
“Bara,” panggil paman menyentuh bahunya.
Bukannya menjawab, Bara sibuk dengan lamunannya.
“Kau mendengarkan aku bicara?”
“Hah, iya paman.”
Bara melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Paman, aku sudah hampir terlambat pergi bekerja. Aku akan ke rumah paman sepulang bekerja nanti,” ucap Bara.
“Kita sarapan bersama, paman. Istriku sudah menyiapkannya,” ajak Bara.
“Tidak. Maaf bukannya menolak, paman ada meeting pagi ini. Paman sarapan di kantor saja,” tolak pamannya.
“Paman tunggu di apartemen, Bara. ada hal penting yang harus paman katakan,” Ucap pamannya menepuk pelan bahu Bara.
“Iya paman,” sahut Bara.
Bara mengantar pamannya hingga ke teras, setelah menghilang dari pandangannya Bara kembali masuk menemui istrinya.
“Sayang,” panggil Bara.
“Iya, ayo kita sarapan. Loh, paman dimana?” tanya Nisa melihat suaminya hanya datang sendiri.
“Paman ada meeting dadakan pagi ini, kita akan ke apartemennya nanti sore.”
Bara hanya mengambil sepotong roti, dan langsung memasukkan semua ke mulutnya hingga membuatnya kesulitan untuk bicara.
“Sayang, ak---.”
“Bicara apa sih mas? Habiskan dulu makanannya!” protes Nisa.
Bara menghabiskan makanan yang ada di dalam mulutnya, dan meminum teh hijau yang di buatkan oleh istrinya hingga setengah.
“Maaf sayang, aku sangat buru-buru. Aku harus pergi sekarang,” ucap Bara sambil menyapu mulutnya dengan tisu.
“Iya. Ini bekal makan siangmu,” ucap Nisa memberikan tas kecil berisi bekal makanan.
“Seperti anak TK saja,” gumam Bara.
Namun, terdengar oleh Nisa membuatnya memicingkan matanya.
“kamu bilang apa!?” Tanya Nisa melototkan matanya dengan menaikkan kedua tangannya ke atas pinggangnya.
“Tidak sayang, aku hanya bercanda,” ucap Bara cengengesan.
“Oh iya sayang, bersiaplah nanti sore, setelah aku pulang kita langsung berangkat,” ucap Bara melangkah keluar rumah dengan di ikuti oleh istrinya dari belakang.
__ADS_1
“Memangnya pulang jam berapa?”
“Jam lima sayang,” sahut Bara menghadap istrinya ketika sudah di teras rumah.
“Iya, tapi kita jadikan ke makam orang tua kita?” tanya Nisa memastikan.
“Iya, sayang. Kita ke makam terlebih dahulu, setelah itu kita lanjut ke apartemen paman,” ucap Bara.
Nisa mengangguk tersenyum, lalu mengambil tangan suaminya dan menciumnya. Begitupun Bara mencium kening istrinya dan bibir istrinya sekilas.
Ketika hendak memasuki mobil, langkahnya terhenti ketika sang istri memanggilnya kembali.
“Mas,” panggil Nisa.
“Ada apa sayang? Apa ada yang tertinggal,” tanya Bara heran.
“Mas, Apa kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu terlihat pucat?” tanya Nisa memperhatikan wajah suaminya.
“Aku baik-baik saja sayang. Mungkin hanya sedikit nervous, karena baru pertama kali bekerja,” ucap Bara berbohong.
“Oh.. Semangat kerjanya, aku menantimu dirumah,” ucap Nisa tersenyum simpul.
Mendengar itu, Bara meletakkan tasnya di dalam mobil. Lalu menghampiri istrinya dan memeluknya erat.
“Kau ini, membuatku malas untuk berangkat kerja,” ucap Bara gemas.
“Awas kau nanti malam!” ancam Bara melepaskan dekapannya.
Membuat Nisa terkekeh, melihat wajah suaminya. Lalu Bara benar-benar pergi meninggalkan istrinya untuk berangkat bekerja.
“Hati-hati di jalan,” ucap Nisa melihat suaminya menurunkan sedikit kaca mobilnya.
Bara mengangkat jempolnya, dan berlalu pergi.
Setelah mobil suaminya hilang dari pandangannya, Netranya beralih ke rumah Erwin yang tertutup rapat.
Ada rasa rindu dengan temannya, Nisa menarik nafas pelan lalu membuangnya. Andai saja waktu itu Erwin tidak mengungkapkan isi hatinya, pasti sekarang masih berteman baik pikirnya.
Di perjalanan menuju kantor, bara merasakan kembali kepalanya terasa sakit. Ia sempat menghentikan mobilnya, karena merasa sudah tidak mampu untuk menyetir. Pelan-pelan memijat dahinya dan tetap berusaha tenang.
Dirasa sudah merasa baikkan, Bara kembali melanjutkan perjalanan.
Selang beberapa menit, Bara tiba di kantor tempatnya bekerja. Masih terasa pusing, akan tetapi ia tahan karena ini pertama kalinya masuk bekerja dan tidak ingin mengecewakan atasannya.
Bara memperkenalkan dirinya kepada karyawan yang ada di ruang briefing, ada beberapa wanita yang tidak berkedip melihat ketampanan Bara.
Setelah selesai memperkenalkan diri, Bara masuk ke dalam ruangan nya. Dan mulai membuka komputer yang sudah tersedia di meja.
Bara mencoba membaca tulisan yang ada di layar komputer tersebut, namun tidak bisa. Hingga menyipitkan kelopak matanya, akan tetapi ia tak mampu membacanya.
__ADS_1
“Ada apa dengan mataku?” batin Bara.
Ia mengambil kaca mata bacanya dari dalam tas miliknya dan memakainya.
“Ini lebih baik,” gumamnya.
“Mungkin minusnya bertambah,” ujarnya lagi.
Terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
“Masuk,” ucapnya sedikit menaikkan oktafnya agar terdengar dari luar.
“Selamat pagi pak Bara,” ucap seseorang yang tidak lain adalah atasannya.
“Pagi pak,” ucap Bara langsung berdiri dari duduknya.
“Tidak perlu berdiri pak, silahkan duduk kembali.”
Ia pun ikut duduk di kursi di samping Bara.
“Selamat bergabung di perusahaan ini. Saya mohon kerja samanya pak Bara.”
“Iya pak, saya usahakan.”
“Oh ya, kalau saya tidak salah, kau bukanya anak pak Burhan ya? Maaf kalau saya salah.”
“Iya bapak tidak salah, memang benar saya anak kandung dari pak Burhan.”
“Saya heran, kenapa kamu mau kerja disini? Bukan kah perusahaan milik ayahmu lebih besar? Apa kau mempunyai niat yang terselubung.” Ucap atasannya tanpa basa basi.
“Maaf pak sebelumnya. Memang benar ayah saya mempunyai perusahaan, tapi bukan milik saya! Perusahaan tersebut milik ayah dan paman saya, mereka bekerja sama membangun perusahaan itu.”
“Saya ingin berdiri sendiri, untuk menafkahi istri saya. Itu saja, tidak ada niat jahat sama sekali pak,” tambah Bara lagi.
“Tapi kamu kan juga berhak atas perusahaan itu, setelah ayah mu tiada kamu pemiliknya juga karena kamu anaknya.”
“Kenapa dengan orang ini? Apa dia tidak mempunyai kerjaan, hingga mengurus diriku!” batin Bara sedikit kesal.
“Tidak pak. Saya ingin berdiri dengan hasil jerih payahku, tidak ingin dengan warisan,” ucap Bara penuh penekanan namun dengan sopan.
“Oh begitu. Baiklah selamat bekerja, semoga betah di perusahaan ini,” ucapnya menepuk pelan bahu Bara dan berlalu pergi.
“Huft, ada-ada saja,” gumam Bara setelah melihat kepergian atasannya.
.
.
.
__ADS_1