak akan melepaskanmu!” semakin mengeratkan genggamannya.
“Ada apa ini?” tanya seseorang dengan sedikit berteriak.
Karena mendengar keributan, Dion keluar dari ruangan.
__ADS_1
Dion terkejut, wanita yang di tarik oleh satpam adalah Nisa.
“Nisa. Dia disini?” lirih Dion.
“Maaf Pak. Wanita ini masuk tanpa izin.”
“Lepaskan dia,” perintah Dion.
“Tapi Pak...”
“Dia temanku, lepaskan dia!” sela Dion.
Satpam langsung terpaku, ia langsung melepaskan genggamannya.
“Mati aku,” gumamnya dalam hati sambil menelan saliva kasar.
“Dion.”
“Iya. Kau disini? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Dion juga terlihat khawatir.
Perubahan dari Nisa cukup membuat Dion terkejut, badan terlihat kurus dari sebelumnya.
“Aku tidak membawa ponsel. Dimana Erwin? Aku ingin bertemu dengannya,” tanya Nisa.
“Ikut denganku,” ucap Dion.
Ia menarik tangan Nisa pelan, membawanya masuk ke ruangan.
Saat di dalam ruangan, langkahnya terhenti. Netranya menatap Erwin yang sibuk menandatangani berkas.
“Erwin,” panggil Dion.
“Hm...”
“Ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap Dion.
“Siapa?” tanya Erwin yang masih fokus dengan berkasnya.
“Ini...” ucap Dion.
Erwin masih enggan mengalihkan netra dari berkas tersebut.
“Sebentar!” sahutnya.
Erwin meletakkan berkas tersebut di atas tumpukan berkas yang lainnya dan langsung mengalihkan pandangannya ke sampingnya.
Erwin terpaku melihat wanita yang berdiri di depan pintu, mereka saling bertatapan.
“Kalian berbicaralah,” ucap Dion langsung keluar meninggalkan mereka.
“Nisa, kau kah itu?” tanya Erwin untuk memastikan.
“Maaf...” lirih Nisa bersamaan dengan air matanya keluar.
Erwin melangkah maju mendekatinya.
“Ini kau, Nisa?” tanyanya lagi untuk memastikan.
Menggapit kedua pipi Nisa dengan kedua tangannya agar melihat wajah Nisa dengan jelas, Nisa langsung mengangguk.
Tak dapat di ungkiri, jika Erwin sangat merindukan Nisa. Namun, gengsinya terlalu tinggi saat ini.
“Ada apa kau kemari?”
Erwin melepaskan tangannya lalu berpaling membelakangi Nisa.
“A—aku minta maaf,” ucap Nisa lagi.
Terdengar helaan napas Erwin.
“Aku sudah memaafkan mu. Sekarang pulanglah, Reyhan di rumah menunggumu,” ucap Erwin lembut.
“Aku tidak akan pulang sebelum kau memaafkan ku,” ucap Nisa bersikeras.
“Aku sudah katakan, aku sudah memaafkan mu.”
Nisa melangkah mendekati Erwin, agar lebih leluasa melihat wajahnya.
“pulanglah.”
Nisa menggelengkan kepalanya.
“Lalu... apa maumu?” Tanya Erwin yang mulai kesal.
“Nenek sudah mengusirku,” lirih Nisa.
Erwin mengerutkan keningnya.
“Jika aku tidak membawamu kembali, aku tidak di perbolehkan untuk bertemu dengan putraku.”
Lagi-lagi Erwin di buat kecewa oleh sikap Nisa, ia datang hanya karena nenek, bukan untuk mencarinya.
.
__ADS_1
.
.