
“Kekecewaanmu itu tanpa alasan!” ketus Neneknya.
“Pasti ada alasannya Nek,” Sela Nisa.
“Tapi Nisa tidak memberitahu Nenek alasan dari kekecewaanmu itu! hingga mengorbankan anakmu yang tidak bersalah. Apa Nisa tidak kasihan pada Reyhan? Setiap hari selalu bertanya, dimana Papanya.”
Nisa terdiam, perkataan Neneknya itu benar adanya.
“Tapi, Papanya Reyhan bukan Erwin nek. Papanya ada, tapi Tuhan lebih sayang padanya,” lirih Nisa.
“Reyhan masih terlalu kecil dan ia pun belum mengerti, walaupun Nisa menceritakan yang kebenaran tentang papanya.”
“Nisa, jangan menyesal jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Reyhan,” tutur Nenek memberi nasihat.
“Maafkan Nisa nek. Nisa terlalu egois,” sahut Nisa.
Hening sejenak.
“Kekecewaan Nisa begitu besar terhadap Erwin. Dia menyembunyikan semua penyakit mas Bara, saat di rumah sakit. Dia tidak memberitahu Nisa, padahal Nisa ini istrinya mas Bara.”
“Dia menyembunyikan hal sebesar itu dari Nisa, nek!” tambah Nisa lagi.
Nenek diam, mencoba mengingat 7 tahun yang lalu. Nenek pun baru menyadari, jika ia pun ikut serta.
“Jika kamu kecewa terhadap Erwin, seharusnya itu juga berlaku kepada Nenek. Karena Nenek juga ikut menyembunyikannya.”
Nisa menoleh, menatap neneknya dengan sesama.
“Apa maksud Nenek?”
“Kamu pasti mengerti maksud Nenek. Kami tidak menyembunyikan nya, hanya menunggu waktunya yang tepat. Karena Dokter mengatakan, jika kandungan Nisa saat itu lemah. Namun, belum sempat kami mengatakannya, Bara pergi untuk selamanya.”
“Jadi ..., jangan menyalahkan Erwin saja dalam hal ini. Karena kami semua bersalah menyembunyikannya,” tambah nenek Dira lagi.
“Biar kamu tahu yang sebenarnya. Setelah kepergian untuk menemui dokter saat itu, Erwin datang ke ruang itu. Bara berbicara banyak. Salah satunya menitipkan calon anak mu kepadanya, dan meminta Erwin berjanji untuk memberikannya kasih sayang sebagai seorang Ayah kepada putramu.”
Nisa terdiam mendengar penjelasan Neneknya, seakan tidak percaya apa ya katakan oleh Neneknya barusan.
“Jadi ... kamu masih menyalahkan Erwin sekarang?! Sungguh malang nasib anak itu,” ucap Nenek Dira berdecap kesal.
“Terserah Nisa, jika tidak percaya! Nenek sudah menceritakannya semua, walaupun Erwin sudah melarang sebelumnya.”
Lalu beranjak meninggalkan Nisa yang masih terdiam di balkon tersebut.
“Nenek, Apa ...” ucapannya terhenti ketika melihat Nenek sudah tidak ada di sampingnya.
“Huft! Apa yang harus ku lakukan? Kepala ku sangat pusing sekali, memikirkan ini,” gumam Nisa memijat pelipis kepalanya, dengan menggunakan jari telunjuknya.
***
Keesokan paginya, sudah pukul delapan pagi. Erwin masih betah dalam selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
Tok, tok, tok!
Ketukan pintu kamar yang begitu keras, membuat tidur nyenyak Erwin menjadi terganggu, hingga membuatnya bergumam tidak jelas di balik selimut tersebut.
“Berisik sekali!” gerutu Erwin.
Ia terpaksa bangun dan melangkah gontai untuk membuka pintu kamarnya.
“Ada apa sih?! Berisik sekali!” geram Erwin melihat wajah Dion.
“Ini jam berapa? Apa kau tidak ke kantor hari ini?” tanya Dion memicingkan matanya.
__ADS_1
Erwin mengecilkan kelopak matanya, melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
“Ini baru jam delapan! Sedangkan meetingnya jam satu siang!” ucap Erwin penuh penekanan.
“Jadi pagi ini kau tidak ke kantor?”
“Tidak!” sahut singkat Erwin menggaruk kepala yang tidak gatal karena kesal.
“Kau tega sekali! Membiarkan ku berperang dengan tumpukan berkas, sedangkan kau tahu jika dua Minggu lagi aku akan menikah.”
Dion memasang wajah memelasnya.
“Huft ..., kau ini lebay sekali! Hanya untuk hari ini saja. Semua urusan pernikahan mu kan sudah ku serahkan kepada pihak WO, apalagi yang kau pusingkan?”
“Oh iya ya, hehehe aku lupa,” ucap Dion cengengesan.
“Huh dasar! Pergi sana kau bekerja, mengganggu saja!” kesal Erwin.
“Iya iya, disini kau bosnya!” gerutu Dion.
“Memang disini aku bosnya! Kenapa? Mau ku potong gajihmu?”
Dengan cepat Dion menggelengkan kepalanya.
“Jangan dong, pak direktur yang baik hati dan tidak sombong yang rajin menabung, tapi masih jomblo hingga sekarang,” ucap Dion terkekeh langsung berlari untuk menghindari pukulan dari Erwin.
“Sialan! Awas kau,” ancam Erwin dengan suara yang setengah berteriak.
Membuat Dion tertawa lepas, hingga terdengar oleh Erwin.
Erwin kembali menutup pintu kamarnya, berniat kembali tidur.
Namun, ia kesulitan untuk memejamkan matanya kembali.
“Aakrhh ...! sialan kau Dion, aku tidak bisa tidur lagi,” geram Erwin meninju bantal.
“Nek, Nisa berangkat dulu. Jangan melakukan perkerjaan apapun di rumah nek.”
“Iya,” sahut neneknya memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
Nisa mengulurkan tangannya, untuk mencium punggung tangan neneknya.
Setelah selesai berpamitan dengan neneknya, Nisa beralih ke putranya yang sibuk memakan roti bakar.
“Sayang. Mama berangkat kerja dulu ya, Reyhan bersama nenek dirumah ya.”
“Iya Ma,” sahut Reyhan dengan roti yang masih lebih di dalam mulutnya.
Nisa mencium kedua pipi gembul anaknya, lalu memeluknya. Begitupun Reyhan, ia mencium pipi Mamanya.
“Mama tinggal ya. Reyhan tidak boleh nakal, oke.”
“Iya Ma.”
Setalah berpamitan, Nisa dan Toni berangkat untuk ke kantor.
Setelah memastikan Nisa pergi, Nenek dan Reyhan bersiap untuk menemui Erwin, untuk menepati janjinya kepada cicitnya tersebut.
“Kita akan bertemu Papa, sekarang Eyang?” tanya Reyhan.
“Iya. Nanti jangan beritahu Mama ya. Oke?”
“Iya Eyang putri,” sahut Reyhan dengan senang.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap, mereka berangkat di antar sopir menuju kantor Erwin.
Hampir empat puluh menit menempuh perjalanan menuju kantor Erwin, karena harus melewati padatnya lalu lintas kota dipagi hari.
Di depan kantor Erwin, nenek Dira menggandeng tangan Reyhan untuk masuk menuju meja resepsionis.
“Permisi, apa Pak Erwin nya ada?” tanya Nenek dengan ramah.
“Maaf. Apa sudah punya janji sebelumnya?”
“Belum. Saya ingin bertemu, ini sangat penting. Katakan padanya Reyhan ingin bertemu,” sahut Nenek Dira.
“Baik, mohon di tunggu Nyonya. Saya akan mencoba menghubungi sekretaris di lantai atas.”
Nenek Dira mengangguk, lalu mengajak Cicitnya untuk duduk di sofa yang tersedia.
Tampak wanita penjaga meja resepsionis tengah sibuk berbicara di telepon.
“Permisi Nyonya. Maaf, pak Erwin belum masuk kantor,” ucap wanita tersebut.
“Jam berapa kira-kira beliau masuk kantor?”
“Sekitar jam 1 siang, Nyonya.”
Tampak Nenek Dira berpikir sejenak, melihat wajah sang cicit ia tak tega harus menunggu lagi. Nenek Dira berpikir, akan membawa Reyhan langsung ke rumah Erwin.
“Apa ada asistennya?”
“Ada, Nyonya.”
“Apa boleh aku berbicara dengannya?”
“Boleh, saya bantu hubungi. Maaf dengan Nyonya siapa?”
“Katakan saja dengan Nenek Dira.”
“Baik, tunggu sebentar nyonya.”
Wanita tersebut, kembali menghubungi Asisten Erwin.
“Nyonya, sudah tersambung. Silahkan berbicara,” ucap wanita tersebut menyerahkan telepon tersebut.
“Iya, terima kasih.”
“Halo Dion.”
“Iya, Nyonya,” sahut Dion suaranya terdengar dari balik telepon.
“Apa aku boleh meminta alamat rumah Erwin. Aku ingin menemuinya, Reyhan sejak kemarin ingin menemui Papanya.”
Wanita penjaga resepsionis tersebut mengerutkan keningnya, setahunya Bosnya belum menikah. Namun, tidak mau ambil pusing.
“Baik Nyonya. Mohon tunggu sebentar Nyonya, lima menit saya akan turun.”
“Terima kasih Dion maaf merepotkan mu.”
“Itu sudah tugas saya Nyonya. Saya tutup dulu, Nyonya," pamit Dion.
"Iya terima kasih."
Dion mengakhiri panggilannya, dan bergegas untuk menemui nenek Dira. Namun, ia tidak lupa untuk menuliskan alamat rumah Erwin di kertas kecil terlebih dahulu.
.
__ADS_1
.
.