Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 98


__ADS_3

Setelah selesai membeli obat, Nisa kembali melangkah menuju mobilnya yang terparkir.


Tapi, sebelum ia masuk mobil. Nisa kembali melirik ke arah restoran tersebut. Namun, ia tak melihat lagi mereka disana.


Huft ..., Nisa menghela napas berat.


Nisa kembali mengendarai mobilnya, untuk kembali ke rumah Neneknya.


“Mas, aku sangat merindukanmu. Sudah lama aku tak berkunjung ke makam,” gumam Nisa dalam hati, sambil mengendarai mobil pelan.


“Aku akan berkunjung besok mas, bersama dengan putra kita,” tambahnya lagi.


Beberapa menit kemudian, Nisa tiba di rumah besar neneknya. Ia kembali memarkirkan mobilnya di garasi.


Karena mendengar suara deru mobil, pelayan dengan cepat membukakan pintu.


“Terima kasih Bi,” ucap Nisa.


Asisten rumah tangga tersebut mengangguk.


“Sama-sama Nona.”


“Apa Reyhan sudah bangun?” tanya Nisa melihat Art nya mengikutinya dari belakang.


“Sudah Nona.”


“Pasti dia mencariku,” tutur Nisa percaya diri dan mempercepat langkahnya.


“Reyhan sempat menangis Nona. Ia selalu memanggil Papanya.”


Langkah Nisa langsung terhenti, mendengar ucapan Art tersebut.


“Ck ...! kau sudah meracuni pikiran anakku, Erwin!” geram Nisa dalam hati.


Nisa kembali melanjutkan langkahnya, menuju kamar mereka.


“Hai sayang,” sapa Nisa melihat putranya makan di suapi oleh Eyangnya.


“Mama ...” panggil Reyhan dengan makanan yang penuh di mulutnya, hingga kesulitan untuk berbicara.


“Anak Mama sudah bangun ternyata. Apa kepalanya masih pusing, sayang?” tanya Nisa langsung duduk di samping putranya, lalu mengecek suhu tubuhnya dengan menggunakan telapak tangannya.


Reyhan menggeleng, bahwa dia sudah tidak merasakan pusing lagi.


“Setelah makan, minum obatnya ya.”

__ADS_1


Bukannya menjawab, Reyhan malah mengajukan pertanyaan hingga membuat Nisa semakin kesal terhadap Erwin.


“Ma. Papa mana? Kok gak pulang, Rey kangen Papa mah,” ucap Reyhan dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis.


Nisa dan neneknya saling bertatapan.


“Ma. Kapan Papa pulang?” tanyanya lagi sambil menggoyangkan tangan Mamanya.


“Cukup ya Rey. Kamu selalu bikin Mama pusing! Kamu tidak mengerti, jika Erwin itu bukanlah ...”


“Nisa ...!” teriak Neneknya.


“Apa yang kamu lakukan? Berani sekali kamu membentak cicitku!” bentak neneknya membuat Nisa langsung terdiam.


Nisa langsung tersadar, ketika melihat Reyhan yang langsung menangis, memeluk eyangnya karena ketakutan. Untuk pertama kalinya, Nisa berbicara nada tinggi kepada anaknya.


“Hu-hu-hu eyang, Rey takut eyang,” lirih Reyhan dalam pelukan wanita yang dipanggilnya tersebut.


“Jangan takut sayang. Ada eyang disini,” tuturnya lembut.


“Rey, maafkan Mama ...”


“Hu-hu-hu, Rey takut!”


Nenek menggelengkan kepalanya, dan memberi kode dengan matanya agar Nisa keluar terlebih dahulu, untuk memberi waktu Reyhan sejenak.


Nisa menghela napas berat, terpaksa ia beranjak dari duduknya dan melangkah ke balkon.


“Apa yang ku lakukan?” ucap Nisa penuh penyesalan karena tanpa sadar sudah membentak Putra semata wayangnya tersebut.


Di dalam kamar, tangisan Reyhan mulai tak terdengar lagi.


“Rey, sayangnya Eyang. Jangan marah sama Mama ya, Mama mungkin cape.”


“Mama sangat menyayangi Reyhan kok.”


Nenek Dira menatap wajah Reyhan, sambil mengusap sisa air matanya di pipi bocah tersebut.


Reyhan mengangguk.


“Eyang janji, akan membawamu untuk bertemu Papa besok. Tapi, Rey harus berjanji minum obat dulu. Oke,” tutur Nenek lembut.


“Benarkah Eyang?” tanya Reyhan dengan wajah yang sumringah.


“Iya sayang.”

__ADS_1


“Yeiii ..., ketemu papa besok,” teriak Reyhan kembali ceria.


“Sstt ..., ini rahasia kita berdua,” ucap Nenek Dira meletakkan telunjuknya di mulutnya.


“Iya nek,” sahut Rey dengan suara pelan.


Nisa yang dari balkon, menyunggingkan senyum di bibirnya. Melihat putranya tersebut kembali ceria, walaupun ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Karena terhalang oleh kaca. Tapi ia sangat bersyukur, putranya kembali ceria lagi.


Setelah selesai memberikan Reyhan obat, Nenek meminta Reyhan kembali beristirahat. Karena suhu tubuhnya masih terasa hangat.


Tak butuh waktu lama, Reyhan kembali terpejam Karena efek obat yang di berikan.


Nenek Dira melihat cucunya masih duduk di balkon, ia melangkah kan kakinya untuk menemui Nisa.


“Bagaimana keadaan Reyhan, nek? Apa dia marah kepadaku?”


“Tentu saja dia marah. Tapi aku memberinya pengertian!” ketus Nenek ikut duduk di samping cucunya.


“Maafkan aku Nek. Aku khilaf,” lirih Nisa.


“Iya. Ini yang pertama dan terakhirnya kamu membentaknya, Nenek tidak mau melihat cicit Nenek bersedih seperti tadi, kamu mengerti!”


“Iya Nek,” lirih Nisa mengangguk pelan.


“Nenek heran, ada apa sebenarnya terjadi? Sehingga kamu semarah itu!”


“Tidak ada Nek.”


“Jangan berbohong! Wajahmu itu tidak terbiasa berbohong! Apa semua ini ada hubungannya dengan Erwin? Nenek perhatikan, sejak kepergian Bara sikapmu langsung berubah kepadanya.”


Nisa masih terdiam.


“Baiklah jika tidak mau bicara! Nenek akan membawa Reyhan pergi dari rumah ini, agar kamu merasakan yang Erwin rasakan! Bagaimana rasanya merindukan seorang anak!” ancam Nenek.


“Kenapa Nenek membelanya? Cucu nenek aku atau dia? Bahkan Reyhan bukanlah anak kandung Erwin!”


“Apa sih yang membuatmu begitu bencinya kepada Erwin? Wajar Rey sangat dekat dengannya dan memanggilnya Papa. Karena Erwin memberikannya kasih sayang yang begitu besar, layaknya seorang Ayah.”


“Aku tidak membencinya Nek. Aku hanya kecewa kepadanya!”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2