Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 143


__ADS_3

Di hotel.


Erwin dan Nisa baru saja selesai mandi, karena selesai Shalat subuh mereka menghabiskan berdua di atas tempat tidur.


“Sayang, aku sudah memesan makanan untuk kita sarapan.”


“Iya,” sahut Nisa sambil merapikan pakaian mereka, karena mereka akan pulang ke rumah mereka.


“Sayang, aku ke balkon dulu. Ada pekerjaan sebentar,” pamit Erwin sembari memberi ciuman di pipi istrinya.


Nisa mengangguk.


Selesai merapikan pakaian mereka, Nisa duduk di tepi kasur sambil membuka ponselnya.


Terlihat ada pesan masuk dari ibu mertuanya.


“Jam berapa pulang? Mami sudah masak makanan kesukaan kalian,” ujar Bu Anita.


Nisa membalas pesan dari ibu mertuanya.


“Iya, Mi. Tunggu Erwin masih ada pekerjaan sebentar,” sahutnya.


Ibu mertuanya membalas dengan emoji jari jempol.


Tok! Tok!


Nisa mendengar ketukan pintu.


“Itu pasti makanan yang datang,” tebak Nisa.


Sebelum beranjak, Nisa mengambil beberapa lembar uang yang ada di dalam dompetnya.


Ceklek!


Nisa membuka pintu dan benar saja yang datang adalah karyawan hotel yang mengantar makanan untuk mereka.


“Terima kasih,” ujar Nisa.


Melihat karyawan hotel tersebut sudah meletakkan beberapa makanan di meja, Nisa langsung memberikan beberapa uang lembar tersebut.


“Terima kasih banyak Nona,” ujarnya.


“Sama-sama,” sahut Nisa.


Setelah melihat kepergian mereka, Nisa langsung menutup pintu kamar itu kembali dan menguncinya.


Melirik suaminya yang sedang menerima telepon. Ia membawa sarapan mereka untuk makan di balkon, pemandangan yang cukup indah dengan menghadap ke laut.


“Hubby,” panggil Nisa setelah melihat suami menutup panggilannya.


“Iya, sayang.”


Erwin langsung berbalik badan, karena sebelumnya ia membelakangi Nisa.


“Sarapan dulu yuk,” ajak Nisa meletakkan sarapan mereka di meja yang ada di balkon.


“Iya,” sahut Erwin.


Bukannya mengambil makanan, Erwin malah memeluk istrinya yang sibuk menyajikan untuknya.


“Sayang,” bisik Erwin.


“Ada apa?” tanya Nisa membalikkan badannya.


“Sepertinya kita harus berpisah untuk sementara waktu!”


Nisa mengerutkan keningnya.


“Kenapa?” tanya Nisa.


“Aku harus kembali ke Kalimantan, proyek kemarin yang sedang berlangsung mengalami masalah.”


“Oh, kapan berangkat?” tanya Nisa.


“Mungkin tiga hari lagi,” imbuhnya.


“Iya,” sahut Nisa.


“Apa kau tidak ingin ikut bersamaku?”


“Sebenarnya aku ingin ikut bersamamu. Tapi, bagaimana dengan disini, Reyhan sekolah bahkan aku juga harus ke kantor,” sahut Nisa.


“Iya juga ya.”

__ADS_1


Erwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Sarapan dulu, nanti kita pikirkan bagaimana baiknya.”


“Baiklah sayang,” sahut Erwin kembali ke posisinya duduk, karena sebelumnya ia masih memeluk istrinya tersebut.


Mereka sarapan bersama di balkon, sambil melihat pemandangan. Sesekali mereka menyelipkan canda dan tawa mereka.


Setelah sarapan, Nisa menyisihkan piring kotor mereka. Ia ikut duduk bersama suaminya yang masih berkutat dengan laptopnya.


“Hubby,” panggil Nisa.


“Hm,” deham Erwin masih menatap layar laptopnya.


“Apa kita akan tinggal di rumah mu?” tanya Nisa.


Erwin menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu menatap istrinya.


“Sekarang orang tuaku ada dirumah. Untuk sementara waktu, kita tinggal di rumahku. Saat mereka kembali ke luar negeri, kita akan kembali ke rumah Nenek. Bagaimana?”


“Iya, aku setuju. Karena masih berat meninggalkan Nenek sendiri di rumah,” imbuhnya.


“Iya, aku mengerti.”


Cup!


Nisa memberi ciuman di pipi suaminya.


“Sayang, jangan memancingku! Aku sedang ada pekerjaan,” celetuk Erwin.


Nisa terkekeh melihat suaminya.


“Iya, maaf.”


“Sebentar lagi pekerjaan ku selesai. Bersiap lah, kita akan pulang.”


“Iya, Hubby.”


Erwin kembali mengerjakan pekerjaannya yang tinggal sedikit, sedangkan Nisa masuk ke dalam untuk berganti pakaian dan memberi sedikit polesan di wajahnya.


Setelah selesai, Erwin menutup laptopnya dan masuk ke kamar menemui istrinya.


“Sayang, apa kau sudah siap?” tanya Erwin yang baru masuk.


“Sayang, kenapa kau dandan begitu cantik? Siapa yang mau kau goda?”


“Memangnya siapa yang mau aku goda?! Aku hanya berdandan seperti biasanya!” ketus Nisa.


“Mana aku lihat!” pungkas Erwin meletakkan laptopnya.


Ia menghampiri istrinya, menghapus lipstik di bibirnya menggunakan tisu.


“Ini apa? Kau bilang hanya sedikit, ini sangat menor!”


Nisa hanya pasrah dengan memasang wajah cemberut.


“Jangan cemberut begitu. Apa mau ku gigit?”


“Apaan sih!” sahut Nisa.


“Nah begini kan cantik.”


Erwin meletakkan kedua lengannya di bahu istrinya.


“Aku hanya tidak mau orang lain memandang istriku, selain aku. Apalagi kau berdandan seperti ini, kau boleh berdandan hanya di depanku. Oke!”


Nisa mengangguk pelan.


“Maafkan aku sayang,” bisik Erwin memeluk istrinya.


Nisa tersenyum lalu membalas dekapan suaminya.


“Ayo kita pulang. Mami sudah kirim pesan, katanya sudah memasak makanan enak dan Mami juga punya kabar bahagia.”


“Kabar bahagia? Kabar bahagia apa?” tanya Erwin.


Nisa mengangkat kedua bahunya, karena ia juga tidak mengetahuinya.


“Baiklah, ayo kita pulang.”


Nisa kembali mengangguk.


Erwin mengambil koper kecil milik mereka dan menggandeng tangan istrinya keluar kamar tersebut.

__ADS_1


***


Di rumah, Nenek Dira sedang duduk di balkon.


“Huftt, sepi juga gak ada Reyhan di rumah,” gumam nenek.


Berulang kali menghela napas.


“Reyhan sedang apa ya?” gumamnya lagi.


Terdengar ketukan dari luar kamar. Nenek berdecap kesal, karena terasa terganggu.


“Ck! Siapa lagi yang datang?” gumamnya.


“Sebentar!” ujar nenek setengah berteriak.


Ceklek!


“Mala. Ada apa Mala?” tanya nenek.


“Ada sopir dari keluarganya Tuan Erwin, Nyonya.”


“Sopir? Ada apa?” tanya nenek penasaran.


“Ingin menjemput Nyonya,” imbuh Mala.


“Menjemput ku? Kau jangan bicara setengah-setengah Mala!”


“Nyonya bisa bertemu dengannya langsung, karena saya di beritahu seperti itu Nyonya,” sahut Mala lembut.


“Baiklah. Dimana dia?” tanya nenek.


“Ada di ruang tamu, Nyonya.”


Nenek melangkah keluar kamar, sesampainya di ruang tamu, nenek melihat sopir dari keluarga Erwin yang sedang menunggunya.


“Maaf, Nyonya. Saya di perintah oleh Tuan besar untuk menjemput Nyonya.”


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan cucuku?” tanya nenek cemas.


“Tidak terjadi apa-apa dengan Nona. Tuan besar hanya meminta saya untuk menjemput Nyonya,” ucap sopir tersebut menjelaskan.


“Oh begitu. Tunggu lah, aku bersiap dulu.”


Sang sopir mengangguk.


Nenek Dira kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel dan tas kecil miliknya.


“Ayo, aku sudah siap,” ujar nenek.


Sang sopir membuka pintu mobil untuk nenek Dira.


Tiga puluh menit menempuh perjalanan, mereka tiba di rumah Erwin.


Nenek langsung masuk ke dalam rumah, karena kebetulan pintu tersebut sudah terbuka.


“Assalamualaikum, selamat siang!” sapa nenek Dira kepada orang tua Erwin yang sedang berbincang di ruang tengah.


“Waalaikumsalam,” sahut mereka bersamaan.


“Nyonya sudah datang. Silahkan duduk dulu Nyonya.”


“Iya terima kasih.”


“Eyang putri!” teriak Reyhan yang sedang bermain.


“Oh cicit Eyang. Eyang sangat merindukanmu sayang, di rumah sangat sepi tiada Reyhan,” ujar Nenek memeluk Reyhan.


“Maka dari itu saya mengundang anda untuk datang kemari, Nyonya.”


“Kita berkumpul bersama disini, bahkan istriku masak banyak hari ini,” ucap ayahnya Erwin.


“Iya, pak. Terima kasih,” sahut nenek.


“Kita sudah menjadi besan sekarang, jangan terlalu formal. Saya terlihat tua, jika Nyonya Dira memanggil saya dengan sebutan itu.”


Nenek dan Bu Anita tertawa kecil mendengar tutur ayahnya Erwin.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2